Jumat, 16 Juni 2017

PERJALANAN MIMPI SANG PEMBELAJAR

PERJALANAN MIMPI SANG PEMBELAJAR
Oleh
Laely Farokhah
LPDP, empat huruf yang telah mengubah asa menjadi sebuah kenyataan. Mimpi yang pernah terbersit dalam doa dan harapan. Mimpi seorang pembelajar, sang freshgraduate yang berharap bisa menyambung pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mimpi yang bagi sebagian orang dianggap sulit untuk dicapai. Mimpi yang hari ini Allah wujudkan dengan kuasa-Nya. Man Jadda Wa Jadda. Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dialah yang akan berhasil.
Dua puluh enam Februari 2014, untuk pertama kalinya saya menerima sebuah brosur. Brosur berwarna kuning keemasan dengan tampak ekspresi seseorang yang tersenyum dengan bertuliskan “Beasiswa Magister Doktor”. Masih teringat jelas, tepat di acara Silaturahmi Mahasiswa Bidikmisi Nasional yang diadakan di sebuah hotel di Jakarta, saat itu untuk pertama kalinya saya mendengar “LPDP”. Saat itu pula mimpi melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 barulah sebatas keinginan. Seketika saya tersentak dan tersadar, rasanya bisa melanjutkan kuliah ke jenjang S1 melalui beasiswa Bidikmisi dan menyelesaikan kuliah dengan baik saja sudah menjadi sebuah nikmat yang luar biasa bagi seorang anak pedagang warung.
Setahun berlalu, tiba di awal tahun 2015, saat itu saya resmi menyandang status sebagai mahasiswa tingkat akhir, di hari itu saya kembali menuliskan mimpi “Kuliah S2 Beasiswa”. Sejak itu, saya mulai rajin memasukkan keyword “Beasiswa S2” ke dalam google. Tanpa sengaja kembali dipertemukan dengan empat huruf bertuliskan LPDP. Bersama teman sevisi, impian itu kembali diperjuangkan.
Tak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Tujuh dan delapan adalah angka semester terberat bagi saya. Bagaimana tidak, saat itu saya masih mengemban amanah sebagai pelayan masyarakat kampus di BEM REMA UPI Kampus Serang. Bahkan tak banyak orang yang memiliki anggapan positif terhadap aktifis kampus. Terkadang banyak yang beranggapan bahwa menjadi aktifis kampus hanya membuang-buang waktu dan mengabaikan kegiatan akademik. Akan tetapi, saya percaya, saat kita sibuk membantu menyelesaikan urusan orang banyak, maka biarkan Allah yang akan langsung mengurus urusan kita.
Di tengah hiruk-pikuknya aktifitas kuliah dan organisasi, saya masih harus rela membagi waktu istirahat untuk mengajar les di malam hari demi memenuhi biaya hidup di tempat rantau. Perjuangan terbesar pun dimulai saat saya menyadari bahwa kemampuan bahasa inggris seperti memiliki magnet yang kuat dengan setiap persyaratan beasiswa S2, termasuk LPDP. Lebih tepatnya dengan istilah “TOEFL”. Akhirnya saya memutuskan untuk mengumpulkan tabungan hasil mengajar les dan menyisihkan sedikit uang beasiswa Bidikmisi untuk mendaftar les TOEFL. Malam-malam pun dilalui dengan melewati setiap soal TOEFL dengan sebuah harapan dan doa yang terus mengalir.
Tak terasa, semester 8 pun berakhir. 29 Juni 2015, Saya resmi menyelesaikan tugas akhir dan menyandang gelar sarjana pendidikan pada sidang yudisium. Saya memutuskan untuk pulang ke Cirebon dan mengabdi sebagai guru dan operator sekolah di sebuah Sekolah Dasar Negeri di Desa. Namun, Saat itu saya masih bertekad ingin mendaftar beasiswa LPDP. Meskipun tak jarang ada banyak perkataan yang terkadang mematahkan semangat dan harapan. Masih teringat jelas perkataan yang seolah menjadi cambukan “Mahasiswa freshgraduate jangan harap mudah untuk mendapatkan beasiswa S2, masih banyak orang di luar sana yang persiapannya jauh lebih matang”. Bagi saya, ini adalah sebuah kesempatan, siapapun boleh bermimpi dan memperjuangkan mimpinya. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftar beasiswa LPDP sebelum wisuda dan bermodalkan SKL (Surat Keterangan Lulus) dengan memilih jalur beasiswa afirmasi Bidikmisi batch II 2015.
Perjuangan tak semudah membalikkan telapak tangan. Waktu yang terhitung menuju batas pendaftaran akhir tanggal 24 Juli 2015 hanyalah tersisa 24 hari. Saya harus berjuang menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi. Pengorbanan terbesar adalah saat harus menuntaskan TOEFL. Sebuah pilihan yang sulit saat seluruh penyelenggara tes TOEFL menolak permohonan saya dengan alasan kuota yang sudah penuh. Hingga di ujung keputusasaan, terdengar suara di ujung sana mengatakan “masih tersisa 1 kursi di LPPM UNY dan jika berminat silahkan melakukan pembayaran hari ini”. Bak sebuah angin segar yang juga sebuah kabar buruk. Saat itu saya tidak memiliki uang untuk membayar tes TOEFL yang nominalnya hampir 70% dari uang beasiswa bulanan yang saya dapatkan. Qadarullah, Allah memberikan jalan melalui seseorang teman yang berbaik hati meminjamkan uang untuk bisa mendaftar tes TOEFL. Saya percaya, pertolongan Allah selalu ada bagi hamba-Nya yang mau berusaha.
Delapan Juli 2015, saya memutuskan untuk berangkat sendiri ke Jogja tepat seminggu sebelum lebaran. Bisa dibayangkan betapa mahalnya ongkos bis Cirebon-Jogja. Berbekal uang yang seadanya akhirnya saya memutuskan untuk naik turun bus dua kali dengan mengambil jalur Cirebon-Purwokerto lalu naik bus Purwokerto-Jogja demi menghemat uang meskipun dengan berbagai resiko. Serangkaian proses menggapai TOEFL bukanlah hal yang mudah, akhirnya setelah penantian panjang, tepat di 23 Juli sertifikat TOEFL saya baru keluar dengan skor yang memenuhi syarat beasiswa afirmasi. Tepat di hari itu pula adalah H-1 pendaftaran beasiswa. Pukul 03.00 WIB dini hari di hari terakhir pendaftaran akun saya resmi terdaftar mengukuti seleksi administrasi.
Berkat doa restu orang tua, saya lolos seleksi administrasi dan berkesempatan mengikuti seleksi substansi di Bandung. Sebuah perjuangan panjang pula perjalanan Cirebon menuju Bandung yang pada akhirnya membawa saya bisa melewati setiap tahapan proses seleksi. Bismillah, Lillahi ta’ala. Sepulang dari Bandung adalah pelajaran ikhlas dan tawakkal. Segala ikhtiar telah dilakukan saatnya bertawakkal mengharapkan yang terbaik. Hingga tak terasa mulai berganti bulan, sempat terlupa apa kabar hasil tes LPDP?
10 September 2015 adalah hari bersejarah, salah satu kado terindah yang pernah Allah berikan. Pada hari itu saya resmi menyandang gelar S.Pd, resmi menyelesaikan sebuah kewajiban besar orang tua dan negara sebagai seorang penerima beasiswa Bidikmisi. Bak mendapat rezeki durian runtuh. Tepat di tengah perjalanan pulang setelah menghadiri prosesi wisuda, Allah kembali memberikan kejutan. Sebuah pesan singkat bertuliskan pengirim “LPDP”. Serangkai kalimat tertulis di akun pendaftaran “Selamat Anda LULUS seleksi wawancara”. Fabiayyi aala irobbikuma tukadzibaan. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Alhamdulillah, saat ini saya sedang menempuh program Magister Pendidikan Dasar di UPI. Sebuah perjalanan panjang seorang freshgraduate yang mencoba untuk menaklukan rasa takut untuk mengambil kesempatan. Pepatah bijak mengatakan bahwa keberuntungan adalah pertemuan antara kesempatan dan kesiapan. Boleh jadi apa yang kita dapatkan di hari ini adalah hasil kebaikan yang kita tanam di masa lalu. Bagi saya, LPDP adalah sebuah jalan yang membuka kesempatan bagi mereka, para pemimpi yang bertekad untuk terus menjadi sang pembelajar yang siap kembali untuk mengabdi bagi nusa dan bangsa. Terima kasih LPDP ! Aku pasti Mengabdi !

Alhamdulillah, essay ini terpilih sebagai juara 3 dalam lomba penulisan kisah awardee yang diselenggarakan oleh kelurahan LPDP UPI :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar