Jumat, 16 Juni 2017

PERJALANAN MIMPI SANG PEMBELAJAR

PERJALANAN MIMPI SANG PEMBELAJAR
Oleh
Laely Farokhah
LPDP, empat huruf yang telah mengubah asa menjadi sebuah kenyataan. Mimpi yang pernah terbersit dalam doa dan harapan. Mimpi seorang pembelajar, sang freshgraduate yang berharap bisa menyambung pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mimpi yang bagi sebagian orang dianggap sulit untuk dicapai. Mimpi yang hari ini Allah wujudkan dengan kuasa-Nya. Man Jadda Wa Jadda. Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dialah yang akan berhasil.
Dua puluh enam Februari 2014, untuk pertama kalinya saya menerima sebuah brosur. Brosur berwarna kuning keemasan dengan tampak ekspresi seseorang yang tersenyum dengan bertuliskan “Beasiswa Magister Doktor”. Masih teringat jelas, tepat di acara Silaturahmi Mahasiswa Bidikmisi Nasional yang diadakan di sebuah hotel di Jakarta, saat itu untuk pertama kalinya saya mendengar “LPDP”. Saat itu pula mimpi melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 barulah sebatas keinginan. Seketika saya tersentak dan tersadar, rasanya bisa melanjutkan kuliah ke jenjang S1 melalui beasiswa Bidikmisi dan menyelesaikan kuliah dengan baik saja sudah menjadi sebuah nikmat yang luar biasa bagi seorang anak pedagang warung.
Setahun berlalu, tiba di awal tahun 2015, saat itu saya resmi menyandang status sebagai mahasiswa tingkat akhir, di hari itu saya kembali menuliskan mimpi “Kuliah S2 Beasiswa”. Sejak itu, saya mulai rajin memasukkan keyword “Beasiswa S2” ke dalam google. Tanpa sengaja kembali dipertemukan dengan empat huruf bertuliskan LPDP. Bersama teman sevisi, impian itu kembali diperjuangkan.
Tak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Tujuh dan delapan adalah angka semester terberat bagi saya. Bagaimana tidak, saat itu saya masih mengemban amanah sebagai pelayan masyarakat kampus di BEM REMA UPI Kampus Serang. Bahkan tak banyak orang yang memiliki anggapan positif terhadap aktifis kampus. Terkadang banyak yang beranggapan bahwa menjadi aktifis kampus hanya membuang-buang waktu dan mengabaikan kegiatan akademik. Akan tetapi, saya percaya, saat kita sibuk membantu menyelesaikan urusan orang banyak, maka biarkan Allah yang akan langsung mengurus urusan kita.
Di tengah hiruk-pikuknya aktifitas kuliah dan organisasi, saya masih harus rela membagi waktu istirahat untuk mengajar les di malam hari demi memenuhi biaya hidup di tempat rantau. Perjuangan terbesar pun dimulai saat saya menyadari bahwa kemampuan bahasa inggris seperti memiliki magnet yang kuat dengan setiap persyaratan beasiswa S2, termasuk LPDP. Lebih tepatnya dengan istilah “TOEFL”. Akhirnya saya memutuskan untuk mengumpulkan tabungan hasil mengajar les dan menyisihkan sedikit uang beasiswa Bidikmisi untuk mendaftar les TOEFL. Malam-malam pun dilalui dengan melewati setiap soal TOEFL dengan sebuah harapan dan doa yang terus mengalir.
Tak terasa, semester 8 pun berakhir. 29 Juni 2015, Saya resmi menyelesaikan tugas akhir dan menyandang gelar sarjana pendidikan pada sidang yudisium. Saya memutuskan untuk pulang ke Cirebon dan mengabdi sebagai guru dan operator sekolah di sebuah Sekolah Dasar Negeri di Desa. Namun, Saat itu saya masih bertekad ingin mendaftar beasiswa LPDP. Meskipun tak jarang ada banyak perkataan yang terkadang mematahkan semangat dan harapan. Masih teringat jelas perkataan yang seolah menjadi cambukan “Mahasiswa freshgraduate jangan harap mudah untuk mendapatkan beasiswa S2, masih banyak orang di luar sana yang persiapannya jauh lebih matang”. Bagi saya, ini adalah sebuah kesempatan, siapapun boleh bermimpi dan memperjuangkan mimpinya. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftar beasiswa LPDP sebelum wisuda dan bermodalkan SKL (Surat Keterangan Lulus) dengan memilih jalur beasiswa afirmasi Bidikmisi batch II 2015.
Perjuangan tak semudah membalikkan telapak tangan. Waktu yang terhitung menuju batas pendaftaran akhir tanggal 24 Juli 2015 hanyalah tersisa 24 hari. Saya harus berjuang menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi. Pengorbanan terbesar adalah saat harus menuntaskan TOEFL. Sebuah pilihan yang sulit saat seluruh penyelenggara tes TOEFL menolak permohonan saya dengan alasan kuota yang sudah penuh. Hingga di ujung keputusasaan, terdengar suara di ujung sana mengatakan “masih tersisa 1 kursi di LPPM UNY dan jika berminat silahkan melakukan pembayaran hari ini”. Bak sebuah angin segar yang juga sebuah kabar buruk. Saat itu saya tidak memiliki uang untuk membayar tes TOEFL yang nominalnya hampir 70% dari uang beasiswa bulanan yang saya dapatkan. Qadarullah, Allah memberikan jalan melalui seseorang teman yang berbaik hati meminjamkan uang untuk bisa mendaftar tes TOEFL. Saya percaya, pertolongan Allah selalu ada bagi hamba-Nya yang mau berusaha.
Delapan Juli 2015, saya memutuskan untuk berangkat sendiri ke Jogja tepat seminggu sebelum lebaran. Bisa dibayangkan betapa mahalnya ongkos bis Cirebon-Jogja. Berbekal uang yang seadanya akhirnya saya memutuskan untuk naik turun bus dua kali dengan mengambil jalur Cirebon-Purwokerto lalu naik bus Purwokerto-Jogja demi menghemat uang meskipun dengan berbagai resiko. Serangkaian proses menggapai TOEFL bukanlah hal yang mudah, akhirnya setelah penantian panjang, tepat di 23 Juli sertifikat TOEFL saya baru keluar dengan skor yang memenuhi syarat beasiswa afirmasi. Tepat di hari itu pula adalah H-1 pendaftaran beasiswa. Pukul 03.00 WIB dini hari di hari terakhir pendaftaran akun saya resmi terdaftar mengukuti seleksi administrasi.
Berkat doa restu orang tua, saya lolos seleksi administrasi dan berkesempatan mengikuti seleksi substansi di Bandung. Sebuah perjuangan panjang pula perjalanan Cirebon menuju Bandung yang pada akhirnya membawa saya bisa melewati setiap tahapan proses seleksi. Bismillah, Lillahi ta’ala. Sepulang dari Bandung adalah pelajaran ikhlas dan tawakkal. Segala ikhtiar telah dilakukan saatnya bertawakkal mengharapkan yang terbaik. Hingga tak terasa mulai berganti bulan, sempat terlupa apa kabar hasil tes LPDP?
10 September 2015 adalah hari bersejarah, salah satu kado terindah yang pernah Allah berikan. Pada hari itu saya resmi menyandang gelar S.Pd, resmi menyelesaikan sebuah kewajiban besar orang tua dan negara sebagai seorang penerima beasiswa Bidikmisi. Bak mendapat rezeki durian runtuh. Tepat di tengah perjalanan pulang setelah menghadiri prosesi wisuda, Allah kembali memberikan kejutan. Sebuah pesan singkat bertuliskan pengirim “LPDP”. Serangkai kalimat tertulis di akun pendaftaran “Selamat Anda LULUS seleksi wawancara”. Fabiayyi aala irobbikuma tukadzibaan. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Alhamdulillah, saat ini saya sedang menempuh program Magister Pendidikan Dasar di UPI. Sebuah perjalanan panjang seorang freshgraduate yang mencoba untuk menaklukan rasa takut untuk mengambil kesempatan. Pepatah bijak mengatakan bahwa keberuntungan adalah pertemuan antara kesempatan dan kesiapan. Boleh jadi apa yang kita dapatkan di hari ini adalah hasil kebaikan yang kita tanam di masa lalu. Bagi saya, LPDP adalah sebuah jalan yang membuka kesempatan bagi mereka, para pemimpi yang bertekad untuk terus menjadi sang pembelajar yang siap kembali untuk mengabdi bagi nusa dan bangsa. Terima kasih LPDP ! Aku pasti Mengabdi !

Alhamdulillah, essay ini terpilih sebagai juara 3 dalam lomba penulisan kisah awardee yang diselenggarakan oleh kelurahan LPDP UPI :)

Jumat, 28 April 2017

MALAYSIA I'M POSSIBLE

MALAYSIA, I’M POSSIBLE
Part IV, What will happen ?
Setiap keputusan pasti memiliki sebuah resiko. Resiko adalah bagian yang harus ditanggung sebagai akibat dari apa yang telah kamu pilih. Ya. Betul. Resiko harus selalu kamu jalani, sekalipun itu bukan hal yang diinginkan. Keputusan yang telah saya ambil tentu memiliki resiko. Saya telah memutuskan untuk “take it”, maka saya pun harus berani “take it” resikonya.
Malam itu, masih teringat jelas, setelah percakapan itu terjadi, entah rasanya mau apa. Tiket yang telah terbeli jelas tertulis Bandung – Johor. Lemes iya lemes. Udah mana mahal, salah beli lagi (heuheuu #curhat :’D). Terus gimana kan conference nya di KL ? Hmmmmm -__-
Eitss.. harus selalu ingat, setelah kesulitan ada kemudahan, dan setelah kesulitan ada kemudahan. Setelah dipikir dan dibolak balik itu tiket, akhirnya ketemulah solusinya. Beruntungnya tiket itu transit di Kuala Lumpur. Alhasil tanpa pikir panjang saya putuskan untuk tidak merubah tiket ataupun menelpon travel***. “Yaudah nanti turun aja di KL, gausah lanjut ke Johor”, sesimpel itu pikiranku.. wkwk. Entah rasanya enteng sekali memutuskan perkara ini tanpa berpikir panjang resikonya. Entahlah mungkin saya terlalu stress dan lelah memikirkan bagaimana caranya jumat sampai di KL.
CASE CLOSED !!! Besok CUSS :D *padahal belom packing apa-apa gara-gara ngurusin tiket, heuuu
***
Tibalah di suatu pagi yang cerah, senyum sumringah karena mau pergi ke negeri Jiran. Bangun tidur rasa gak punya beban. Padahal lho masih banyak masalah yang harus diselesaikan.
Pagi itu tepat jam 7 tanpa basa basi saya langsung berangkat menuju Bandara dengan diantar oleh teman. Nuhun sudah mau jadi juru angkut koper. Perjalanan lancar dan no problemo.

Sampe bandara yang pertama dicari adalah MONEY CHANGER. Iya, dimana money changer ? belum nuker uang :’D. Setelah keliling bandara akhirnya nemu 1 money changer yang udah buka. Akhirnya saya menukarkan uang rupiah dengan Ringgit Malaysia. TAPI ternyata saya tidak bisa menukarkan uang rupiah ke dalam Dollar. “Maaf mba, dollar US lagi gak ada”. LEMES dah LEMES. Mau bayar conference pake apa. Sempet gak ya nuker dollar di bandara KL ? Apa mau cari money changer di luar bandara ? mana sempet le, udah jam 08.30. Belum sarapan lagi, bentar lagi mau check in, haa masalah perut ini emang yang paling urgent. Jadilah keliling cari warteg yang buka. Etdaaah mana ada le. Finally beli apa aja dah yang buka. Oke SKIP dulu masalah uang USD.

Jumat, 13 Januari 2017

Part III, Big Mistake

MALAYSIA, I’M POSSIBLE

Part III, Big Mistake

Beberapa hari sebelumnya, tepat sebelum saya akhirnya memutuskan untuk pergi ke Malaysia, Mba Ayu sempat memberikan sebuah nomor kontak seseorang yang tinggal di Malaysia dengan harapan bisa banyak membantu saya ketika berada di Malaysia. Tepatnya beliau adalah saudara jauh yang berasal dari palembang yang sudah lama tidak bertemu. Nah, entah kenapa Mba Ayu tiba-tiba teringat dengan beliau ketika saya menyebutkan kata “Johor”. Akhirnya kedua saudara yang sudah lama terpisahkan itu kembali tersambung hanya karena urusan saya dan conference di Malaysia. Lucu yah, hehe

Masih di Kamis sore, saya mencoba untuk menghubungi nomor tersebut via chat di Whatsapp dan beberapa percakapan pun mulai terjadi. Hingga akhirnya beliau mengatakan “nanti malam saya telfon ya biar jelas”. Baiklah. Meskipun saya sempet mikir “emang ga mahal nelfon beda negara”, hehe. Singkat cerita, beliau pun ternyata beneran nelfon ke nomor saya. Well, awalnya hanya sebatas obrolan biasa, memastikan kapan saya berangkat, dan kapan saya tiba. Beliau pun kembali memastikan lokasi conference yang akan saya ikuti dan dengan pede-nya berkali-kali saya bilang “Lokasinya di Kampus Universiti Teknologi Malaysia (UTM)” JOHOR”.  Tapi, di tengah-tengah obrolan itu seketika saya tersentak ketika beliau mengatakan, “Eh UTM itu ada 2 kampus Lho !”.

WHAT ??? DEG ! *panik : mode on. “Iya, UTM itu ada 2 kampus, di Kuala Lumpur sama di Johor Bahru”. HAAAH ????? MASAAAAA ????

Tanpa pikir panjang saya langsung membuka email, memasukkan keyword di kolom search “AIC” dan muncullah “Letter of Acceptance”. Langsung saya buka dan cek, dan ternyataaaaaa... di surat hanya tertulis Universiti Teknologi Malaysia. Tapiiiii... di lampiran surat tertera hotel dan lokasi wisata yang merujuk ke Kuala Lumpur. Dengan nada sedikit resah, saya pun menyimpulkan “iya kak, kayaknya itu di kampus KL deh :’(“.

“Oke, jangan panik ! saya coba tanya dulu ke grup PPI Malaysia yang dari kampus UTM”. Beliau mencoba membantu dengan menghubungi beberapa mahasiswa yang tergabung ke dalam PPI Malaysia untuk memastikan lokasi conference tersebut.

What ? Salah beli tiket ? OMG !!! That’s a big mistake Laely ! (huhu, jangan ditiru guys).

So, ternyata bener kenyataannya saya salah beli tiket , hikss.. kenapa ? kok bisa ???!! Oke, kita flash back ke belakang dulu ya, hehe

Jadi..ceritanya, dua hari sebelum saya memutuskan untuk berangkat ke Malaysia, saya mencoba mencari-cari nomor kontak teman di Malaysia, berharap ada seseorang yang dengan sukarela bisa membantu sebagai tour guide di sana. Seketika saya teringat kepada seorang teman yang baru dikenal 2 bulan yang lalu di kampus. Yes, dia adalah mahasiswa pascasarjana di kampus Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Tepat di Oktober lalu, UPI bekeja sama dengan UKM menyelenggarakan sebuah conference yang mengangkat tema curriculum. Alhamdulillah, bersyukurnya saya dikelilingi oleh orang-orang baik yang selalu produktif. Saat itu saya mendapat sebuah kesempatan besar untuk bisa mengikuti conference tersebut dengan menulis paper bertiga dengan teh Vira. This is my first conference. Hatur Nuhun teh shaaay , hehe

Singkat cerita, saya berkenalan dengan seorang mahasiswi. Sebut saja Kak Syaidah. Malam itu entah kenapa tiba-tiba terlintas nama beliau. Tanpa pikir panjang saya pun langsung menghubungi beliau via sms. Tak lama kemudian, sebuah chat masuk ke akun WA di HP. Akhirnya sebuah percakapan pun terjadi dan muncullah sebuah saran “oh dik, kalau mau ke UTM adik pakai pesawat dari Bandung ke Johor saja, karena UTM itu di Johor”. Entah kenapa saya begitu yakin, JOHOR. Nah berawal dari situlah, akhirnya saya memutuskan “Oh berarti saya pesan tiket bukan ke kuala lumpur, Tapi ke JOHOR. Hikssss

Well, bukan. Ini bukan salah Kak Syaidah. Ini murni kesalahan ketidaktahuan sesorang. Yes, saya yang gak tahu (hehe). Baiklah. Mencoba untuk tenang. Beruntungnya tiket yang saya pesan itu transit di Kuala Lumpur. alhamdulillah. Entah kenapa kok saya ga kepengen nuker atau cancel tiket ya. Padahal kan bisa dapet lebih murah. Hehe

So, gimana besok ?

Let’s see in the Part IV , stay tune oke ! J



Senin, 09 Januari 2017

MALAYSIA, I’M POSSIBLE : Part II, Yes, I’ll take it

MALAYSIA, I’M POSSIBLE

Part II, Yes, I’ll take it

Sebuah pilihan yang hadir secara tiba-tiba terkadang membuat seseorang berfikir keras untuk bisa mengambil sebuah keputusan yang tepat. “You will take it or not”. Ya, dua pilihan yang membuat saya harus berpikir berulang kali. 4 hari tersisa yang membuat hati dan pikiran ini melebur menjadi satu. Keputusan berat yang harus dipilih, Ya atau Tidak.

Setelah melewati berbagai pertimbangan akhirnya saya putuskan untuk “Yes, I’ll take it”. Akhirnya saya berani memutuskan untuk bilang “Ya” di hari Kamis. Tepat H-1 keberangkatan menuju Malaysia. Sebuah keputusan yang gila ! iya benar-benar gila!. Masih teringat jelas hari itu saya masih menjalani perkuliahan di hari Kamis sampai pukul 15.00 WIB. Rasanya seperti tak ada beban setelah saya memutuskan untuk berangkat dan mengambil kesempatan mengikuti conference ke Malaysia. Padahal justru masalah mulai bermunculan. Bagaimana tidak, saya belum memesan tiket pesawat untuk besok. Saya juga belum menukar uang rupiah ke dalam bentuk dollar untuk membayar registrasi conference dan uang Ringgit untuk kebutuhan hidup di Malaysia.

Siang itu, masih di hari yang sama, di jam istirahat kuliah saya sempat pergi mendatangi sebuah bank yang berlokasi tidak jauh dari kampus. Akan tetapi, sayangnya saya harus lebih banyak bersabar karena bank tersebut sudah tidak melayani penukaran rupiah ke dollar di atas pukul 12.00. Baiklah. Lagi-lagi seperti tak ada beban. “Ah, yaudahlah besok pagi aja jam 08.00 kayaknya masih sempet de”, hehe (jangan ditiru yah :D).

Bukan hanya masalah tukar menukar uang saja, tapi tentu ada masalah lain yang lebih serius !. Ya, saya belum pesen tikeeet ! (Ya ampun, plis jangan ditiru banget yah, hehe). Bersyukurnya ada Bunda Ayu (hehe maapin bund). Orang yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri atau mungkin udah kaya emak sediri, wkwk. Beliaulah yang membantu saya menyelesaikan permasalahan tiket. Tapi lagi-lagi saya harus lebih banyak bersabar karena ternyata pemesanan tiket online membutuhkan scan atau foto pasport, dan sedihnya selama di kelas saya ngutak-ngatik isi folder leptop teryata gak nemu juga file-nya. Makin jengkel lah Bunda Ayu, wkwk sabar yah bund..

2 jam di kelas pun dilewati dengan perasaan tak tenang. Sampai akhirnya kuliah selesai lebih awal. Tapi lagi dan lagi saya harus lebih bersabar menahan diri untuk pulang ke kosan. Ternyata saya masih harus mengikuti kegiatan rapat persiapan Workshop dan Seminar yang akan diselenggarakan minggu depan di Purwakarta. Rasanya pengen lari aja ke kosan, hehe tapi apalah daya. Beres rapat tanpa basa-basi langsung pulang. Sempet pamitan ke beberapa orang termasuk Zae, orang yang udah nularin virus conference. Dan dia Cuma bilang “Gila kamu Le!”. Haha mungkin dia kesel punya temen begini. Berangkat besok tapi belom beli tiket!

Finally, setelah melalui proses yang panjang akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket PP Bandung-Johor. Meskipun dengan harga yang cukup mahal. Well, It’s ok, ini resiko karena segala sesuatunya “dadakan” :’D, (heuheu jangan ditiru yah). Sedikit rasa lega setelah berhasil mendapatkan tiket. Tapiiii... tentu masalah belum selesai sampai di sini. Saya masih harus packing, minjem koper sana sini (sedih euy, ga punya koper, wkwk). Sampe ada orang yang berbaik hati. Yes, Mba Linda dan Febi. Dua orang yang selalu mendengarkan semua curhatanku. Dengan sukarela atau terpaksa akhirnya Febi pun mau merelakan kopernya di bawa jalan-jalan ke Malaysia, hehe Nuhun Peeeeeb !

So gimana kelanjutannya ? sekarang udah tenang kan udah dapet tiket ? udah beres packing kan ? tinggal berangkat Yesss ???

NOOOOOOO.... Masalah baru muncul Guys :’(
Apa ituuuuu ???
Let’s continue to the next Part , hehe


Kamis, 05 Januari 2017

MALAYSIA, I’M POSSIBLE : PART I

MALAYSIA, I’M POSSIBLE
Part I, Letter of Acceptance

Berawal dari sebuah rasa penasaran yang membuncah dalam diri ketika mendengar sebuah kata “international conference”.  Apa itu?. Bisa gak ya saya ikut international conference. Ya, sebuah rasa penasaran yang akhirnya membawa saya menjadi seorang “conference hunter”. Selain karena penasaran, tentu ada hal lain yang membuat saya termotivasi untuk mengikuti international conference. Salah satunya adalah syarat kelulusan program magister yang sedang saya tempuh.

Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur bisa menempuh program magister di sebuah LPTK ternama di Indonesia. Lebih bersyukur lagi karena banyak orang baik yang membersamai saya menempuh pendidikan di tempat ini. Ya, mereka adalah sesama penerima beasiswa. Sekumpulan orang yang biasa kami sebut “awardee pendas”. Orang-orang yang selalu menghimpun energi luar biasa dalam diri saya, yang selalu menyemangati satu sama lain. Begitupun dengan urusan “conference”. Ya, mereka adalah Teh vira, Teh Eli, Zae, Mihud, Nady, dan Kang Sani.

Teh Eli, si pendiam yang selalu memberikan kejutan. Dia pun termasuk orang yang tiba-tiba bilang “besok mau ikut conference”. What ? kaget ? Banget ! Saya mah apa atuh, kepikiran buat ikut coference aja belom, tau apa itu conference aja belum. Sedih kan ! hehe

Tapi tentu saya bersyukur karena mereka adalah orang-orang yang mau berbagi. Big thanks for Zae ! Ya, Zae adalah orang pertama yang telah mengajarkan saya apa itu conference, bagaimana mencari sebuah conference, sampai akhirnya bisa mendapatkan Loa dari sebuah conference.

Masih teringat jelas siang itu di perpustakaan. “Nih le aku dapet Loa dari panitia ICET di Malang”. What ? Sejujurnya dalam hati aku merasa tercabik-cabik Zaeeee.. hehe.. Lagi-lagi saya mah apa atuh, mikir buat ikut conference aja belom! Alhasil, siang itu di perpus yang seharusnya digunakan untuk mengerjakan tugas malah disalahgunakan untuk tutorial cara mencari conference. Hmmm.. Zae tanggung jawab !

Nah, belum lagi ditambah kabar lain yang mengejutkan yang datang dari Teh Vira dan Kang Sani. Ternyata paper mereka lolos di salah satu seminar nasional yang diadakan di Kuningan. Hmmm... makin speechless ! Di tambah lagi Mihud dan Nady yang kayaknya nih diem-diem mereka juga semangat menyusun amunisi untuk bisa ikut conference, hehe

Berawal dari tekad yang kuat ingin berani mencoba seperti mereka. Baiklah akhirnya saya putuskan untuk menulis “Ikut international conference” di sebuah kertas berjudul resolusi 2016, tepat di daftar mimpi nomor bla bla bla (lupa) hehe

Sejak saat itu, saya mulai rajin mencari info international conference. Bermodalkan wifi 50 rebuan di kosan, saya pun mulai sering memasukkan keyword international conference di google. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah conference bernama “AIC 2016”. Saya mencoba untuk memberanikan diri memasukkan abstrak dan menunggu hasil pemberitahuan lolos atau tidak.

Tepat di tanggal 17 Oktober 2016, sebuah email masuk berisi pemberitahuan “Letter of abstrack Acceptance”. Sebuah kalimat menarik yang tersurat di dalam Loa “the selected paper will be published in SCOPUS Indexed Journal”. What ? SCOPUS ? Yes, entahlah semacam benda apa itu, hehe yang jelas seperti magnet ketika mendengar kata itu.

Kalimat tiap kalimat saya coba terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hingga sampai pada sebuah informasi yang cukup mengejutkan lagi. Apa itu ? apalagi kalau bukan daftar tagihan biaya conference yang harus dibayarkan. Wow. Jumlah yang sangat besar bagi saya yang masih berstatus mahasiswa. 450 USD. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung mengetik keyword convert rupiah ke USD di google. Angka yang cukup mengejutkan terlihat di layar HP. Betapa tidak, kurang lebih sebesar 6-7juta yang harus saya bayarkan untuk megikuti conference tersebut. Cukup fantantis !

Belum lagi saya harus memikirkan biaya akomodasi ke Malaysia, tempat conference berlangsung, penginapan, makan, dan lainnya. Dan tentunya, saya pergi sendiri. Sebuah pilihan yang sangat berat bagi saya, seorang anak kampung yang belum pernah menginjakkan kaki di belahan bumi manapun selain Indonesia. Seorang anak desa yang selalu bermimpi suatu saat bisa menghirup udara di belahan bumi Allah lainnya.

Berbagai pertimbangan yang cukup memberatkan pundak dan pikiran. Hari-hari dilalui untuk menemukan sebuah keputusan diambil atau tidak. Beberapa ikhtiar pun saya lakukan termasuk sharing dengan beberapa rekan yang memiliki pengalaman yang lebih banyak tentang dunia conference. Termasuk sharing tentang perjalanan ke luar negeri.

Termasuk curhat ke “Secret Mission Team” . Ya, itu adalah nama sebuah Grup WA yang penghuninya hanya 3 orang, saya, Mba Linda dan Febi. Yes, we are super team, hehe Next time saya ceritain ya kenapa bisa ada secret mission :D Mereka adalah sahabat setia yang selalu siap sedia dengerin curhatan saya.

Termasuk sharing dengan sahabat terdekat, yang sudah saya anggap “mbak” sendiri, yang bahkan sering saya panggil “bunda”. Jelas karena beliau sudah menikah, hehe. Sahabat semasa pengayaan bahasa di UPI, sahabat se-PK, sahabat yang akhirnya berasa punya emak kedua, hehe. Ya, Bunda Ayu. Orang pertama yang selalu kasih banyak ceramah di saat saya lagi galau. Termasuk urusan conference. Beliau selalu ngotot “udah ambil ly !”. percaya ! uang mah bisa dicari !”.

Tapi sayangnya, saat itu saya memutuskan untuk tidak mengambil conference tersebut. Selain pertimbangan biaya, terlalu cepat bagi saya untuk memulai belajar mengikuti conference langsung ke luar negeri. Tentunya beliau sangat kecewa! Hehe maafkan yah bund. Akhirnya saya putuskan untuk lebih memilih mengikuti conference di Malang bersama Teh Vira dan Kang Sani. Pengalaman yang luar biasa. InsyaAllah nanti saya ceritakan di sesi tulisan yang lain hehe

Singkat cerita, hari berganti hari, semangat ikut conference pun masih tetap ada, selepas malang, alhamdulillah prodi pendidikan dasar UPI mengadakan seminar nasional yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa pascasarjana untuk mencoba menjadi pemakalah di sebuah seminar. Alhasil saya telah berhasil menaklukan rasa takut untuk mencoba mengikuti sebuah conference.

Tanpa terasa perkuliahan semester 1 pun segera berakhir. Tanpa terasa awal desember mulai terlihat, aroma UAS dan tugas-tugas kuliah mulai menusuk. Seketika sebuah kabar mengejutkan datang tiba-tiba, di waktu yang sungguh tidak terduga-duga. Masih teringat jelas saat itu saya sedang mengikuti sebuah seminar pendidikan edisi dies natalis UPI yang diselenggarakan di gedung LPPM. Tepat di tengah fokus memperhatikan pemateri, sebuah email masuk dan mebuat lampu di layar hp selalu berkedip membuat rasa penasaran ingin rasanya segera membuka HP. Sebuah tulisan yang cukup mengejutkan :

“Congratulations ! You have been selected to get travel award”

Kurang lebih seperti itu kalimatnya. Saya coba baca berulang-ulang. Khawatir salah tafsir. Saya coba meminta bantuan salah satu tutor di Balai Bahasa semasa pengayaan bahasa dulu. Saya coba pastikan kembali ke setiap orang yang saya anggap memiliki kemampuan bahasa inggris yang cukup baik. dan ternyata mereka semua menyatakan pendapat yang sama. Artinya, saya akan mendapat hadiah bernama travel award sebesar 2000 RM. What ? Kaget ! padahal saat itu saya pun belum tau berapa convert 2000 RM ke rupiah. Hehe yang jelas seneng dapet hadiah.

Terus gimana ?

Hari itu, tepat tanggal 6 Desember 2016. Hari pemberitahuan kalau saya terpilih menjadi penerima “travel award”.

Eits.. tapi tentunya saya masih galau berat. Kenapa ? pastinya banyak hal yang harus disiapkan untuk pergi ke luar negeri. Sekalipun Malaysia yang sebagian besar orang bilang, ah Malaysia mah deket. Hmmm... buat saya sekalipun deket tetep aja udah beda lokasi, bukan di Indonesia lagi. Hehe

Kenapa lagi ? Udah jelas lho mau dapet uang. Iya sih, tapi tau gak conference nya kapan ? Tanggal 10-11 desember di Malaysia. What ? Cuma tersisa 4 hari buat saya mikir mau diambil apa enggak conferencenya ?

So, gimana kelanjutannya ? to be continue .... J

Sabtu, 17 Desember 2016

MALAYSIA, I’m Possible

WARNING !!!
Membaca tulisan ini akan menyebabkan anda merasakan :
  1.      Bengong
  2.      Kesel alias geregetan
  3.      Ketawa
  4.      Amazed :D
  5.      You want to take the challenge

So, you just choose whether you want to read this or not :D
OK, Let’s start...

Dunia magister adalah dunia baru yang harus sy lewati. Emm... percaya atau tidak, dunia ini lebih challenging dibandingkan dunia S1. Ada banyak hal yang harus sy kejar dan sy lakukan. Terlebih ada tanggung jawab besar sebagai penerima beasiswa.

Alhamdulillah, sy merasa beruntung karena bisa menempuh program magister Pendidikan Dasar di Universitas Pendidikan Indonesia bersama dengan orang-orang luar biasa yang Allah takdirkan kita bertemu.

Yes, They are Teh Vira, Zae, Teh Eli, Kang Sani, Mihud, dan Nadi. Mereka ada supporter (bkn bola loh ya :D) terbesar bagi sy untuk bisa MAJU ! Bayangkan saja, di awal semester ini mereka selalu ngomongin “conference”. Apalagi di tambah di awal perkuliahan Teh Vira, Kang Sani, dan Zae itu mereka “one step closer”. Abstrak mereka udah lolos duluan di seminar nasional. 
Ditambah teh Eli yang diem2 ikut international conference duluan, hmmm... 
Waw ? terus aku gimana ???? *mulai panik : mode on. Oke ! tarik nafas dulu Ly!

Belum lagi sy dengar kabar kalooo conference international itu jadi prasyarat untuk bisa ikut sidang thesis. Huaaaaa makin panik..
Hmm.. beruntungnya punya teman seperti mereka yang selalu jd “reminder” buat diri sendiri.

Sebut saja Zae, want to say thank you so much karena udah banyak kasih info tentang conference. Masih inget banget waktu itu ngerasa “buta” bgt sama yg namanya conference. Waktu itu ceritanya di perpus yg harusnya kerjain tugas filsafat eh kita malah ngobrol dan googling international conference. 
Uuuuuunccccch Zae, makasih banyak udah diajarin tutorial nyari conference ^_^

Inget, Eropa menunggu ! Bismillah yaaaa.... Let’s move on *ehhh
Nah, mulai dari situ, semangat cari conference, pokoknya semester 1 harus ikut International conference.


To be continue...

Minggu, 25 September 2016

SEMUA BERAWAL DARI MIMPI: LAELY FAROKHAH & ADITYA RAHMAN TERIMA BEASISWA LPDP

Serang, UPI
Siang hari yang begitu cerah. Kesejukan hadir di lingkungan sekitar Masjid Lukmanul Hakim begitu terasa Jumat (18/9/2015). Jamaah shalat Jumat khusyuk bermuwajahah dengan Sang Khalik. Seusai pelaksanaan shalat Jumat, lingkungan Masjid masih ramai dengan aktivitas mahasiswa yang mengikuti acara sharing bersama alumni UPI Kampus Serang, Laely Farokhah dan Aditya Rahman penerimabeasiswa LPDP. Tujuannya untuk mengetahui tips melanjutkan studi dengan beasiswa.
Acara dimulai dengan pengenalan beasiswa LPDP yang disampaikan oleh Laely Farokhah. LPDP adalah Lembaga Pengelola Dana Pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Keuangan yang mengeluarkan beasiswa pendidikan untuk program S2 dan S3. Lembaga ini memberikan beasiswa bagi mahasiswa yang sedang menyusun tesis dan disertasi.
Setelah menjelaskan mengenai LPDP secara singkat, Laely juga menceritakan pengalamannya ketika berjuang mendapatkan beasiswa LPDP. Berawal dari visi yang sama di antara Laely dan Aditya, mereka memutuskan untuk berkerja sama mencari informasi beasiswa S2, mulai dari mengikuti seminar beasiswa S2, konsultasi dengan dosen, serta secara aktif memanfaatkan media sosial. Akhirnya mereka tertarik dengan program beasiswa LPDP.1-1
Segala upaya dikerahkan untuk bisa lolos mendapatkan beasiswa tersebut. Di sela rutinitas semester akhir yang begitu padat, menyusun skripsi, PPL dan perkuliahan yang masih berjalan, mereka menyempatkan juga mengikuti les bahasa Inggris. Usaha yang mereka lakukan ternyata membuahkan hasil, sehingga mampu mendapatkan beasiswa LPDP. “Bermimpilah dan hiduplah bersama dengan mimpi kalian,” ujar Aditya Rahman
Menurutnya, ketika seseorang bermimpi mendapatkan sesuatu, maka orang tersebut harus hidup dengan berbagai aktivitas yang dapat menunjang mimpi tersebut. Aditya yang sedang mempersiapkan melanjutkan S2 di New Zealand, memperkenalkan cara untuk mempelajari TOEFL dan memberikan referensi agar dapat mempelajarinya secara mandiri. Dia juga memberikan tips memperbanyak kosa kata bahasa Inggris dengan membaca artikel bahasa Inggris minimal satu kali sehari.
Interaksi dengan peserta sharing semakin seru, peserta menanyakan tips untuk menghadapi tes wawancara, usaha agar skor TOEFL tinggi, sampai bagaimana mereka memperkuat ruhiyah. Ada juga sesi simulasi, di mana peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk tes wawancara dengan Adit dan Laely. Tujuannya agar peserta lebih leluasa mengetahui beberapa pertanyaan yang sering muncul.
Laely dan Aditya senantisa ingin memberikan manfaat bagi orang lain. Salah satunya dengan adanya acara ini. Mereka juga memberikan motivasi kepada peserta agar semangat dalam belajar, berusaha dan memperkuat potensi untuk menggapai semua mimpi, serta selalu mengedepankan restu dan doa orang tua. Kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas tak luput dari amanat mereka berdua dalam mewujudkan sebuah mimpi. Akhirnya mahasiswa pulang dengan semangat yang baru. (Pengurus MCC/RYD)

REPOST DARI BERITA UPI
http://berita.upi.edu/?p=5886