MALAYSIA, I’M POSSIBLE
Part I, Letter of Acceptance
Berawal dari sebuah rasa penasaran yang
membuncah dalam diri ketika mendengar sebuah kata “international conference”. Apa itu?. Bisa gak ya saya ikut international
conference. Ya, sebuah rasa penasaran yang akhirnya membawa saya menjadi
seorang “conference hunter”. Selain karena penasaran, tentu ada hal lain yang
membuat saya termotivasi untuk mengikuti international conference. Salah satunya
adalah syarat kelulusan program magister yang sedang saya tempuh.
Alhamdulillah, saya merasa sangat
bersyukur bisa menempuh program magister di sebuah LPTK ternama di Indonesia.
Lebih bersyukur lagi karena banyak orang baik yang membersamai saya menempuh
pendidikan di tempat ini. Ya, mereka adalah sesama penerima beasiswa. Sekumpulan
orang yang biasa kami sebut “awardee pendas”. Orang-orang yang selalu
menghimpun energi luar biasa dalam diri saya, yang selalu menyemangati satu
sama lain. Begitupun dengan urusan “conference”. Ya, mereka adalah Teh vira,
Teh Eli, Zae, Mihud, Nady, dan Kang Sani.
Teh Eli, si pendiam yang selalu
memberikan kejutan. Dia pun termasuk orang yang tiba-tiba bilang “besok mau
ikut conference”. What ? kaget ? Banget ! Saya mah apa atuh, kepikiran buat
ikut coference aja belom, tau apa itu conference aja belum. Sedih kan ! hehe
Tapi tentu saya bersyukur karena mereka
adalah orang-orang yang mau berbagi. Big thanks for Zae ! Ya, Zae adalah orang
pertama yang telah mengajarkan saya apa itu conference, bagaimana mencari
sebuah conference, sampai akhirnya bisa mendapatkan Loa dari sebuah conference.
Masih teringat jelas siang itu di
perpustakaan. “Nih le aku dapet Loa dari panitia ICET di Malang”. What ?
Sejujurnya dalam hati aku merasa tercabik-cabik Zaeeee.. hehe.. Lagi-lagi saya
mah apa atuh, mikir buat ikut conference aja belom! Alhasil, siang itu di
perpus yang seharusnya digunakan untuk mengerjakan tugas malah disalahgunakan
untuk tutorial cara mencari conference. Hmmm.. Zae tanggung jawab !
Nah, belum lagi ditambah kabar lain
yang mengejutkan yang datang dari Teh Vira dan Kang Sani. Ternyata paper mereka
lolos di salah satu seminar nasional yang diadakan di Kuningan. Hmmm... makin
speechless ! Di tambah lagi Mihud dan Nady yang kayaknya nih diem-diem mereka
juga semangat menyusun amunisi untuk bisa ikut conference, hehe
Berawal dari tekad yang kuat ingin
berani mencoba seperti mereka. Baiklah akhirnya saya putuskan untuk menulis “Ikut
international conference” di sebuah kertas berjudul resolusi 2016, tepat di
daftar mimpi nomor bla bla bla (lupa) hehe
Sejak saat itu, saya mulai rajin
mencari info international conference. Bermodalkan wifi 50 rebuan di kosan,
saya pun mulai sering memasukkan keyword international conference di google.
Sampai akhirnya saya menemukan sebuah conference bernama “AIC 2016”. Saya
mencoba untuk memberanikan diri memasukkan abstrak dan menunggu hasil
pemberitahuan lolos atau tidak.
Tepat di tanggal 17 Oktober 2016,
sebuah email masuk berisi pemberitahuan “Letter of abstrack Acceptance”. Sebuah
kalimat menarik yang tersurat di dalam Loa “the selected paper will be
published in SCOPUS Indexed Journal”. What ? SCOPUS ? Yes, entahlah semacam
benda apa itu, hehe yang jelas seperti magnet ketika mendengar kata itu.
Kalimat tiap kalimat saya coba
terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hingga sampai pada sebuah informasi yang
cukup mengejutkan lagi. Apa itu ? apalagi kalau bukan daftar tagihan biaya
conference yang harus dibayarkan. Wow. Jumlah yang sangat besar bagi saya yang
masih berstatus mahasiswa. 450 USD. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung
mengetik keyword convert rupiah ke USD di google. Angka yang cukup mengejutkan
terlihat di layar HP. Betapa tidak, kurang lebih sebesar 6-7juta yang harus
saya bayarkan untuk megikuti conference tersebut. Cukup fantantis !
Belum lagi saya harus memikirkan biaya
akomodasi ke Malaysia, tempat conference berlangsung, penginapan, makan, dan
lainnya. Dan tentunya, saya pergi sendiri. Sebuah pilihan yang sangat berat
bagi saya, seorang anak kampung yang belum pernah menginjakkan kaki di belahan
bumi manapun selain Indonesia. Seorang anak desa yang selalu bermimpi suatu
saat bisa menghirup udara di belahan bumi Allah lainnya.
Berbagai pertimbangan yang cukup
memberatkan pundak dan pikiran. Hari-hari dilalui untuk menemukan sebuah
keputusan diambil atau tidak. Beberapa ikhtiar pun saya lakukan termasuk
sharing dengan beberapa rekan yang memiliki pengalaman yang lebih banyak
tentang dunia conference. Termasuk sharing tentang perjalanan ke luar negeri.
Termasuk curhat ke “Secret Mission Team”
. Ya, itu adalah nama sebuah Grup WA yang penghuninya hanya 3 orang, saya, Mba
Linda dan Febi. Yes, we are super team, hehe Next time saya ceritain ya kenapa
bisa ada secret mission :D Mereka adalah sahabat setia yang selalu siap sedia
dengerin curhatan saya.
Termasuk sharing dengan sahabat
terdekat, yang sudah saya anggap “mbak” sendiri, yang bahkan sering saya
panggil “bunda”. Jelas karena beliau sudah menikah, hehe. Sahabat semasa
pengayaan bahasa di UPI, sahabat se-PK, sahabat yang akhirnya berasa punya emak
kedua, hehe. Ya, Bunda Ayu. Orang pertama yang selalu kasih banyak ceramah di
saat saya lagi galau. Termasuk urusan conference. Beliau selalu ngotot “udah
ambil ly !”. percaya ! uang mah bisa dicari !”.
Tapi sayangnya, saat itu saya memutuskan
untuk tidak mengambil conference tersebut. Selain pertimbangan biaya, terlalu cepat
bagi saya untuk memulai belajar mengikuti conference langsung ke luar negeri. Tentunya
beliau sangat kecewa! Hehe maafkan yah bund. Akhirnya saya putuskan untuk lebih
memilih mengikuti conference di Malang bersama Teh Vira dan Kang Sani.
Pengalaman yang luar biasa. InsyaAllah nanti saya ceritakan di sesi tulisan
yang lain hehe
Singkat cerita, hari berganti hari,
semangat ikut conference pun masih tetap ada, selepas malang, alhamdulillah
prodi pendidikan dasar UPI mengadakan seminar nasional yang memberikan
kesempatan kepada mahasiswa pascasarjana untuk mencoba menjadi pemakalah di
sebuah seminar. Alhasil saya telah berhasil menaklukan rasa takut untuk mencoba
mengikuti sebuah conference.
Tanpa terasa perkuliahan semester 1 pun
segera berakhir. Tanpa terasa awal desember mulai terlihat, aroma UAS dan
tugas-tugas kuliah mulai menusuk. Seketika sebuah kabar mengejutkan datang
tiba-tiba, di waktu yang sungguh tidak terduga-duga. Masih teringat jelas saat
itu saya sedang mengikuti sebuah seminar pendidikan edisi dies natalis UPI yang
diselenggarakan di gedung LPPM. Tepat di tengah fokus memperhatikan pemateri,
sebuah email masuk dan mebuat lampu di layar hp selalu berkedip membuat rasa
penasaran ingin rasanya segera membuka HP. Sebuah tulisan yang cukup mengejutkan
:
“Congratulations ! You have been
selected to get travel award”
Kurang lebih seperti itu kalimatnya. Saya
coba baca berulang-ulang. Khawatir salah tafsir. Saya coba meminta bantuan
salah satu tutor di Balai Bahasa semasa pengayaan bahasa dulu. Saya coba
pastikan kembali ke setiap orang yang saya anggap memiliki kemampuan bahasa
inggris yang cukup baik. dan ternyata mereka semua menyatakan pendapat yang
sama. Artinya, saya akan mendapat hadiah bernama travel award sebesar 2000 RM.
What ? Kaget ! padahal saat itu saya pun belum tau berapa convert 2000 RM ke
rupiah. Hehe yang jelas seneng dapet hadiah.
Terus gimana ?
Hari itu, tepat tanggal 6 Desember
2016. Hari pemberitahuan kalau saya terpilih menjadi penerima “travel award”.
Eits.. tapi tentunya saya masih galau
berat. Kenapa ? pastinya banyak hal yang harus disiapkan untuk pergi ke luar
negeri. Sekalipun Malaysia yang sebagian besar orang bilang, ah Malaysia mah
deket. Hmmm... buat saya sekalipun deket tetep aja udah beda lokasi, bukan di
Indonesia lagi. Hehe
Kenapa lagi ? Udah jelas lho mau dapet
uang. Iya sih, tapi tau gak conference nya kapan ? Tanggal 10-11 desember di
Malaysia. What ? Cuma tersisa 4 hari buat saya mikir mau diambil apa enggak
conferencenya ?
So, gimana kelanjutannya ? to be
continue .... J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar