Jumat, 13 Januari 2017

Part III, Big Mistake

MALAYSIA, I’M POSSIBLE

Part III, Big Mistake

Beberapa hari sebelumnya, tepat sebelum saya akhirnya memutuskan untuk pergi ke Malaysia, Mba Ayu sempat memberikan sebuah nomor kontak seseorang yang tinggal di Malaysia dengan harapan bisa banyak membantu saya ketika berada di Malaysia. Tepatnya beliau adalah saudara jauh yang berasal dari palembang yang sudah lama tidak bertemu. Nah, entah kenapa Mba Ayu tiba-tiba teringat dengan beliau ketika saya menyebutkan kata “Johor”. Akhirnya kedua saudara yang sudah lama terpisahkan itu kembali tersambung hanya karena urusan saya dan conference di Malaysia. Lucu yah, hehe

Masih di Kamis sore, saya mencoba untuk menghubungi nomor tersebut via chat di Whatsapp dan beberapa percakapan pun mulai terjadi. Hingga akhirnya beliau mengatakan “nanti malam saya telfon ya biar jelas”. Baiklah. Meskipun saya sempet mikir “emang ga mahal nelfon beda negara”, hehe. Singkat cerita, beliau pun ternyata beneran nelfon ke nomor saya. Well, awalnya hanya sebatas obrolan biasa, memastikan kapan saya berangkat, dan kapan saya tiba. Beliau pun kembali memastikan lokasi conference yang akan saya ikuti dan dengan pede-nya berkali-kali saya bilang “Lokasinya di Kampus Universiti Teknologi Malaysia (UTM)” JOHOR”.  Tapi, di tengah-tengah obrolan itu seketika saya tersentak ketika beliau mengatakan, “Eh UTM itu ada 2 kampus Lho !”.

WHAT ??? DEG ! *panik : mode on. “Iya, UTM itu ada 2 kampus, di Kuala Lumpur sama di Johor Bahru”. HAAAH ????? MASAAAAA ????

Tanpa pikir panjang saya langsung membuka email, memasukkan keyword di kolom search “AIC” dan muncullah “Letter of Acceptance”. Langsung saya buka dan cek, dan ternyataaaaaa... di surat hanya tertulis Universiti Teknologi Malaysia. Tapiiiii... di lampiran surat tertera hotel dan lokasi wisata yang merujuk ke Kuala Lumpur. Dengan nada sedikit resah, saya pun menyimpulkan “iya kak, kayaknya itu di kampus KL deh :’(“.

“Oke, jangan panik ! saya coba tanya dulu ke grup PPI Malaysia yang dari kampus UTM”. Beliau mencoba membantu dengan menghubungi beberapa mahasiswa yang tergabung ke dalam PPI Malaysia untuk memastikan lokasi conference tersebut.

What ? Salah beli tiket ? OMG !!! That’s a big mistake Laely ! (huhu, jangan ditiru guys).

So, ternyata bener kenyataannya saya salah beli tiket , hikss.. kenapa ? kok bisa ???!! Oke, kita flash back ke belakang dulu ya, hehe

Jadi..ceritanya, dua hari sebelum saya memutuskan untuk berangkat ke Malaysia, saya mencoba mencari-cari nomor kontak teman di Malaysia, berharap ada seseorang yang dengan sukarela bisa membantu sebagai tour guide di sana. Seketika saya teringat kepada seorang teman yang baru dikenal 2 bulan yang lalu di kampus. Yes, dia adalah mahasiswa pascasarjana di kampus Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Tepat di Oktober lalu, UPI bekeja sama dengan UKM menyelenggarakan sebuah conference yang mengangkat tema curriculum. Alhamdulillah, bersyukurnya saya dikelilingi oleh orang-orang baik yang selalu produktif. Saat itu saya mendapat sebuah kesempatan besar untuk bisa mengikuti conference tersebut dengan menulis paper bertiga dengan teh Vira. This is my first conference. Hatur Nuhun teh shaaay , hehe

Singkat cerita, saya berkenalan dengan seorang mahasiswi. Sebut saja Kak Syaidah. Malam itu entah kenapa tiba-tiba terlintas nama beliau. Tanpa pikir panjang saya pun langsung menghubungi beliau via sms. Tak lama kemudian, sebuah chat masuk ke akun WA di HP. Akhirnya sebuah percakapan pun terjadi dan muncullah sebuah saran “oh dik, kalau mau ke UTM adik pakai pesawat dari Bandung ke Johor saja, karena UTM itu di Johor”. Entah kenapa saya begitu yakin, JOHOR. Nah berawal dari situlah, akhirnya saya memutuskan “Oh berarti saya pesan tiket bukan ke kuala lumpur, Tapi ke JOHOR. Hikssss

Well, bukan. Ini bukan salah Kak Syaidah. Ini murni kesalahan ketidaktahuan sesorang. Yes, saya yang gak tahu (hehe). Baiklah. Mencoba untuk tenang. Beruntungnya tiket yang saya pesan itu transit di Kuala Lumpur. alhamdulillah. Entah kenapa kok saya ga kepengen nuker atau cancel tiket ya. Padahal kan bisa dapet lebih murah. Hehe

So, gimana besok ?

Let’s see in the Part IV , stay tune oke ! J



Senin, 09 Januari 2017

MALAYSIA, I’M POSSIBLE : Part II, Yes, I’ll take it

MALAYSIA, I’M POSSIBLE

Part II, Yes, I’ll take it

Sebuah pilihan yang hadir secara tiba-tiba terkadang membuat seseorang berfikir keras untuk bisa mengambil sebuah keputusan yang tepat. “You will take it or not”. Ya, dua pilihan yang membuat saya harus berpikir berulang kali. 4 hari tersisa yang membuat hati dan pikiran ini melebur menjadi satu. Keputusan berat yang harus dipilih, Ya atau Tidak.

Setelah melewati berbagai pertimbangan akhirnya saya putuskan untuk “Yes, I’ll take it”. Akhirnya saya berani memutuskan untuk bilang “Ya” di hari Kamis. Tepat H-1 keberangkatan menuju Malaysia. Sebuah keputusan yang gila ! iya benar-benar gila!. Masih teringat jelas hari itu saya masih menjalani perkuliahan di hari Kamis sampai pukul 15.00 WIB. Rasanya seperti tak ada beban setelah saya memutuskan untuk berangkat dan mengambil kesempatan mengikuti conference ke Malaysia. Padahal justru masalah mulai bermunculan. Bagaimana tidak, saya belum memesan tiket pesawat untuk besok. Saya juga belum menukar uang rupiah ke dalam bentuk dollar untuk membayar registrasi conference dan uang Ringgit untuk kebutuhan hidup di Malaysia.

Siang itu, masih di hari yang sama, di jam istirahat kuliah saya sempat pergi mendatangi sebuah bank yang berlokasi tidak jauh dari kampus. Akan tetapi, sayangnya saya harus lebih banyak bersabar karena bank tersebut sudah tidak melayani penukaran rupiah ke dollar di atas pukul 12.00. Baiklah. Lagi-lagi seperti tak ada beban. “Ah, yaudahlah besok pagi aja jam 08.00 kayaknya masih sempet de”, hehe (jangan ditiru yah :D).

Bukan hanya masalah tukar menukar uang saja, tapi tentu ada masalah lain yang lebih serius !. Ya, saya belum pesen tikeeet ! (Ya ampun, plis jangan ditiru banget yah, hehe). Bersyukurnya ada Bunda Ayu (hehe maapin bund). Orang yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri atau mungkin udah kaya emak sediri, wkwk. Beliaulah yang membantu saya menyelesaikan permasalahan tiket. Tapi lagi-lagi saya harus lebih banyak bersabar karena ternyata pemesanan tiket online membutuhkan scan atau foto pasport, dan sedihnya selama di kelas saya ngutak-ngatik isi folder leptop teryata gak nemu juga file-nya. Makin jengkel lah Bunda Ayu, wkwk sabar yah bund..

2 jam di kelas pun dilewati dengan perasaan tak tenang. Sampai akhirnya kuliah selesai lebih awal. Tapi lagi dan lagi saya harus lebih bersabar menahan diri untuk pulang ke kosan. Ternyata saya masih harus mengikuti kegiatan rapat persiapan Workshop dan Seminar yang akan diselenggarakan minggu depan di Purwakarta. Rasanya pengen lari aja ke kosan, hehe tapi apalah daya. Beres rapat tanpa basa-basi langsung pulang. Sempet pamitan ke beberapa orang termasuk Zae, orang yang udah nularin virus conference. Dan dia Cuma bilang “Gila kamu Le!”. Haha mungkin dia kesel punya temen begini. Berangkat besok tapi belom beli tiket!

Finally, setelah melalui proses yang panjang akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket PP Bandung-Johor. Meskipun dengan harga yang cukup mahal. Well, It’s ok, ini resiko karena segala sesuatunya “dadakan” :’D, (heuheu jangan ditiru yah). Sedikit rasa lega setelah berhasil mendapatkan tiket. Tapiiii... tentu masalah belum selesai sampai di sini. Saya masih harus packing, minjem koper sana sini (sedih euy, ga punya koper, wkwk). Sampe ada orang yang berbaik hati. Yes, Mba Linda dan Febi. Dua orang yang selalu mendengarkan semua curhatanku. Dengan sukarela atau terpaksa akhirnya Febi pun mau merelakan kopernya di bawa jalan-jalan ke Malaysia, hehe Nuhun Peeeeeb !

So gimana kelanjutannya ? sekarang udah tenang kan udah dapet tiket ? udah beres packing kan ? tinggal berangkat Yesss ???

NOOOOOOO.... Masalah baru muncul Guys :’(
Apa ituuuuu ???
Let’s continue to the next Part , hehe


Kamis, 05 Januari 2017

MALAYSIA, I’M POSSIBLE : PART I

MALAYSIA, I’M POSSIBLE
Part I, Letter of Acceptance

Berawal dari sebuah rasa penasaran yang membuncah dalam diri ketika mendengar sebuah kata “international conference”.  Apa itu?. Bisa gak ya saya ikut international conference. Ya, sebuah rasa penasaran yang akhirnya membawa saya menjadi seorang “conference hunter”. Selain karena penasaran, tentu ada hal lain yang membuat saya termotivasi untuk mengikuti international conference. Salah satunya adalah syarat kelulusan program magister yang sedang saya tempuh.

Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur bisa menempuh program magister di sebuah LPTK ternama di Indonesia. Lebih bersyukur lagi karena banyak orang baik yang membersamai saya menempuh pendidikan di tempat ini. Ya, mereka adalah sesama penerima beasiswa. Sekumpulan orang yang biasa kami sebut “awardee pendas”. Orang-orang yang selalu menghimpun energi luar biasa dalam diri saya, yang selalu menyemangati satu sama lain. Begitupun dengan urusan “conference”. Ya, mereka adalah Teh vira, Teh Eli, Zae, Mihud, Nady, dan Kang Sani.

Teh Eli, si pendiam yang selalu memberikan kejutan. Dia pun termasuk orang yang tiba-tiba bilang “besok mau ikut conference”. What ? kaget ? Banget ! Saya mah apa atuh, kepikiran buat ikut coference aja belom, tau apa itu conference aja belum. Sedih kan ! hehe

Tapi tentu saya bersyukur karena mereka adalah orang-orang yang mau berbagi. Big thanks for Zae ! Ya, Zae adalah orang pertama yang telah mengajarkan saya apa itu conference, bagaimana mencari sebuah conference, sampai akhirnya bisa mendapatkan Loa dari sebuah conference.

Masih teringat jelas siang itu di perpustakaan. “Nih le aku dapet Loa dari panitia ICET di Malang”. What ? Sejujurnya dalam hati aku merasa tercabik-cabik Zaeeee.. hehe.. Lagi-lagi saya mah apa atuh, mikir buat ikut conference aja belom! Alhasil, siang itu di perpus yang seharusnya digunakan untuk mengerjakan tugas malah disalahgunakan untuk tutorial cara mencari conference. Hmmm.. Zae tanggung jawab !

Nah, belum lagi ditambah kabar lain yang mengejutkan yang datang dari Teh Vira dan Kang Sani. Ternyata paper mereka lolos di salah satu seminar nasional yang diadakan di Kuningan. Hmmm... makin speechless ! Di tambah lagi Mihud dan Nady yang kayaknya nih diem-diem mereka juga semangat menyusun amunisi untuk bisa ikut conference, hehe

Berawal dari tekad yang kuat ingin berani mencoba seperti mereka. Baiklah akhirnya saya putuskan untuk menulis “Ikut international conference” di sebuah kertas berjudul resolusi 2016, tepat di daftar mimpi nomor bla bla bla (lupa) hehe

Sejak saat itu, saya mulai rajin mencari info international conference. Bermodalkan wifi 50 rebuan di kosan, saya pun mulai sering memasukkan keyword international conference di google. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah conference bernama “AIC 2016”. Saya mencoba untuk memberanikan diri memasukkan abstrak dan menunggu hasil pemberitahuan lolos atau tidak.

Tepat di tanggal 17 Oktober 2016, sebuah email masuk berisi pemberitahuan “Letter of abstrack Acceptance”. Sebuah kalimat menarik yang tersurat di dalam Loa “the selected paper will be published in SCOPUS Indexed Journal”. What ? SCOPUS ? Yes, entahlah semacam benda apa itu, hehe yang jelas seperti magnet ketika mendengar kata itu.

Kalimat tiap kalimat saya coba terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hingga sampai pada sebuah informasi yang cukup mengejutkan lagi. Apa itu ? apalagi kalau bukan daftar tagihan biaya conference yang harus dibayarkan. Wow. Jumlah yang sangat besar bagi saya yang masih berstatus mahasiswa. 450 USD. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung mengetik keyword convert rupiah ke USD di google. Angka yang cukup mengejutkan terlihat di layar HP. Betapa tidak, kurang lebih sebesar 6-7juta yang harus saya bayarkan untuk megikuti conference tersebut. Cukup fantantis !

Belum lagi saya harus memikirkan biaya akomodasi ke Malaysia, tempat conference berlangsung, penginapan, makan, dan lainnya. Dan tentunya, saya pergi sendiri. Sebuah pilihan yang sangat berat bagi saya, seorang anak kampung yang belum pernah menginjakkan kaki di belahan bumi manapun selain Indonesia. Seorang anak desa yang selalu bermimpi suatu saat bisa menghirup udara di belahan bumi Allah lainnya.

Berbagai pertimbangan yang cukup memberatkan pundak dan pikiran. Hari-hari dilalui untuk menemukan sebuah keputusan diambil atau tidak. Beberapa ikhtiar pun saya lakukan termasuk sharing dengan beberapa rekan yang memiliki pengalaman yang lebih banyak tentang dunia conference. Termasuk sharing tentang perjalanan ke luar negeri.

Termasuk curhat ke “Secret Mission Team” . Ya, itu adalah nama sebuah Grup WA yang penghuninya hanya 3 orang, saya, Mba Linda dan Febi. Yes, we are super team, hehe Next time saya ceritain ya kenapa bisa ada secret mission :D Mereka adalah sahabat setia yang selalu siap sedia dengerin curhatan saya.

Termasuk sharing dengan sahabat terdekat, yang sudah saya anggap “mbak” sendiri, yang bahkan sering saya panggil “bunda”. Jelas karena beliau sudah menikah, hehe. Sahabat semasa pengayaan bahasa di UPI, sahabat se-PK, sahabat yang akhirnya berasa punya emak kedua, hehe. Ya, Bunda Ayu. Orang pertama yang selalu kasih banyak ceramah di saat saya lagi galau. Termasuk urusan conference. Beliau selalu ngotot “udah ambil ly !”. percaya ! uang mah bisa dicari !”.

Tapi sayangnya, saat itu saya memutuskan untuk tidak mengambil conference tersebut. Selain pertimbangan biaya, terlalu cepat bagi saya untuk memulai belajar mengikuti conference langsung ke luar negeri. Tentunya beliau sangat kecewa! Hehe maafkan yah bund. Akhirnya saya putuskan untuk lebih memilih mengikuti conference di Malang bersama Teh Vira dan Kang Sani. Pengalaman yang luar biasa. InsyaAllah nanti saya ceritakan di sesi tulisan yang lain hehe

Singkat cerita, hari berganti hari, semangat ikut conference pun masih tetap ada, selepas malang, alhamdulillah prodi pendidikan dasar UPI mengadakan seminar nasional yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa pascasarjana untuk mencoba menjadi pemakalah di sebuah seminar. Alhasil saya telah berhasil menaklukan rasa takut untuk mencoba mengikuti sebuah conference.

Tanpa terasa perkuliahan semester 1 pun segera berakhir. Tanpa terasa awal desember mulai terlihat, aroma UAS dan tugas-tugas kuliah mulai menusuk. Seketika sebuah kabar mengejutkan datang tiba-tiba, di waktu yang sungguh tidak terduga-duga. Masih teringat jelas saat itu saya sedang mengikuti sebuah seminar pendidikan edisi dies natalis UPI yang diselenggarakan di gedung LPPM. Tepat di tengah fokus memperhatikan pemateri, sebuah email masuk dan mebuat lampu di layar hp selalu berkedip membuat rasa penasaran ingin rasanya segera membuka HP. Sebuah tulisan yang cukup mengejutkan :

“Congratulations ! You have been selected to get travel award”

Kurang lebih seperti itu kalimatnya. Saya coba baca berulang-ulang. Khawatir salah tafsir. Saya coba meminta bantuan salah satu tutor di Balai Bahasa semasa pengayaan bahasa dulu. Saya coba pastikan kembali ke setiap orang yang saya anggap memiliki kemampuan bahasa inggris yang cukup baik. dan ternyata mereka semua menyatakan pendapat yang sama. Artinya, saya akan mendapat hadiah bernama travel award sebesar 2000 RM. What ? Kaget ! padahal saat itu saya pun belum tau berapa convert 2000 RM ke rupiah. Hehe yang jelas seneng dapet hadiah.

Terus gimana ?

Hari itu, tepat tanggal 6 Desember 2016. Hari pemberitahuan kalau saya terpilih menjadi penerima “travel award”.

Eits.. tapi tentunya saya masih galau berat. Kenapa ? pastinya banyak hal yang harus disiapkan untuk pergi ke luar negeri. Sekalipun Malaysia yang sebagian besar orang bilang, ah Malaysia mah deket. Hmmm... buat saya sekalipun deket tetep aja udah beda lokasi, bukan di Indonesia lagi. Hehe

Kenapa lagi ? Udah jelas lho mau dapet uang. Iya sih, tapi tau gak conference nya kapan ? Tanggal 10-11 desember di Malaysia. What ? Cuma tersisa 4 hari buat saya mikir mau diambil apa enggak conferencenya ?

So, gimana kelanjutannya ? to be continue .... J