Semilir angin berhembus pelan membelai jilbab para
santri perempuan yang tengah mengaji kitab di pendopo pesantren Al-Huda. Terlihat
beberapa santri tengah khusyu mendengarkan sang ustadzah yang sedang memberikan
penjelasan dari isi kitab tersebut. Kebiasaan di pesantren Al-Huda yaitu ba’da
Ashar biasanya santriwati mengaji kitab.
Zahra adalah seorang santri yang sudah
bertahun-tahun menjadi santri di pesantren tersebut. Zahra adalah perempuan
yang ceria dan sangat dikagumi oleh teman-temannya. Sosoknya yang lembut dan
penuh semangat banyak mengunspirasi teman-temannya. Dia adalah salah satu
perempuan yang sangat beruntung karena memiliki keluarga yang sangat
menyayanginya. Keluarganya berasal dari kalangan yang berada. Mayoritas
santri-santri di pondok pesantren Al-Huda mengetahui orang tua Zahra. Ayahnya
adalah seorang pengusaha sukses di daerahnya. Sehingga tak jarang jika ada
pembangunan di pondok pesantren Al-Huda, ayah Zahra lah yang menjadi
donaturnya.
Tak terasa satu jam berlalu. Para santri pun satu
per satu mulai bangun dari tempat duduknya
meninggalkan pendopo. Kemudian mereka pergi menuju asrama mereka
masing-masing. Terkecuali dengan Zahra, perhatiannya
tertuju kepada salah satu santri yang tidak begitu ia kenal namun tampaknya dia
melihat raut kesedihan di wajah temannya tersebut. Tak lama, Zahra pun
mendekatinya. Belakangan dia tahu nama santriwati tersebut. Dia bernama
Safinah. Dia terkenal sebagai anak yang pendiam dan jarang sekali
bersosialisasi dengan santri-santri perempuan yang lainnya.
“Assalamu’alaikum.” sapa Zahra dengan penuh
keberanian mendekati Safinah yang terkenal pendiam.
Namun Safinah menanggapinya dengan dingin “Wa’alaikumsalam.”
“Safinah kamu kenapa ? Lagi ada masalah ya ?” tebak
Zahra dengan sejuta Tanya dibenaknya
“Ah, gak apa apa kok.” jawab Safinah gugup.
“Yang benar ? Ayolah cerita kalau memang kamu sedang
ada masalah.” tawar Zahra kepada Safinah. Raut wajah Safinah yang semakin
murung tidak mampu menutupi rasa penasaran Zahrah.
Namun berkali-kali dibujuk tetap saja Safinah tidak
mau berbagi cerita kepada Zahrah. Safinah lalu beranjak dari tempat duduknya
dan pamit meninggalkan Zahrah yang masih memendam sejuta tanya kepada temannya
tersebut.
“Udah sore Ra, saya pergi ke asrama duluan ya.” jawab
Safinah.
***
Adzan maghrib pun berkumandang, menyerukan kepada
seluruh jiwa yang hidup untuk bersegera mengambil wudhu dan memasuki masjid.
Para santri dan santriwati pun segera memenuhi masjid dan merapihkan barisan
sholat mereka masing-masing. Seperti hari-hari biasa, sholat maghrib berjamaah kali
ini dipimpin oleh K.H. Agus Salim. Pemilik dan pengasuh pondok pesantren
Al-Huda.
Dalam keheningan dan kekhusyuan mereka larut dalam
ibadah sholat maghrib.
“Assalamu’alaikum Warahmatullah…” ucap sang imam
sambil menolehkan kepala ke kanan.
Dan diikuti oleh para jamaah, “Assalamu’alaikum
Warahmatullah…”
Kemudian dilanjutkan dengan dzikir kepada Allah SWT.
Ibadah sholat maghrib pun selesai, para santri
langsung mengambil Al-Qur’an yang mereka bawa dan membacanya. Kegiatan tilawah
Al-Qur’an ini berlangsung hingga waktu sholat Isya tiba. Kini terdengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dari mulut Zahrah
dan para santri yang lain.
***
Jam menunjukkan tepat pukul 11 malam. Mengakhiri
semua aktivitas di pondok pesantren Al-Huda. Zahra dan teman-temannya kini
sudah berada di asrama.
Zahrah satu kamar dengan Latifah. Latifah adalah
teman baik Zahrah di pondok pesantren Al-Huda. Sudah bertahun - tahun mereka
bersama. Maklum saja, karena mereka juga satu angkatan. Saat ini, mereka berdua
duduk di bangku kelas 2 SMA. Begitupun dengan Safinah. Dia juga duduk di bangku
kelas 2 SMA. Namun sayangnya Zahrah tidak satu kelas dengan Safinah. Melainkan
Latifah yang satu kelas dengan Safinah. Jadi wajar saja jika Zahrah tidak
begitu mengenal Safinah.
Zahra membaringkan tubuhnya di atas kasur dan mulai
membuka pembicaraan dengan Latifah.
“Fah, kamu kenal kan dengan Safinah ? Dia itu
pendiam sekali ya..” ucap Zahrah.
“iya kenal. Kan kita satu kelas di SMA. Ada apa Ra
dengan Safinah ? sepertinya kamu penasaran sekali dengannnya.” sahut Latifah
yang tengah membaringkan tubuhnya juga di samping Zahrah.
“Hmm.. iya. Saya hanya penasaran dengannya. Tadi
sore saya melihat raut kesedihan di wajahnya.”
“Ah kamu ini sok tau. Dia kan dari dulu juga selalu
seperti itu, pendiam. Jadi terkesan seperti orang yang sedang bersedih.” jawab
Latifah.
“tapi yang tadi sore saya lihat itu berbeda Fah. Ya
meskipun dia pendiam, tapi setidaknya kita bisa membedakan raut muka orang yang sedang bersedih dan bukan.
Iya kan ?? timpal Zahra.
Sontak Latifah pun ingat akan kejadian di kelas
beberapa hari yang lalu. Ya, tepatnya hari selasa. Selepas mata pelajaran Bu
Tika, nama Safinah disebut oleh Bu Tika. Safinah pun langsung maju ke depan
meja guru menghampiri Bu Tika yang hendak menyampaikan suatu berita kepada
Safinah.
Latifah yang duduk di bangku depan tepat berhadapan
dengan meja guru tak sengaja mendengar pembicaraan mereka berdua.
“Safinah, sebelumnya ibu mohon maaf, ibu mengatakan
hal ini karena ibu merasa ini tanggungjawab ibu selaku wali kelas. Dalam daftar
keuangan, Safinah belum melunasi uang SPP selama 3 bulan. Kalau dalam jangka
waktu dekat tidak dilunasi, maka terancam tidak akan bisa mengikuti ujian
kenaikan kelas.” Bu Tika menjelaskan dengan penuh hati-hati agar Safinah tidak
merasa tersinggung.
“baik bu, InsyaAllah akan saya usahakan. Terima
kasih bu untuk pemberitahuannya.” Safinah menjawabnya dengan mata berkaca-kaca.
Setelah mengingat kejadian tersebut, Latifah pun langsung menceritakannya
kepada Zahra. Tidak hanya itu, Latifah juga memberitahu Zahra bahwa kemarin dia
mendengar kabar dari teman satu kamar Safinah. Safinah seringkali menangis.
Namun ketika ditanya dia tidak pernah mau berbagi cerita dengan teman-temannya.
Hari itu, secara tidak sengaja teman satu kamar Safinah melihat sebuah buku
catatan yang tergeletak di atas kasur dalam posisi terbuka. Lalu kemudian
membacanya. Temannya sangat kaget. Ternyata ibu Safinah sedang berada di rumah
sakit dan tepat 2 hari lagi harus segera
dioperasi sehingga membutuhkan biaya yang besar.
***
Udara di pagi hari terasa menyegarkan sehingga
membuat Zahra pun tak ingin melewatkan kenikmatan Sang Maha Pencipta ini.
Seperti biasa, aktifitas para santri setelah kuliah subuh adalah menyegerakan
untuk mandi dan mengadakan kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan asrama
sesuai jadwal piketnya masing-masing.
Pagi itu, Zahra bersama Latifah baru pulang dari
masjid setelah mengikuti kuliah subuh.. Di tengah perjalanan menuju asrama,
Zahra dan Latifah berpapasan dengan beberapa orang. Nampaknya mereka adalah
satu keluarga yang hendak memasukkan anaknya ke pondok pesantren Al-Huda. Salah
satu di antaranya kemudian menyapa Zahra dan hendak menanyakan sesuatu hal
kepada Zahra.
“Assalamu’alaikum, de.” sapa seseorang bapak-bapak
yang berumur sekitar limapuluh tahun.
“Wa’alaikumsalam.” jawab Zahra dengan senyum yang
mengembang di bibirnya.
“mohon maaf de, bapak ingin bertanya, tempat
sekretariat penerimaan santri baru dimana ?” tanya bapak tersebut.
“oohhh.. di situ pak.” ucap Zahra sambil menunjuk ke
arah gedung yang ada di sebelah kiri tempat mereka berdiri.
“terima kasih ya de.” balas bapak tersebut dengan
senyum yang penuh kebahagiaan karena telah berhasil menemukan tempat dimana ia
harus mendaftarkan anaknya sebagai santri baru di pondok pesantren Al-Huda.
Kini perhatian Zahra tertuju pada sesosok laki-laki
yang berada di samping bapak-bapak yang tadi. Dia merasakan ada getaran yang
berbeda di hatinya. Sontak Zahra pun langsung beristighfar memohon ampun kepada
Allah karena tak mampu menjaga pandangannya.
Latifah juga langsung menyadarkan Zahra dari
lamunannya. Seketika Zahra kaget ketika merasakan ada yang menepuk pundaknya.
“Zahraaa….”
Suara itu
terdengar mengagetkan Zahra.
“Astagfirullah..” ucap Zahra.
“kamu ini kenapa ? Kok tiba-tiba bengong ?” tanya
Latifah yang semakin tidak mengerti melihat sahabatnya seperti itu.
“Ah, tidak
apa apa.” sahut Zahra.
“jangan-jangan kamu terpesona sama pemuda yang
barusan lewat itu ya ?” sindir Latifah dengan tersenyum meledek Zahra.
“Hush, kamu ini ngomong ngawur bisanya. Jaga
pandangan.” sangkal Zahra yang kemudian beranjak meninggalkan Latifah.
“hmm.. sepertinya dia santri baru ya ?” tanya
Latifah sambil mengejar Zahra yang lebih dulu meninggalkannya.
“Ah, sudahlah tak usah kau pikirkan masalah itu.
Bukan urusan kita juga kan ?” jawab Zahra dengan nada yang agak tinggi.
Latifah hanya mengangguk berusaha mengiyakan setiap
perkataan sahabatnya itu. Sedangkan Zahra tetap mencoba untuk melupakan
kejadian yang barusan.
Sesampainya di asrama mereka langsung bersiap untuk
pergi ke sekolah. Pelajaran demi pelajaran mereka ikuti dengan baik hingga tak
terasa bel pun berbunyi sebagai tanda berakhirnya aktifitas pembelajaran di
hari itu.
***
Malam ini setelah sholat isya, kegiatan di pondok
pesantren Al-Huda adalah pengajian akbar yang di ikuti oleh seluruh santri
pondok pesantren Al-Huda. Pada acara ini juga sempat dikenalkan kepada para
santri bahwa hari ini ada seorang santri baru di pondok pesantren Al-Huda.
Zahra pun teringat akan pemuda yang dia dan Latifah
jumpai tadi pagi. Ternyata benar, pemuda tersebut bernama Faridh. Seorang
pindahan dari pesantren yang ada di tempat kelahirannya. Dia terpaksa pindah
karena mengikuti Ayahnya yang harus bekerja di luar kota.
Malam itu, Farid mengendap-ngendap memasuki sekitar
area asrama santri putri. Hal ini tentu akan menimbulkan akibat yang fatal jika
diketahui oleh para ustadz dan ustadzah atau pun oleh para santri yang lain.
Selain dapat menimbulkan fitnah, Faridh juga akan mendapatkan hukuman dari
komisi disiplin yang ada di pondok pesantren Al-Huda. Derap langkah Faridh yang
mencurigakan membuat Zahra yang sedang berada di dapur menjadi curiga dan
mencari sumber suara. Zahra sangat kaget ketika melihat ke arah jendela yang
ada di sampingnya. Hampir saja dia berteriak. Namun teriakannya seketika
tertahan setelah dia mengetahui bahwa yang meengendap-endap adalah Faridh.
Zahra kaget dan tak pernah menyangka mengapa Faridh berani memasuki area asrama
putri di malam hari.
“Faridh ?” tanya Zahra dengan suara pelan agar tidak
dicurigai oleh para santri yang lain.
“Ssssttt.. jangan berisik.” ucap Faridh berusaha menenangkan
kekagetan Zahra.
“Kamu sedang apa berada di lingkungan asrama putri ?
Sangat berbahaya jika ada orang lain yang mengetahui.”
“kamu jangan salah paham dulu. Saya sengaja datang
kesini karena ada yang ingin saya bicarakan.” jawab Faridh.
Faridh pun menjelaskan maksud kedatangannya
tersebut. Namun, di tengah perbincangan
mereka tiba-tiba ada salah seorang santri yang melihat Zahra dan Faridh tengah
berduaan di belakang asrama putri. Santri yang mengetahui langsung melaporkan
kejadian tersebut kepada komisi disiplin pondok pesantren. Dan tanpa basa basi
mereka berdua diadili di sebuah ruangan tempat santri-santri yang pernah
melakukan pelanggaran selama berada di pondok pesantren.
Malam itu menjadi malam bencana bagi Zahra dan
Faridh. Zahra yang terkenal tidak pernah melakukan pelanggaran di pesantren
kini telah tercoreng namanya. Berbagai berita tentang dirinya dan Faridh
menyebar cepat memecah kesunyian di malam itu.
Malam itu juga mereka diadili. Berbagai sorak sorai para
santri yang tidak setuju atas ulah mereka seakan menggemparkan ruang sidang.
Fitnah bertebaran dimana-mana.
Zahra tertekan dan merasa syok atas kejadian
tersebut. Dia tidak mengerti mengapa dirinya dapat jatuh ke dalam kesalahan
yang sedemikian rupa. Dia bahkan tidak mengerti mengapa orang-orang langsung
memvonis dirinya bersalah padahal dirinya tidak melakukan apa-apa. Fitnah
bagaikan api yang menjalar.
Di tengah – tengah gentingnya suasana, akhirnya pak
ustadz dan beberapa kyai hadir di tempat itu.
“Saudara Faridh, apakah anda mengetahui bahwa
memasuki lingkungan asrama putri secara diam-diam dan tengah malam adalah
sebuah kesalahan ?” tanya pak ustadz Hanafi membuka pembicaraan.
“Saya tau pak ustadz. Tetapi saya tidak ada tujuan
yang negatif.” jawab Faridh berusaha meyakinkan pak ustadz Hanafi.
“Bohong..bohong..!” teriak para santri yang hadir di
tempat siding.
“Semuanya diam !” teriak pak kyai yang mencoba
menenangkan suasana yang semakin memanas.
“Lantas apa maksud anda tengah malam datang ke
lingkungan asrama putri dan menemui Zahra ? Apa anda tidak tahu kalau berduaan
itu identik dengan pacaran ?” tanya Ustadz Hanafi dengan nada tinggi.
“Saya tahu pak ustadz . Tetapi saya datang ke asrama
putri karena saya ingin mengembalikan dompet atas nama Zahra yang terjatuh di
jalan.” jawab Faridh.
“Apa buktinya ? Sekarang dompetnya mana ? Tidak ada
kan ? Kamu jangan mengarang cerita Faridh !” ucap ustadz Hanafi.
“Saya bisa memberikan hukuman yang lebih berat kalau
kamu berbohong” ancam ustadz Hanafi.
“Kamu juga Zahra, mengapa kamu mau menemuinya di
tengah malam seperti itu ?” timpal para ustadz yang lain.
“Kami tidak pernah ada niat untuk berduaan di malam
hari pak, tapi…” jawab Zahra mencoba menjelaskan. Namun pembicaraannya terus
dan terus dipotong oleh pertanyaan yang bertubi-tubi.
Akhirnya Ustadz Hanafi selaku pimpinan komisi
disiplin memutuskan untuk memberikan hukuman kepada mereka berdua.
“Ya sudah, keputusannya kalian tetap divonis
bersalah dan akan diberikan hukuman yang berat atas kesalahan kalian.”
“Tunggu pak.” Sahut seseorang yang tiba-tiba datang dan
membuat orang – orang yang ada di tempat tersebut memusatkan perhatian padanya.
“Tidak sopan anda berbicara tanpa memohon izin
terlebih dahulu.” Ucap ustadz Hanafi.
“Maaf ustadz atas kelancangan saya. Tapi barusan
saya menemukan ini di belakang asrama putri.” ucap Safinah sembari menyodorkan
sebuah dompet milik Zahra.
Ustadz Hanafi pun langsung mengamati dompet tersebut
dan menanyakan kebenaran kepemilikan dompet yang dibawa oleh Safinah kepada
Zahra.
“Benar ustadz, itu dompet milik saya.” jawab Zahra
berusaha meyakinkan semua yang hadir di ruang sidang.
“Lalu Faridh, untuk apa kamu mengembalikan dompet
ini tengah malam ?” tanya Ustadz.
“Di dalam dompet tersebut terdapat secarik surat
milik Zahra yang akan dia kirim kepada orang tuanya. Bahwa dia baru saja mengambil uang di atm sebanyak duapuluh juta
yang akan disumbangkan kepada Safinah besok pagi untuk operasi yang akan
dijalani oleh orang tua Safinah. Oleh karena itu saya secepat mungkin harus
mengembalikan dompet ini. Dan kebetulan sekali ketika saya datang ke asrama
perempuan, saya bertemu Zahra. ” jelas Faridh.
Dan akhirnya jelas sudah duduk permasalahan yang
sebenarnya. Hukuman yang hendak dijatuhkan kepada mereka berdua dicabut
kembali. Ustadz Hanafi menyarankan agar lain kali jika ada yang menemukan benda
milik orang lain agar memberitahu Ustadz terlebih dahulu dan jangan bertindak
gegabah. Akibatnya akan fatal dan dapat menimbulkan hal – hal yang tidak
diinginkan. Ustadz Hanafi berharap agar kejadian seperti ini tidak terulang
kembali.
“Safinah, terima kasih ya.” ucap Zahra sambil
memeluk Safinah.
“Harusnya saya yang berterima kasih. Sungguh mulia
perempuan sepertimu. Rela berkorban untuk saya, orang yang tidak begitu kamu
kenal. Bahkan kamu rela berurusan dengan seluruh isi pondok pesantren hanya
karena ingin menolong saya.” Ujar Safinah.
“Semua ini saya lakukan karena Allah dan berkat
pertolongan Allah. patutlah Berterima kasih kepada Allah.” jawab Zahra.
Seketika itu air mata menetes di antara keduanya. Kini Safinah menyadari
akan pentingnya seorang teman dan pentingnya berbagi dengan seorang teman baik
dalam keadaan suka maupun duka.
Semua yang hadir di ruang sidang beristighfar.
Memohon ampun kepada Allah. Bahawa sesungguhnya ber-suudzon itu lebih capek
dibandingkan dengan ber-husnudzan.
Kejadian malam ini menyadarkan semuanya akan arti
sebuah persahabatan, keikhlasan, dan pentingnya berprasangka baik.
Serang, 17 Maret 2012