Minggu, 25 September 2016

SEMUA BERAWAL DARI MIMPI: LAELY FAROKHAH & ADITYA RAHMAN TERIMA BEASISWA LPDP

Serang, UPI
Siang hari yang begitu cerah. Kesejukan hadir di lingkungan sekitar Masjid Lukmanul Hakim begitu terasa Jumat (18/9/2015). Jamaah shalat Jumat khusyuk bermuwajahah dengan Sang Khalik. Seusai pelaksanaan shalat Jumat, lingkungan Masjid masih ramai dengan aktivitas mahasiswa yang mengikuti acara sharing bersama alumni UPI Kampus Serang, Laely Farokhah dan Aditya Rahman penerimabeasiswa LPDP. Tujuannya untuk mengetahui tips melanjutkan studi dengan beasiswa.
Acara dimulai dengan pengenalan beasiswa LPDP yang disampaikan oleh Laely Farokhah. LPDP adalah Lembaga Pengelola Dana Pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Keuangan yang mengeluarkan beasiswa pendidikan untuk program S2 dan S3. Lembaga ini memberikan beasiswa bagi mahasiswa yang sedang menyusun tesis dan disertasi.
Setelah menjelaskan mengenai LPDP secara singkat, Laely juga menceritakan pengalamannya ketika berjuang mendapatkan beasiswa LPDP. Berawal dari visi yang sama di antara Laely dan Aditya, mereka memutuskan untuk berkerja sama mencari informasi beasiswa S2, mulai dari mengikuti seminar beasiswa S2, konsultasi dengan dosen, serta secara aktif memanfaatkan media sosial. Akhirnya mereka tertarik dengan program beasiswa LPDP.1-1
Segala upaya dikerahkan untuk bisa lolos mendapatkan beasiswa tersebut. Di sela rutinitas semester akhir yang begitu padat, menyusun skripsi, PPL dan perkuliahan yang masih berjalan, mereka menyempatkan juga mengikuti les bahasa Inggris. Usaha yang mereka lakukan ternyata membuahkan hasil, sehingga mampu mendapatkan beasiswa LPDP. “Bermimpilah dan hiduplah bersama dengan mimpi kalian,” ujar Aditya Rahman
Menurutnya, ketika seseorang bermimpi mendapatkan sesuatu, maka orang tersebut harus hidup dengan berbagai aktivitas yang dapat menunjang mimpi tersebut. Aditya yang sedang mempersiapkan melanjutkan S2 di New Zealand, memperkenalkan cara untuk mempelajari TOEFL dan memberikan referensi agar dapat mempelajarinya secara mandiri. Dia juga memberikan tips memperbanyak kosa kata bahasa Inggris dengan membaca artikel bahasa Inggris minimal satu kali sehari.
Interaksi dengan peserta sharing semakin seru, peserta menanyakan tips untuk menghadapi tes wawancara, usaha agar skor TOEFL tinggi, sampai bagaimana mereka memperkuat ruhiyah. Ada juga sesi simulasi, di mana peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk tes wawancara dengan Adit dan Laely. Tujuannya agar peserta lebih leluasa mengetahui beberapa pertanyaan yang sering muncul.
Laely dan Aditya senantisa ingin memberikan manfaat bagi orang lain. Salah satunya dengan adanya acara ini. Mereka juga memberikan motivasi kepada peserta agar semangat dalam belajar, berusaha dan memperkuat potensi untuk menggapai semua mimpi, serta selalu mengedepankan restu dan doa orang tua. Kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas tak luput dari amanat mereka berdua dalam mewujudkan sebuah mimpi. Akhirnya mahasiswa pulang dengan semangat yang baru. (Pengurus MCC/RYD)

REPOST DARI BERITA UPI
http://berita.upi.edu/?p=5886

Menjadi Orang Tua Tangguh

Resume materi diskusi parenting :
Tema               : Menjadi orang tua tangguh
waktu              : Minggu, 25 sept 2016 @Whatsapp
Pemateri          : Yosi Molina, M.Psi - Dosen Psikologi UNP
Suatu hari, seorang ibu dari klien saya curhat. Beliau bingung, mengapa ilmu parenting yg ia baca dari buku, internet dan seminar2 kadang2 terasa tidak berpengaruh pada cara pengasuhannya terhadap anak2nya. Ia sangat tau kalau marah tidak boleh apalagi main tangan. Tapi mengapa, terkadang ia sulit mengontrol diri. Tiba2 semua ilmu parenting itu menguap. Dan ia merasa dirinya menjelma seperti sosok ibunya dulu. Marah dengan nada suara tinggi dan intonasi yang mirip ibunya marah padanya saat ia masih kecil. Bedanya, dulu ibunya marah dalam bahasa daerah sekarang ia marah dalam bahasa Indonesia. Artinya, perbedaan yg gak signifikan.
Nah, saudara2. Apakah ada yang merasakan hal yang sama. Jujur, saya yang bergumul dg teori2 ideal tentang psikologi perkembangan anak, pernah berada dalam kondisi demikian. Bahkan John Gray mengawali bukunya yg berjudul Children are from Heaven, juga menceritakan kalau dia juga pernah terjebak seperti jelmaan ayahnya saat emosi pada anak. Ternyata pada kondisi kita tertekan atau stress kita akan dikuasai oleh alam bawah sadar yg telah terbentuk di sepanjang periode perkembangan kita dari lahir. Kita akan bertindak tanduk seperti model yg kita lihat selama ini. Yaitu orangtua kita. 
Kondisi ini akan menjadi tantangan dari ketangguhan kita sebagai orangtua yg ideal. Dalam hal ini saya juga dalam proses belajar untuk tangguh, semoga sharing ini bisa bermanfaat untuk kita semua agar saling menguatkan untuk tangguh ya.
1. Apa pengertian orangtua tangguh?
Orangtua yg tangguh adalah 
~ mereka yg dapat bertahan dari situasi yang beresiko, 
~ yg dapat mempertahankan ketenangan dan kompetensinya dibawah tantangan atau ancaman, 
~ atau yang dapat "kembali" dari peristiwa yg menekan atau traumatik.
2. Kenapa harus menjadi orangtua yang tangguh?
Menjadi orangtua adalah suatu keniscayaan mengingat banyak faktor yang akan mempengaruhi kualitas parenting/cara pengasuhan kita sebagai orangtua terhadap anak. Untuk selanjutnya hal tersebut berpengaruh pada kualitas tumbuh kembang anak yang harus kita pertanggungjawabkan dunia dan AKHIRAT.
3. Tantangan menjadi orang tua
Bisa dilihat dari 3 aspek yaitu: 
1) Karakteristik orangtua
- Kepribadian
- Sejarah perkembangan
- Nilai dan keyakinan
- Pengetahuan dan wawasan
- peran gender
2) Konteks
- Jaringan Sosial
- Pekerjaan
- Hubungan pernikahan
- Struktur Keluarga
- Status sosioeconomic
- Budaya
3) Karakteristik Anak
- Temperamen
- Gender
- Kemampuan
- Usia
Setiap orang sebagai orangtua diuji ketangguhannya dari faktor yang berbeda2. Kurang lebih jabaran diatas adalah rumusan dari Martin & Colbert dalam buku Parenting a life span perspective. Ketika seseorang menjadi orangtua, ia akan membawa kombinasi yg unik dari sifat dan pengalaman. Orang dewasa juga memiliki keragaman dilihat dari tingkat kematangan, energi, kesabaran, kecerdasan dan sikap.
Karakteristik ini akan berpengaruh pada 
- sensitivitasnya terhadap kebutuhan anak,
- harapannya terhadap dirinya dan anaknya, 
- kemampuannya untuk mengatasi tuntutan dari perannya sebagai orangtua.
Sejarah perkembangan masa lalu kita sebelum jadi orangtua, sejak masa kanak2 akan berpengaruh besar. Ketika saya menangani kasus anak2, tidak jarang akhirnya harus merujuk orangtua dari anak tersebut untuk ditangani oleh psikolog dewasa. Bahkan kadang2 masalah anaknya tidak terlalu besar, yg bermasalah justru orangtua dari anak tersebut belum deal dengan masa lalunya. Belum lagi, ketika ketangguhan orangtua diuji oleh faktor eksternal diluar dirinya. Yang pasti ditemui adalah faktor pasangan, suami atau istri kita yang pasti memiliki karakteristik yg berbeda dg kita. Kepribadiannya, sejarah pengasuhannya, dst. Yg pasti butuh penyesuaian baik dalam hubungan pernikahan dan cara pengasuhan terhadap anak.
So, gimana caranya biar jd orangtua tangguh un, dengan segala bawaan dari orgtua itu sendiri, pun dari external.ortu?
1.        Kita mesti kuatkan faktor internal kita dulu.
Mesti deal dulu dengan masa lalu. Misalnya: setelah baca teori atau wawasan parenting ideal. Trus kita bisa menilai ternyata cara pengasuhan ortu kita dulu gak tepat. Gak ada gunanya kita menyesali dan menyalahkan orangtua. Karena hal ini bakal dari beban di kaki dan dipundak tuk bisa bergerak dan move on ke arah parenting yg positif. Karena pikiran kita masih dipenuhi hal negatif. Apalagi kalau setelah jadi orangtua kita masih tinggal dg orangtua kita. Sehingga terkadang praktek parenting terdahulu masih berlangsung ke level cucu. Nah disini benar2 sangat diuji ketangguhan tuk deal dengan kondisi orangtua kita yg terkadang diluar kontrol kita atau tidak mungkin kita kendalikan.
2.        Ketika merasa diri atau kepribadian kita tidak dalam kondisi prima.
Misalnya punya kecemasan, pikiran negatif atau sering bermasalah atau konslet dg orang lain terutama pasangan. Segera cari bantuan. Jangan segan2 tuk konsultasi dengan psikolog dewasa atau konsultan pernikahan. Hal ini sangat mengganggu tumbuh kembang anak dan kebahagian hidup kita.
3.        Dengan pasangan meski terbuka, tidak ada satu hal pun yg perlu ditutupi.
Bukankah pakaian kita pun sudah lepas dihadapan pasangan masing2. Nah, hal ini juga berlaku dg keterbukaan diri tentang berbagai hal seperti masa lalu, dan masa yang akan datang. Ketika masih ada yg kita tutupi, berarti itu gejala ada yg tidak beres dalam hubungan. Segera selesaikan, bicarakan sampai tuntas dan lega. Karena kalau ditahan bisa membesar dan seiring dengan waktu makin membesar dan meledak. Selama ini belum tuntas, kita gak bakal tangguh sebagai orangtua.
4.        Peran pasangan sangat signifikan.
Suami istri harus membangun tim yang tangguh dan saling menguatkan. Dengan tau kelebihan dan kelemahan masing2, adalah kunci kesuksesan untuk berhadapan dengan anak. Ketika sebagai ibu, sedang dalam tekanan, belum sepenuhnya mampu mengendalikan diri ketika berhadapan dg anak. Maka, ayah mesti tanggap mengambil alih untuk menetralisir keadaan. Begitu sebaliknya.
5.        Haram hukumnya, untuk menyalahkan/mengkritik pasangan  didepan anak.
Karena dapat menjatuhkan wibawa pasangan sebagai orangtua dimata anak. Dan secara otomatis, ketangguhan pasangan sebagai orangtua akan sulit dibangun untuk mengasuh anak tersebut. Apalagi sampai curhat ke anak tentang kelemahan pasangan. Hal ini tidak saja menghilangkan wibawa pasangan, tapi juga bisa merusak kepribadian si anak yang bingung tuk mencari figur atau model tuk identifikasi dirinya.
6.        Terakhir, selain berdamai dg masa lalu dan tuntas menyelesaikan masalah masa sekarang yg dihadapi.
Sebagai orangtua juga harus tangguh dan siap menghadapi masa depan yaitu anak yg terkadang penuh misteri juga. Anak2 dianugerahi Allah juga komplit dengan segala keunikannya. Nah kita juga harus siap menghadapi ujian lewat BAB anak ini.
Closing statement: 
Tuk jadi pribadi orangtua yang tangguh kita mesti ingat 3 hal:
1. Deal dengan masa lalu yg berpengaruh pada karakteristik pribadi kita
2. Clear dengan tugas masa sekarang terkait konteks yg dihadapi: pekerjaan, pasangan, jaringan sosial, budaya dsb
3. Prepare dengan masa depan terkait dengan karakteristik anak yg penuh misteri: temperamen, kemampuan, gender dsb
Semoga ilmunya bermanfaat :)

Minggu, 18 September 2016

TAK SEKADAR MIMPI DI MALAM HARI

Terlahir di sebuah sudut kabupaten bernama Cirebon, di ujung perbatasan di sebuah desa yang telah banyak memberikan arti kehidupan, saya hidup ditengah keluarga yang sangat menjunjung tinggi makna pendidikan. Laely Farokhah, nama lengkap yang diberikan oleh almarhum Bapak, nama yang selalu mengingatkan saya akan sebuah makna Laely yang memiliki arti “malam”. Malam yang selalu menawarkan mimpi bagi siapapun makhluk di dunia ini. Malam yang selalu menjadikan saya berani untuk menulis setiap mimpi dan asa yang terbersit di dalam diri. Malam yang seketika membawa ingatan kembali ke masa 5 tahun silam.
Kala itu, saya masih menikmati senda gurau masa putih abu-abu. Benar kata orang jika masa putih abu-abu adalah masa yang paling indah. Masa-masa menyemai mimpi. Dulu saya tak pernah peduli dengan apa itu artinya mimpi. Sampai pada suatu ketika saya bertanya kepada diri saya sendiri, “mau kemana setelah lulus sekolah?”. Jelas masih teringat masa di tahun 2011, ketika mendapatkan pertanyaan itu masih mengenakan seragam putih abu-abu. Duduk dibangku kelas tiga sekolah berstatus negeri di kabupaten Cirebon. Saya masih ingat betul bagaimana perasaan saat itu. Bingung ??!. Ya, Bingung menentukan hendak kemana setelah lulus nanti. Kuliah ??! Jelas itu menjadi dambaan mayoritas orang.
Tak pernah terbayangkan sedikit pun bisa menikmati duduk di bangku perkuliahan, merasakan menjadi mahasiswa, dan mengenal sosok dosen. Tiga tahun menikmati dunia putih abu-abu bagi saya sudah cukup membahagiakan. Pasalnya tidak semua anak-anak di kampung bisa bersekolah di jenjang pendidikan menengah atas. Dunia perkuliahan benar-benar sebuah mimpi besar bagi saya, bagaimana tidak saya hanyalah anak seorang pemilik warung yang sehari-harinya menggantungkan hidup dari penghasilan berjualan di warung.
Perjuangan pun baru akan dimulai, tahun 2011 adalah tahun perjuangan seorang anak lulusan SMA yang belum tau kemana akan dibawa masa depannya. Berawal dari seorang guru BK yang sangat bermurah hati untuk membagikan informasi seputar beasiswa. Saya pun direkomendasikan oleh pihak sekolah sebagai pelamar beasiswa Bidikmisi. Ya, di tahun ini beasiswa Bidikmisi jelas masih terdengar sangat asing di telinga. Begitupun dengan guru di sekolah. Keterbatasan inilah yang akhirnya membuat saya untuk berjuang sendiri.  
Berbekal tawakal dan ikhtiar, segala upaya dan proses terlewati. Saya teringat sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang memiliki arti “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. Sungguh jelas terbukti. Pencarian kini berujung manis ketika membaca sebuah tulisan “Selamat Anda diterima di PGSD UPI Kampus Serang”, kurang lebih seperti itu tulisan yang terbaca pada saat pengumuman. Ya, senang bukan main perasaan saya saat itu. Terlebih selang setelah beberapa minggu setelah pengumuman SNMPTN, saya melihat sebuah nama yang tak asing jelas berada di deretan daftar penerima beasiswa Bidik Misi UPI. Sungguh usaha yang besar akan dibalas dengan hasil yang besar.
September 2011, pertama kalinya saya menghirup udara di sebuah kampus bernama Universitas Pedidikan Indonesia. Ya, Kampus UPI tetapi bukan di Bandung. Sebuah kampus nun jauh di provinsi yang terkenal dengan Badak Bercula Satu. Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Serang, nama yang terdengar asing bagi sebagian orang yang hanya sebatas mengenal kalau UPI itu ya di Bandung. Sebuah kampus daerah yang hanya memiliki dua jurusan, pendidikan guru sekolah dasar dan pendidikan guru PAUD. Ah, tak peduli kalau tempatku berpijak saat ini adalah kampus daerah. Saya bersyukur bisa kuliah. Itu saja.
Seperti kata mereka, mahasiswa baru selalu mencari jati diri, hasratnya untuk mencoba-coba segala sesuatu hal yang baginya belum pernah ia temukan membawanya menjajaki setiap dunia baru. Masa-masa awal perkuliahan saya selalu berpikir bahwa menjadi mahasiswa Bidikmisi cukup dengan fokus kuliah dan mendapatkan nilai IPK yang besar. Dengan begitu, status Bidikmisi saya masuk dalam kategori aman dan sudah memenuhi kewajiban sebagai seorang mahasiswa Bidikmisi.
Ternyata semuanya salah besar, pemikiran itu seketika berubah ketika saya bertemu dengan 17 orang penerima beasiswa Bidikmisi di UPI Kampus Serang. Saat itu kami tersadar jika beasiswa ini adalah uang rakyat. Uang yang pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan suatu hari nanti. Kesadaran inilah yang membuat 17 orang tersebut bertekad membuat sebuah forum bernama Lingkar Bidikmisi UPI Kampus Serang, mengikuti jejak Lingkar Bidik Misi di kampus pusat. Forum yang kemudian menjadi wadah bagi kami untuk mencicil hutang kepada rakyat Indonesia.
Berawal dari sebuah forum kecil yang berjumlah belasan, terus bertambah hingga kini berjumlah ratusan. Forum ini yang akhirnya mendorong kami untuk mengabdi kepada kampus dan masyarakat. Berbagai kegiatan dan ide muncul dari tempat ini. Mulai dari kegiatan belajar bersama demi menunjang nilai akademik hingga bakti sosial kepada mereka yang membutuhkan.
Sebagai penerima beasiswa Bidikmisi, saya selalu berusaha dan termotivasi agar dapat memberikan hasil belajar yang terbaik. Hingga saya mendapat undangan dari Dikti untuk mengikuti kegiatan Forum Bidikmisi Nasional (Forbiminas) di Jakarta. Sebuah apresiasi besar yang diberikan oleh Bapak Menteri Pendidikan kepada 500 penerima Bidikmisi sebagai mahasiswa Bidikmisi berprestasi. Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari acara ini. Acara yang memberikan banyak manfaat. Saya merasa sangat berbahagia dapat bertemu dengan menteri pendidikan Bapak M. Nuh, Direktur Dikti Bapak Djoko Santoso, Direktur bagian kemahasiswaan Ibu Ila Sailah, Enterpreneur luar biasa Bapak Chairul Tanjung, para pemateri pada Forbiminas dan sosok-sosok hebat lainnya yang hadir pada acara tersebut. Mereka merupakan orang-orang hebat yang sangat menginspirasi bagi diri saya.
Fase demi fase terlewati selama menjadi mahasiswa. Tahun 2013 adalah awal memasuki babak kehidupan organisasi kemahasiswaan di kampus dengan bergabung di kepengurusan BEM dan UKM. Hingga pada akhirnya di tahun 2014 saya diberikan amanah sebagai wakil presiden mahasiswa BEM REMA UPI Kampus Serang. Sebuah amanah yang telah mengajarkan banyak pelajaran hidup. Sebuah amanah yang telah mengajarkan bagaimana menjadi “sebaik-baiknya manusia”. Amanah sebagai wakil presiden mahasiswa yang setiap harinya mengabdikan diri untuk masyarakat kampus bukanlah hal yang mudah. Modal niat dan semangat untuk membantu orang lain lah yang menjadi semangat besar bagi saya. Tidak banyak orang yang memiliki anggapan positif terhadap aktifis kampus. Terkadang banyak yang beranggapan bahwa menjadi aktifis kampus hanya membuang-buang waktu dan mengambaikan kegiatan akademik.
Sebagai penerima Bidikmisi, ada tanggungjawab besar dipundak yang harus ditunaikan selain kewajiban akademik. Berlatar belakang jurusan kependidikan, Melalui wadah organisasi, digagaslah kegiatan-kegiatan pengabdian pendidikan di wilayah pelosok Banten. Beberapa program pengabdian masyarakat tersebut pernah dilaksanakan di kecamatan pamarayan, Serang dan di sebuah pulau di ujung Serang yaitu pulau panjang. Pengabdian ini tentunya belum seberapa dengan pengabdian orang lain yang lebih luar biasa di luar sana.
Demi mendapatkan dana lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup di tanah rantau, saya bekerja sebagai pengajar les untuk anak sekolah dasar. Hampir 2 tahun saya menjalani aktifitas ini. Malam-malam yang seharusnya saya lewati untuk beristirahat atau sejenak melepas penat bersama kawan di kos pun saya korbankan demi tidak lagi membebani kedua orang tua.
Masa-masa menjadi mahasiswa tidak selamanya berjalan sesuai keinginan. Tahun 2014 menjadi masa-masa sulit dimana saya harus menyeimbangkan kegiatan akademik dan organisasi. Kesibukan dalam mengemban amanah sebagai wakil presiden mahasiswa tentunya membagi fokus saya di kampus. Waktu luang di sela-sela kegiatan perkuliahan kini penuh dengan jadwal rapat dan kegiatan program kerja BEM.
Meskipun disibukkan dengan aktifitas organisasi dan mengajar, semangat untuk berprestasi harus tetap ada. Sebuah kesempatan yang tidak terduga bisa mewakili UPI Kampus Serang dalam ajang seleksi mahasiswa berprestasi dan meraih peringkat XI tingkat universitas. Sebuah pencapaian yang manis saat saya menyadari bahwa nilai akademik tetap terjaga meskipun dengan sederet aktifitas di organisasi, bahkan sebuah kejutan lain muncul, saya kembali diberikan kesempatan untuk bisa mengikuti Silaturahmi Akbar Mahasiswa Bidik Misi bersama Presiden SBY di Jakarta. Sebuah kehormatan bagi mahasiswa Bidik Misi yang bisa ikut serta berpartisipasi dalam acara tersebut.
Akhirnya usaha yang telah dilakukan membuahkan hasil. Hari itu, seorang anak pedagang warung mampu menyelesaikan studi dengan baik dengan IPK 3,84, meraih predikat cumlaude peringkat ke-3 se-UPI Kampus Serang. Sebuah prestasi yang membuktikan bahwa mahasiswa Bidikmisi bisa berprestasi. Mahasiswa Bidikmisi yang tidak hanya unggul di IPK tetapi juga memiliki prestasi dan pengalaman organisasi.
10 September 2015, saya resmi menghadiri prosesi wisuda sarjana pendidikan di gedung Gymnasium UPI. Hari itu pula saya seperti mendapat rezeki durian runtuh. Saya lolos seleksi sebagai penerima beasiswa LPDP Afirmasi Batch 2 Tahun 2015 program Magister Dalam Negeri. Sebuah perjalanan dan perjuangan yang besar untuk bisa sampai di fase ini. Kini saya resmi bergelar sarjana pendidikan, menggapai cita-cita menjadi seorang pendidik. Selama 4 bulan saya mengabdikan diri menjadi guru dan operator sekolah di sebuah SD negeri di ujung Kabupaten Cirebon. Hingga saat ini Allah kembali memberikan amanah untuk melanjutkan perjuangan menuntut ilmu di jenjang magister. Melalui beasiswa Bidikmisi, saya berhasil menghidupkan mimpi yang dulu hanya sebatas coretan di atas kertas.
Saya percaya bahwa Bidikmisi adalah pengubah segala ketidakmungkinan. Mimpi yang sempat terputus lalu kemudian tersambung. Bidikmisi seperti jembatan hidup bagi kami, menghidupkan harapan-harapan kami, orang-orang yang memiliki keterbatasan ekonomi.  Melalui Bidikmisi saya bisa berjuang untuk menggapai cita-cita. Saya bisa merasakan indahnya duduk di bangku kuliah universitas negeri yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Bisa menjadi seorang penerima beasiswa Bidikmisi tentunya bukan pula suatu kesombongan. Tetapi ini justru ini menjadi amanah besar di pundak setiap penerima Beasiswa Bidikmisi. Tepat pada saat menulis kisah ini, kini saya telah mengemban amanah baru. Tugas baru untuk menuntaskan kuliah program Magister pendidikan dasar di Universitas Pendidikan Indonesia. Semoga saya bisa mengemban amanah ini layaknya mengemban amanah Bidikmisi. Rasa syukur saya ucapkan kepada Allah SWT dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Kemendikbud yang telah mencetuskan dan mengupayakan program beasiswa Bidikmisi.
Terima kasih Bidikmisi !
Cirebon, 29 Juli 2016

Alhamdulillah, sebuah rasa syukur karena tulisan ini terpilih untuk dibukukan dengan judul “Para Pembidik Mimpi : 99 Kisah Penerima Bidikmisi Berprestasi

SIMULASI

Jam dinding tepat menunjukkan pukul sebelas malam. Malam kian menampakkan kesunyiannya. Kini sudah tidak terdengar lagi suara gaduh para penghuni rumah kontrakan. Detak – detak jarum jam semakin jelas terdengar di telingaku menerobos keheningan malam itu. Aku memencet tombol di handphone-ku mengakhiri perbincangan di telepon malam itu.
Telingaku sudah cukup panas setelah  dua jam mengobrol dengan kawan lamaku. Ingin rasanya aku merebahkan tubuhku di atas kasur yang sudah sedari tadi melambai – lambai ke arahku. Selang beberapa detik setelah merebahkan tubuh di atas kasur, handphone kembali berbunyi menandakan ada pesan baru bertuliskan “besok jangan lupa tugas makalah pedagogik harus sudah selesai”. Dan tampaknya aku harus mengurungkan niat untuk memejamkan mata saat itu juga.
Namun kesunyian malam yang senyap dan rasa lelah tak mampu menahan rasa kantukku. Sayup – sayup mataku pun mulai terpejam meninggalkan malam dan suara detak jarum jam yang sedari tadi terdengar di telingaku.
***
Aku terbangun pukul tiga dini hari. Entah apa yang membuatku terbangun. Rasanya seolah tiba – tiba ada yang menepuk pundakku. Tanganku meraba – raba ke sekeliling kasur mencari – cari handphone milikku. Aku terperanjat seketika setelah tersadar bahwa handphone-ku tidak ada.
“Hilang !” satu kata yang ada dalam pikiranku saat itu.
“Kemalingan ???? ah mana mungkin.” Pikirku.
Tanganku pun langsung menggoyang-goyangkan tubuh Winda yang masih terlelap dalam tidurnya. Winda mulai merasakan ada yang menggetar- getarkan tubuhnya. Aku pun langsung menceritakan perihal handphone-ku yang menghilang entah kemana. Winda menekan beberapa tombol handphone-nya berusaha untuk menghubungi nomor handphone-ku.
“tuuuuuuuuuuutttttt…..” terdengar suara seperti itu. Aku menggeledah semua sudut kamar. Tapi tak juga kudengar selain bunyi kegaduhan kami berdua. Namun, selang beberapa detik kemudian telepon terputus dan tidak terdengar lagi suara seperti itu.
Untuk kedua kalinya Winda berusaha menghubungi nomor handphone-ku. Tetapi yang terdengar hanyalah “Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi.”
Itu artinya handphone-ku dinon-aktifkan. Segala macam bentuk dugaan berkecamuk di pikiranku saat itu. Aku kembali berusaha mengingat–ingat kejadian semalam sesaat sebelum aku terlelap tidur. Aku kembali memutar memori otakku. Yang ku ingat hanyalah semalam sesaat sebelum mataku terpejam, aku meletakkan handphone-ku di atas sebuah koper milik Winda yang tepat berada di bawah jendela kamar.
Jendela. Satu kata kunci yang ada di otakku saat itu. Tanpa pikir panjang tanganku langsung meraih ujung hordeng yang terpasang di jendela kamar.
“Sreeet..” bunyi besi pengait hordeng yang saling bergesekan di jendela.
“Astaga !” mataku langsung terbelalak melihat jendela yang terbuka lebar tanpa sepengetahuan aku dan Winda. Tubuhku lemas terkulai di lantai. Winda berusaha menenangkanku. Kamarku benar-benar kemalingan.
Aku ingat betul sorenya aku menutup hordeng karena  berniat untuk berganti pakaian setelah selesai mandi. Dan aku lupa membuka hordengnya lagi. Kesimpulannya malam itu aku dan Winda tidak sadar kalau jendela kamar kami masih terbuka.
Mungkin maling yang tak berprikemanusiaan itu kebetulan lewat kontrakanku dan melihat jendela kamarku yang masih terbuka kemudian dia melihat sebuah handphone yang dengan mudah dapat disentuh dengan jari – jari tangannya. Atau mungkin saja dia sengaja melancarkan aksinya pada malam itu dan rumah kontrakan inilah yang akan dijadikan sasaranya malam ini. Ah, tak tahu lah. Beberapa pikiran negatif sempat singgah di otakku.
Winda buru - buru mengetuk kamar pemilik rumah kontrakan. Kebetulan malam itu pemiliknya menginap di rumah ini. Kami langsung mengadukan kejadian ini kepada pemilik kontrakan. Kegaduhanku dan Winda membuat para penghuni kontrakan yang lainnya ikut terbangun dan turut prihatin atas musibah yang baru saja kualami. Tapi apalah artinya sebuah penyesalan. Aku sadar ini akibat dari kelalaianku sendiri yang lupa untuk membuka hordeng kembali sehingga hordeng dalam keadaan tertutup dan tidak tembus pandang yang mengakibatkan kami berdua tidak saling mengetahui kalau jendela kamar masih dalam posisi terbuka.
Aku tertunduk lesu. Seketika itu bayanganku melayang pada sebuah peristiwa yang terjadi tepat pada perayaan hari ulang tahunku, 10 November 2007. Satu bulan yang lalu usiaku genap delapan belas tahun. Sebuah tradisi yang tidak pernah terlewatkan oleh semua orang yang tinggal di kontrakan kami adalah memberikan kejutan kepada salah satu dari kami yang sedang merayakan hari ulang tahunnya. Namun, kejutan ini bukanlah kejutan yang membahagian akan tetapi mengerikan di mata mereka.
 Hari itu tepatnya hari selasa. Hatiku cemas dan gelisah. Ingin rasanya cepat melewati hari ini. Aku takut kalau aku lah yang akan dijadikan sasaran mereka di hari ini. Sepulang kuliah, sengaja aku langsung mengunci pintu kamar dan mengurung diri di dalam kamar. Aku takut akan bernasib sama dengan teman–temanku yang sudah pernah dijadikan korban mereka.
Biasanya mereka mengikat korbannya di tiang jemuran yang ada di halaman belakang rumah. Kemudian dengan sadisnya mereka menyiramkan air yang sudah dicampur dengan pewarna dan beraneka ragam bahan lainnya. Kemudian mereka juga melempari kepala dan rambut korban dengan telur ayam kampung. Kemudian menaburi kepalanya dengan tepung terigu. Korban layaknya sudah seperti adonan kueh yang siap untuk dimasak. Mereka tertawa  terpingkal-pingkal merasa puas karena telah memberikan kejutan yang luar biasa menurut mereka.
Aku terhenyak tak kuat membayangkan jika aku yang harus mengalaminya. Aku hanya sesekali keluar kamar untuk mengambil nasi dan pergi ke kamar mandi. Jika di tanya aku hanya menjawab kalau aku sedang tidak enak badan. Mereka yang bertanya hanya mengangguk ringan berusaha mengiyakan alasanku.
Malam harinya aku terpaksa keluar kamar dan meminta izin keluar rumah untuk mencari makanan. Perutku yang lapar rasanya sudah tak bisa dikompromi lagi. Di tengah jalan aku baru ingat kalau handphone-ku tertinggal di kamar. Sepulang ke rumah aku langsung menuju kamarku. Namun yang kulihat kamarku terkunci. Aku bertanya kepada Winda. Namun Winda hanya menggeleng.
Lama aku dan Winda menunggu akhirnya pemilik rumah kontrakan kami pun datang. Aku segera mengadukan kejadian ini pada beliau. Pak Sumardi mengaku kalu dia memiliki kunci cadangan semua kamar yang ada di rumah ini untuk mengantisipasi kalau – kalau ada kejadian seperti ini. Baru saja gagang kunci menyentuh lubang yang ada di pintu, terdengar suara teriakan dari salah satu temanku.
“Tunggu !” Adel datang menghampiri kami. Terlihat tangannya menggenggam sebuah kunci dengan gantungan kunci yang rasanya aku kenal.
“kenapa Adel ?” tanyaku
“Apa – apaan sih kamu ? pake ngadu sama Pak Sumardi segala !” Pekiknya sambil menyodorkan kunci padaku.
Ternyata Adel sengaja iseng mengunci kamarku ketika melihat kunci kamarku masih menggantung di gagang pintu.
Setelah kamar terbuka aku langsung menggeledah setiap sisi kamar. Namun tak kutemukan juga handphone milikku. Aku ternganga ketika melihat jendela kamar yang terbuka lebar. Tidak mungkin kalau kamarku kemalingan. Kecurigaanku muncul ketika aku melihat handphone Winda yang masih utuh sedangkan handphone milikku sudah tidak ada. Padahal jelas aku meletakkan handphone-ku persis di dekat handphone milik Winda. Mana mungkin  ada maling yang pilih-pilih. Aku yakin ini Cuma akal – akalan mereka saja untuk mengelabuiku karena memang hari ini adalah hari ulang tahunku.
Kecemasanku bertambah parah ketika Pak Sumardi mengetahui hal ini. Beliau memintaku untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Kemudian Pak Sumardi bergegas keluar untuk mengecek jendela kamarku dari luar. Tiba – tiba beliau menunjukkan sesuatu kepada kami.
“Bapak menemukan ini di dekat jendela kamu.” Sambil menyodorkan sebatang kayu di seberang jendela.
Pikiranku semakin kacau.
“kemungkinan pencurinya menggunakan kayu ini untuk mengambil handphone.” Jelas Pak Sumardi.
Aku benar – benar bingung, antara percaya dan tidak. Tangis pun pecah seketika. Beberapa dari mereka mencoba menenangkanku. Aku hanya terdiam. Sesekali masih sesenggukan sambil mengeluarkan air mata.
Selang beberapa menit setelah tangisku mereda. Tiba – tiba listrik di kontrakkan kami padam. Aku pikir malam ini kontrakkan kami mendapat giliran pemadaman listrik. Tapi ternyata tidak. Sayup-sayup kulihat nyala cahaya lilin dari bola mataku yang semakin membengkak. Dan lantunan lagu ucapan selamat ulang tahun.
Aku tertipu. Masih saja aku bisa tertipu oleh ulah mereka. Aku masih terus menangis. Entah karena kesal atau terharu.
Namun yang kurasa sekarang bukanlah sebuah kejutan yang diberikan oleh teman – temanku satu bulan yang lalu. Ini benar – benar nyata. Mungkin satu bulan yang lalu adalah simulasi dari kejadian di pagi ini. Tuhan sudah mengingatkanku. Hanya aku yang tidak peka dengan peristiwa satu bulan yang lalu itu.
Handphone Samsung Champ keluaran beberapa tahun yang lalu ini kini telah raib. Handphone yang kubeli dengan susah payah kini telah berpindah tangan. Tubuhku terkulai lemas ditemani suara detak jarum yang semakin berpacu dengan waktu.

Serang, 3 Maret 2012

METROMINI

“breeeeemmmmm…” suara deruman mobil metromini melintas di depanku.
Bentuk tubuhnya yang kian lama semakin usang tak membuatnya semakin ditinggalkan orang. Ekor knalpotnya yang selalu mengeluarkan kepulan asap hampir tak pernah menghiraukan setiap kritikan yang keluar dari mulut para pelintas jalanan. Dia tetap melaju dan terus melaju di bawah kemudi sang supir.
Sudah hampir dua tahun lamanya aku memakai jasanya. Perkenalan pertamaku dengannya terjadi ketika aku harus masuk ke sekolah menengah atas milik pemerintah yang jauh dari tempat tinggalku. Dua puluh kilometer setiap harinya harus aku tempuh dengannya. Empat puluh lima menit harus ku habiskan waktuku bersamanya di setiap pagi menjelang. Rasanya aku sudah begitu akrab dengannya.
Berbagai jenis lapisan masyarakat berjejal di dalam angkutan ini. Terkadang sesekali aku harus mengalah memberikan tempat dudukku kepada sosok – sosok yang tua renta. Aku tak tega jika harus melihat sosok – sosok  ini terkatung – katung berdiri berdesakkan dengan para penumpang lainnya. Lebih tak tega lagi jika sama sekali tak ada yang peduli dengan sosok – sosok ini. Pernah suatu ketika aku tidak berhasil mendapatkan tempat duduk. Kemudian aku melihat seorang nenek paruh baya melangkahkan kakinya ke dalam metromini yang ku naiki. Dengan tergopoh – gopoh ia mengangsurkan barang – barang dagangannya ke dalam metromini. Aku memapah barang – barang dagangannya, mencoba untuk membantu kerepotan yang sedang di alaminya.
“Terima kasih, Nak.” Ucapnya kepadaku.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
 Dia kembali memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari – cari barangkali masih ada tempat duduk yang tersisa untuknya. Namun ternyata hari itu di setiap bangku metromini sudah di penuhi oleh banyak kepala.  Ada yang terkantuk – kantuk, ada yang dengan khusyu membaca buku, dan ada juga yang asyik mengobrol dengan orang yang duduk disebelahnya tanpa ada rasa prihatin sedikitpun pada sosok yang sudah renta ini. Sungguh ironi. Tak ada yang menyodorkannya tempat duduk. Bahkan untuk meliriknya saja enggan. Ah ! kemana jiwa saling tolong menolong pemuda pemudi di negeri kita. Mungkin hanya tinggal sekelumit saja yang masih memilikinya.
***
Aku memasang posisi tangan kananku dan mengulurkannya ke depan kemudian menggerakkannya seolah melambai – lambai ke arah benda merah mengkilat yang tampak dari kajauhan semakin mendekatiku. Sebuah metromini tepat berhenti di depan tubuhku yang masih berdiri tegak melawan teriknya matahari siang ini. Secepat mungkin kulangkahkan kakiku ke pintu masuk angkutan ini. Aku pun langsung mencari tempat duduk yang menurutku paling nyaman. Siang ini aku beruntung masih berkesempatan memilih tempat duduk.
Lima menit sudah perjalananku. Kulihat Pak supir metromini kembali merapatkan angkutan ini ke pinggir jalan perempatan Tegal Wangi. Tampak dari jendela kulihat kernet metromini mondar – mandir di jalan perempatan sambil berteriak menawarkan jasa metromininya. Belakangan ini teman – temanku sering memanggilnya Bang Edo. Aku lumayan hafal dengan wajah supir dan kernet metromininya karena  jumlahnya yang tidak banyak dan setiap hari pula aku naik metromini.
“Ciruas Bu ? Ciwaru ? Ayo Bu langsung jalan.” Ajak Bang Edo yang berumur sekitar tiga puluhan sembari menunjuk – nunjuk ke arah metromininya.
Obrolan singkatpun terjadi antara Bang Edo dengan ibu – ibu yang berjejer di sepanjang jalan perempatan Tegal Wangi. Namun yang kulihat, setiap orang yang ditemuinya hanya menggeleng – gelengkan kepala. Sementara, di dalam metromini suara riuh penumpang mulai terdengar. Beberapa kata bernadakan amarah keluar dari mulut mereka. Mungkin terik matahari inilah yang membuat mereka enggan berlama – lama di dalam metromini. Begitu juga dengan bau keringat basah dan aroma – aroma lainnya bercampur aduk di dalam metromini yang membuat sang supir untuk segera menjalankan mesin metromininya dan kembali melaju meninggalkan perempatan Tegal Wangi.
Selang beberapa menit setelah meninggalkan perempatan Tegal Wangi, dua orang pemuda berumur sekitar seperlima abad dan seorang anak kecil seumuran anak SD masuk ke dalam metromini. Salah satu di antaranya menenteng sebuah gitar kecil. Bermodalkan suara dan alat musik yang seadanya mereka bernyanyi seolah bermaksud menghibur kami. Yang kulihat di sekelilingku adalah sikap acuh dan tak sedikit yang mencibir mereka. Gaya berpakaian pemuda – pemuda ini mungkin yang menimbulkan kesan negatif di mata mereka. Kudengar celetukan orang yang duduk dibelakangku.
“Masih muda kok ngamen ?” Sambil memasang wajah cemberut dan senyum kecut.
Selepas menyanyikan dua buah lagu, pemuda – pemuda itu menyuruh anak kecil yang berkaus lengan pendek itu untuk menyodorkan sebuah bekas bungkus permen kepada para penumpang meminta upah atas hiburan mereka. Tak banyak orang yang mau memberikan uang recehnya kepada pemuda – pemuda ini. Kebanyakan dari mereka bersikap acuh tak acuh atau berpura –pura tidur agar tidak disodorkan bekas bungkus permen juga oleh para pengamen itu.
Aku cukup iba kepada mereka yang hidupnya terlunta – lunta dijalan tanpa tujuan yang pasti akan bagaimana hidup mereka selanjutnya. Umurnya yang masih muda seharusnya masih memungkinkan mereka untuk bekerja ketimbang mengamen. Mungkin faktor kurangnya lapangan kerja inilah yang membuat mereka mengambil jalan pintas sebagai seorang pengamen. Aku lebih iba lagi dengan sosok anak kecil yang mereka suruh untuk meminta – minta uang pada penumpang. Di usianya yang masih kecil seharusnya dia berhak menikmati dunianya. Bermain dengan teman sebaya atau melakukan aktifitas apa pun yang membuatnya merasakan kebebasan. Tidak seperti saat ini yang harus berkeliling dari satu angkutan ke angkutan lainnya. Dua lembar ribuan kumasukkan kedalam kantong bekas bungkus permen yang ia sodorkan.
Dua puluh menit lagi perjalananku selesai. Dua perempatan lagi yang harus kulewati agar bisa sampai di rumah. Di perempatan yang pertama, metromini kembali menepi untuk menurunkan penumpang. Tak lama setelah metromini menepi tiba – tiba salah satu dari penumpang yang akan turun diperempatan itu berteriak. Sontak seluruh mata tertuju padanya. Dia mengadukan ternyata handphone miliknya hilang dan menemukan resleting tasnya dalam keadaan terbuka. Ternyata telah terjadi tindak kriminal di metromini ini.
Pikiranku sesaat melayang membayangkan apa yang telah kulihat dan kudengar di sini. Sebuah metromini mampu memutar sebuah tayangan kehidupan yang sebenarnya. Melihat sebuah fakta dan realitas yang terjadi di masyarakat saat ini. Bagiku metromini ini di dalamnya ada banyak potret kehidupan dimana aku bisa belajar menghargai sesama manusia dan bersyukur atas nikmat kehidupan yang kumiliki saat ini.
***
“Ciwaru, Ciwaru, Ciwaru…..” teriak Bang Edo.
Akupun terkejut. “Lho Bang, kok Ciwaru ? Perempatan Ciruas sudah kelewat ?”
“Lha, sudah dari tadi, Neng.”
Ternyata tadi aku sempat ketiduran. Cepat saja aku langsung menuju pintu keluar metromini.
“Kiri, kiri, kiri, kiri,…..” sambil mengetuk – ngetuk pintu metromini berharap pak supir mendengar teriakanku.
Tanpa sadar aku menginjak tali sepatuku yang terlepas dari ikatannya. Aku pun turun dalam keadaan terjatuh dan menanggung malu. Orang – orang yang melihatku terjatuh ada yang berteriak dan tak sedikit juga yang tertawa terbahak – bahak. Aku hanya menunduk. Tak berani memandang mereka.
Metromini kembali melaju meninggalkan aku dan rasa maluku di pinggir jalan perempatan Ciwaru. Akhirnya aku harus memutar balik. Dan aku harus menunggu metromini berikutnya dari arah yang berlawanan dengan posisiku sekarang.

Serang, 15 April 2012

Siang ini di kota Metropolitan

Tepat pukul jam satu siang pesawat mendarat di Bandara soekarto Hatta. Suara gaduh dari para penjemput di pintu kedatangan semakin memperkeruh suasana di bandara. Diska hanya sendiri termenung di depan pintu gerbang bandara. Dia berharap ada sanak saudaranya yang rela untuk menjemputnya di bandara.
Satu jam berlalu sudah, tak ada tanda – tanda bahwa akan ada yang datang menjemputnya di bandara. Diska pasrah dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah sendirian. Dia sadar kalau kesibukan kedua orang tuanya lah yang membuat mereka tidak bisa menjemput kedatangannya di bandara.
Tanpa pikir panjang Diska menghentikan sebuah taksi yang tengah lewat di depannya.
“Mau kemana mba ?” tanya supir taksi.
“Ke daerah Pondok Gede ya Pak.” jawab Diska.
Di dalam taksi, ada sesuatu yang menyita perhatiannya. Sebuah foto yang dipajang oleh pemilik taksi. Tanpa canggung Diska pun memutuskan untuk mengajak ngobrol pak supir.
“Yang ada di dalam foto itu anak bapak ya ?” tanya Diska sambil menunjukkan tangannya ke arah foto.
“iya Mbak.”
“Anak bapak berumur berapa tahun ?”
Tanpa diduga pertaanyaan kedua yang dilontarkan oleh Diska membuat pak supir meneteskan air mata. Diska bingung dan bertanya – tanya mengapa pak supir menangis. Belum sepat bapak itu menjawab, Diska langsung berbicara lagi.
“Mohon maaf pak kalau pertanyaan saya barusan menyinggung perasaan bapak.” ucap Diska.
“Ah tidak apa – apa mba. Saya hanya teringat dengan anak saya yang sekarang sedang dirawat di rumah sakit.” jawab pak supir .
“Lho anak bapak sedang sakit ? Sakit apa ?”
“Iya, anak saya sedang sakit mba. Sudah hampir seminggu dirawat di rumah sakit. Dia harus menggunakan tabung oksigen untuk bernapas. Sementara, tabung yang kecil saja harganya sangat mahal.” jelas pak supir.
“Saya turut prihatin pak dengan nasib yang menimpa anak bapak. Ini pak, saya ada uang, mungkin jumlahnya tidak banyak tetapi saya yakin Allah pasti masih berbaik hati kepada bapak dan keluarga bapak.” tutur Diska dengan berusaha menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
“Jangan mbak. Mbak tidak mengenal saya tetapi mbak tiba – tiba mau menolong saya.” tolak pak supir.
“Sudahlah pak. Anggap saja ini rezeki dari Allah.” jawab Diska berusaha meyakinkan pak supir agar mau menerima uangnya.
“Terima kasih banyak mbak. Semoga Allah senantiasa memberikan nikmat kepada orang berhati baik seperti mbak.”
Diska hanya membalasnya dengan senyuman. Dia tak mampu membayangkan kesedihan sang bapak. Dia tak mampu membayangkan jika yang dialami oleh anaknya terjadi pada dirinya.
Lima belas menit sudah diska di dalam taksi. Dia memutuskan untuk turun di depan toko kue. Dia ingin membeli kue di tempat langganan sewaktu dia masih tinggal di Indonesia. Diska memang sangat menyukai aneka kue. Sehingga tak jarang sesekali jika dia pulang ke Indonesia dia menyempatkan diri untuk membeli kue di toko itu.
Setelah berlama – lama di toko kue, Diska kebingungan mencari taksi untuk pulang. Karena daerah sekitar toko jarang sekali taksi yang  lewat. Biasanya dia pergi ke toko kue dengan kendaraan pribadi. Keadaan seperti ini memaksa Diska untuk berjalan kaki menyusuri pinggiran jalan di kota metropolitan yang  belum banyak berubah sepeninggalnya dia ke Jerman.
Kota ini masih penuh dengan kemacetan. Suasana kota di siang hari yang sangat panas membuat para pengguna jalan enggan untuk berlama-lama melewati setiap lekukan jalan raya di kota metropolitan ini. Begitupun dengan Diska. Debu-debu yang menggulung mengiri setiap hembusan angin yang terbawa oleh asap kendaraan yang mengepul menghiasi setiap sudut jalan raya nampaknya tidak mampu membuat Diska untuk berlama – lama untuk berada di pinggiran jalan.
Sejenak dia mencari tempat untuk beristirahat. Akhirnya Diska menemukan sebuah gerobak kecil milik pedagan minuman. Diska duduk dibangku yang sengaja disediakan oleh sang pedagang. Tak lama kemudian, di sampingnya duduk sesosok lelaki yang berperawakan seperti preman. Tato di sekujur tubuhnya mebuat Diska berpikiran negative dengan laki- laki itu. Tanpa basa basi laki – laki itu menyodorkan sebuah minuman kepada Diska. Namun Diska dengan lembut menolaknya.
“Kenapa mba ? Mba takut ya kalau minumannya saya beri racun?” tanya lelaki tersebut kepada Diska sambil tertawa.
“Emm engga pak. Saya gak haus Pak.” Jawab Diska gugup.
“Ya beginilah nasib saya. Berpenampilan seperti preman yang kerjaannya keluar masuk buih. Tapi sekarang saya capek mbak. Saya kangen anak – anak saya di rumah. Saya sudah capek menghirup pengapnya udara di penjara. Saya ingin seperti orang lain. Hidup normal menghirup udara bebas.”
Ucap lelaki itu.
“Sekarang bapak ambil hikmahnya saja. Bapak harus yakin kalau memang bapak benar – benar ingin berubah. Saya doakan semoga bapak bisa berkumpul kembali dengan keluarga bapak.” Ucap Diska mencoba menanggapi perkataan lelaki itu.
Akhirnya ada satu taksi yang lewat dan tepat berhenti di depan Diska. Langsung saja Diska masuk ke dalam taksi. Di dalam taksi dia masih memikirkan  kejadian – kejadian yang baru saja dialaminya.Tentang  Pak supir yang harus berjuang untuk membeli tabung oksigen untuk anaknya. Tentang narapidana yang ingin merasakan menghirup udara bebas. Tentang polusi di kota ini yang semakin tidak terkendali dari tahun ke tahun. Satu kata yang ada di benaknya yaitu udara. Setiap jiwa yang hidup pasti membutuhkan udara. Tanpa udara manusia tidak akan mampu menikmati indahnya kehidupan. Namun satu hal yang terkadang manusai melupakannya yaitu rasa bersyukur kepada sang maha pencipta dan rasa cinta akan udara. Sehingga terkadang membuat mereka lupa untuk menjaganya.
Pikirannya sekilas melayang membayangkan keadaan rumah sekarang. Rasa rindunya pada keluarga sudah tak tertahankan lagi. Dalam bayangannya tampak jelas raut muka kedua orang tuanya. Rasanya Diska ingin cepat – cepat sampai di rumah.
Serang, 18 Maret 2012

UNTUKMU KAWAN

Semilir angin berhembus pelan membelai jilbab para santri perempuan yang tengah mengaji kitab di pendopo pesantren Al-Huda. Terlihat beberapa santri tengah khusyu mendengarkan sang ustadzah yang sedang memberikan penjelasan dari isi kitab tersebut. Kebiasaan di pesantren Al-Huda yaitu ba’da Ashar biasanya santriwati mengaji kitab.
Zahra adalah seorang santri yang sudah bertahun-tahun menjadi santri di pesantren tersebut. Zahra adalah perempuan yang ceria dan sangat dikagumi oleh teman-temannya. Sosoknya yang lembut dan penuh semangat banyak mengunspirasi teman-temannya. Dia adalah salah satu perempuan yang sangat beruntung karena memiliki keluarga yang sangat menyayanginya. Keluarganya berasal dari kalangan yang berada. Mayoritas santri-santri di pondok pesantren Al-Huda mengetahui orang tua Zahra. Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses di daerahnya. Sehingga tak jarang jika ada pembangunan di pondok pesantren Al-Huda, ayah Zahra lah yang menjadi donaturnya.
Tak terasa satu jam berlalu. Para santri pun satu per satu mulai bangun dari tempat duduknya  meninggalkan pendopo. Kemudian mereka pergi menuju asrama mereka masing-masing. Terkecuali dengan Zahra,  perhatiannya tertuju kepada salah satu santri yang tidak begitu ia kenal namun tampaknya dia melihat raut kesedihan di wajah temannya tersebut. Tak lama, Zahra pun mendekatinya. Belakangan dia tahu nama santriwati tersebut. Dia bernama Safinah. Dia terkenal sebagai anak yang pendiam dan jarang sekali bersosialisasi dengan santri-santri perempuan yang lainnya.
“Assalamu’alaikum.” sapa Zahra dengan penuh keberanian mendekati Safinah yang terkenal pendiam.
Namun Safinah menanggapinya dengan dingin “Wa’alaikumsalam.”
“Safinah kamu kenapa ? Lagi ada masalah ya ?” tebak Zahra dengan sejuta Tanya dibenaknya
“Ah, gak apa apa kok.” jawab Safinah gugup.
“Yang benar ? Ayolah cerita kalau memang kamu sedang ada masalah.” tawar Zahra kepada Safinah. Raut wajah Safinah yang semakin murung tidak mampu menutupi rasa penasaran Zahrah.
Namun berkali-kali dibujuk tetap saja Safinah tidak mau berbagi cerita kepada Zahrah. Safinah lalu beranjak dari tempat duduknya dan pamit meninggalkan Zahrah yang masih memendam sejuta tanya kepada temannya tersebut.
“Udah sore Ra, saya pergi ke asrama duluan ya.” jawab Safinah.
***
Adzan maghrib pun berkumandang, menyerukan kepada seluruh jiwa yang hidup untuk bersegera mengambil wudhu dan memasuki masjid. Para santri dan santriwati pun segera memenuhi masjid dan merapihkan barisan sholat mereka masing-masing. Seperti hari-hari biasa, sholat maghrib berjamaah kali ini dipimpin oleh K.H. Agus Salim. Pemilik dan pengasuh pondok pesantren Al-Huda.
Dalam keheningan dan kekhusyuan mereka larut dalam ibadah sholat maghrib.
“Assalamu’alaikum Warahmatullah…” ucap sang imam sambil menolehkan kepala ke kanan.
Dan diikuti oleh para jamaah, “Assalamu’alaikum Warahmatullah…”
Kemudian dilanjutkan dengan dzikir kepada Allah SWT.
Ibadah sholat maghrib pun selesai, para santri langsung mengambil Al-Qur’an yang mereka bawa dan membacanya. Kegiatan tilawah Al-Qur’an ini berlangsung hingga waktu sholat Isya tiba. Kini terdengar  lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dari mulut Zahrah dan para santri yang lain.
***
Jam menunjukkan tepat pukul 11 malam. Mengakhiri semua aktivitas di pondok pesantren Al-Huda. Zahra dan teman-temannya kini sudah berada di asrama.
Zahrah satu kamar dengan Latifah. Latifah adalah teman baik Zahrah di pondok pesantren Al-Huda. Sudah bertahun - tahun mereka bersama. Maklum saja, karena mereka juga satu angkatan. Saat ini, mereka berdua duduk di bangku kelas 2 SMA. Begitupun dengan Safinah. Dia juga duduk di bangku kelas 2 SMA. Namun sayangnya Zahrah tidak satu kelas dengan Safinah. Melainkan Latifah yang satu kelas dengan Safinah. Jadi wajar saja jika Zahrah tidak begitu mengenal Safinah.
Zahra membaringkan tubuhnya di atas kasur dan mulai membuka pembicaraan dengan Latifah.
“Fah, kamu kenal kan dengan Safinah ? Dia itu pendiam sekali ya..” ucap Zahrah.
“iya kenal. Kan kita satu kelas di SMA. Ada apa Ra dengan Safinah ? sepertinya kamu penasaran sekali dengannnya.” sahut Latifah yang tengah membaringkan tubuhnya juga di samping Zahrah.
“Hmm.. iya. Saya hanya penasaran dengannya. Tadi sore saya melihat raut kesedihan di wajahnya.”
“Ah kamu ini sok tau. Dia kan dari dulu juga selalu seperti itu, pendiam. Jadi terkesan seperti orang yang sedang bersedih.” jawab Latifah.
“tapi yang tadi sore saya lihat itu berbeda Fah. Ya meskipun dia pendiam, tapi setidaknya kita bisa membedakan raut  muka orang yang sedang bersedih dan bukan. Iya kan ?? timpal Zahra.
Sontak Latifah pun ingat akan kejadian di kelas beberapa hari yang lalu. Ya, tepatnya hari selasa. Selepas mata pelajaran Bu Tika, nama Safinah disebut oleh Bu Tika. Safinah pun langsung maju ke depan meja guru menghampiri Bu Tika yang hendak menyampaikan suatu berita kepada Safinah.
Latifah yang duduk di bangku depan tepat berhadapan dengan meja guru tak sengaja mendengar pembicaraan mereka berdua.
“Safinah, sebelumnya ibu mohon maaf, ibu mengatakan hal ini karena ibu merasa ini tanggungjawab ibu selaku wali kelas. Dalam daftar keuangan, Safinah belum melunasi uang SPP selama 3 bulan. Kalau dalam jangka waktu dekat tidak dilunasi, maka terancam tidak akan bisa mengikuti ujian kenaikan kelas.” Bu Tika menjelaskan dengan penuh hati-hati agar Safinah tidak merasa tersinggung.
“baik bu, InsyaAllah akan saya usahakan. Terima kasih bu untuk pemberitahuannya.” Safinah menjawabnya dengan mata berkaca-kaca.
Setelah mengingat kejadian  tersebut, Latifah pun langsung menceritakannya kepada Zahra. Tidak hanya itu, Latifah juga memberitahu Zahra bahwa kemarin dia mendengar kabar dari teman satu kamar Safinah. Safinah seringkali menangis. Namun ketika ditanya dia tidak pernah mau berbagi cerita dengan teman-temannya. Hari itu, secara tidak sengaja teman satu kamar Safinah melihat sebuah buku catatan yang tergeletak di atas kasur dalam posisi terbuka. Lalu kemudian membacanya. Temannya sangat kaget. Ternyata ibu Safinah sedang berada di rumah sakit dan tepat 2  hari lagi harus segera dioperasi sehingga membutuhkan biaya yang besar.
***
Udara di pagi hari terasa menyegarkan sehingga membuat Zahra pun tak ingin melewatkan kenikmatan Sang Maha Pencipta ini. Seperti biasa, aktifitas para santri setelah kuliah subuh adalah menyegerakan untuk mandi dan mengadakan kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan asrama sesuai jadwal piketnya masing-masing.
Pagi itu, Zahra bersama Latifah baru pulang dari masjid setelah mengikuti kuliah subuh.. Di tengah perjalanan menuju asrama, Zahra dan Latifah berpapasan dengan beberapa orang. Nampaknya mereka adalah satu keluarga yang hendak memasukkan anaknya ke pondok pesantren Al-Huda. Salah satu di antaranya kemudian menyapa Zahra dan hendak menanyakan sesuatu hal kepada Zahra.
“Assalamu’alaikum, de.” sapa seseorang bapak-bapak yang berumur sekitar limapuluh tahun.
“Wa’alaikumsalam.” jawab Zahra dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
“mohon maaf de, bapak ingin bertanya, tempat sekretariat penerimaan santri baru dimana ?” tanya bapak tersebut.
“oohhh.. di situ pak.” ucap Zahra sambil menunjuk ke arah gedung yang ada di sebelah kiri tempat mereka berdiri.
“terima kasih ya de.” balas bapak tersebut dengan senyum yang penuh kebahagiaan karena telah berhasil menemukan tempat dimana ia harus mendaftarkan anaknya sebagai santri baru di pondok pesantren Al-Huda.
Kini perhatian Zahra tertuju pada sesosok laki-laki yang berada di samping bapak-bapak yang tadi. Dia merasakan ada getaran yang berbeda di hatinya. Sontak Zahra pun langsung beristighfar memohon ampun kepada Allah karena tak mampu menjaga pandangannya.
Latifah juga langsung menyadarkan Zahra dari lamunannya. Seketika Zahra kaget ketika merasakan ada yang menepuk pundaknya.
“Zahraaa….”
 Suara itu terdengar mengagetkan Zahra.
“Astagfirullah..” ucap Zahra.
“kamu ini kenapa ? Kok tiba-tiba bengong ?” tanya Latifah yang semakin tidak mengerti melihat sahabatnya seperti itu.
“Ah, tidak  apa apa.” sahut Zahra.
“jangan-jangan kamu terpesona sama pemuda yang barusan lewat itu ya ?” sindir Latifah dengan tersenyum meledek Zahra.
“Hush, kamu ini ngomong ngawur bisanya. Jaga pandangan.” sangkal Zahra yang kemudian beranjak meninggalkan Latifah.
“hmm.. sepertinya dia santri baru ya ?” tanya Latifah sambil mengejar Zahra yang lebih dulu meninggalkannya.
“Ah, sudahlah tak usah kau pikirkan masalah itu. Bukan urusan kita juga kan ?” jawab Zahra dengan nada yang agak tinggi.
Latifah hanya mengangguk berusaha mengiyakan setiap perkataan sahabatnya itu. Sedangkan Zahra tetap mencoba untuk melupakan kejadian yang barusan.
Sesampainya di asrama mereka langsung bersiap untuk pergi ke sekolah. Pelajaran demi pelajaran mereka ikuti dengan baik hingga tak terasa bel pun berbunyi sebagai tanda berakhirnya aktifitas pembelajaran di hari itu.
***
Malam ini setelah sholat isya, kegiatan di pondok pesantren Al-Huda adalah pengajian akbar yang di ikuti oleh seluruh santri pondok pesantren Al-Huda. Pada acara ini juga sempat dikenalkan kepada para santri bahwa hari ini ada seorang santri baru di pondok pesantren Al-Huda.
Zahra pun teringat akan pemuda yang dia dan Latifah jumpai tadi pagi. Ternyata benar, pemuda tersebut bernama Faridh. Seorang pindahan dari pesantren yang ada di tempat kelahirannya. Dia terpaksa pindah karena mengikuti Ayahnya yang harus bekerja di luar kota.
Malam itu, Farid mengendap-ngendap memasuki sekitar area asrama santri putri. Hal ini tentu akan menimbulkan akibat yang fatal jika diketahui oleh para ustadz dan ustadzah atau pun oleh para santri yang lain. Selain dapat menimbulkan fitnah, Faridh juga akan mendapatkan hukuman dari komisi disiplin yang ada di pondok pesantren Al-Huda. Derap langkah Faridh yang mencurigakan membuat Zahra yang sedang berada di dapur menjadi curiga dan mencari sumber suara. Zahra sangat kaget ketika melihat ke arah jendela yang ada di sampingnya. Hampir saja dia berteriak. Namun teriakannya seketika tertahan setelah dia mengetahui bahwa yang meengendap-endap adalah Faridh. Zahra kaget dan tak pernah menyangka mengapa Faridh berani memasuki area asrama putri di malam hari.
“Faridh ?” tanya Zahra dengan suara pelan agar tidak dicurigai oleh para santri yang lain.
“Ssssttt.. jangan berisik.” ucap Faridh berusaha menenangkan kekagetan Zahra.
“Kamu sedang apa berada di lingkungan asrama putri ? Sangat berbahaya jika ada orang lain yang mengetahui.”
“kamu jangan salah paham dulu. Saya sengaja datang kesini karena ada yang ingin saya bicarakan.” jawab Faridh.
Faridh pun menjelaskan maksud kedatangannya tersebut.  Namun, di tengah perbincangan mereka tiba-tiba ada salah seorang santri yang melihat Zahra dan Faridh tengah berduaan di belakang asrama putri. Santri yang mengetahui langsung melaporkan kejadian tersebut kepada komisi disiplin pondok pesantren. Dan tanpa basa basi mereka berdua diadili di sebuah ruangan tempat santri-santri yang pernah melakukan pelanggaran selama berada di pondok pesantren.
Malam itu menjadi malam bencana bagi Zahra dan Faridh. Zahra yang terkenal tidak pernah melakukan pelanggaran di pesantren kini telah tercoreng namanya. Berbagai berita tentang dirinya dan Faridh menyebar cepat memecah kesunyian di malam itu.
Malam itu juga mereka diadili. Berbagai sorak sorai para santri yang tidak setuju atas ulah mereka seakan menggemparkan ruang sidang. Fitnah bertebaran dimana-mana.
Zahra tertekan dan merasa syok atas kejadian tersebut. Dia tidak mengerti mengapa dirinya dapat jatuh ke dalam kesalahan yang sedemikian rupa. Dia bahkan tidak mengerti mengapa orang-orang langsung memvonis dirinya bersalah padahal dirinya tidak melakukan apa-apa. Fitnah bagaikan api yang menjalar.
Di tengah – tengah gentingnya suasana, akhirnya pak ustadz dan beberapa kyai hadir di tempat itu.
“Saudara Faridh, apakah anda mengetahui bahwa memasuki lingkungan asrama putri secara diam-diam dan tengah malam adalah sebuah kesalahan ?” tanya pak ustadz Hanafi membuka pembicaraan.
“Saya tau pak ustadz. Tetapi saya tidak ada tujuan yang negatif.” jawab Faridh berusaha meyakinkan pak ustadz Hanafi.
“Bohong..bohong..!” teriak para santri yang hadir di tempat siding.
“Semuanya diam !” teriak pak kyai yang mencoba menenangkan suasana yang semakin memanas.
“Lantas apa maksud anda tengah malam datang ke lingkungan asrama putri dan menemui Zahra ? Apa anda tidak tahu kalau berduaan itu identik dengan pacaran ?” tanya Ustadz Hanafi dengan nada tinggi.
“Saya tahu pak ustadz . Tetapi saya datang ke asrama putri karena saya ingin mengembalikan dompet atas nama Zahra yang terjatuh di jalan.” jawab Faridh.
“Apa buktinya ? Sekarang dompetnya mana ? Tidak ada kan ? Kamu jangan mengarang cerita Faridh !” ucap ustadz Hanafi.
“Saya bisa memberikan hukuman yang lebih berat kalau kamu berbohong” ancam ustadz Hanafi.
“Kamu juga Zahra, mengapa kamu mau menemuinya di tengah malam seperti itu ?” timpal para ustadz yang lain.
“Kami tidak pernah ada niat untuk berduaan di malam hari pak, tapi…” jawab Zahra mencoba menjelaskan. Namun pembicaraannya terus dan terus dipotong oleh pertanyaan yang bertubi-tubi.
Akhirnya Ustadz Hanafi selaku pimpinan komisi disiplin memutuskan untuk memberikan hukuman kepada mereka berdua.
“Ya sudah, keputusannya kalian tetap divonis bersalah dan akan diberikan hukuman yang berat atas kesalahan kalian.”
“Tunggu pak.” Sahut seseorang yang tiba-tiba datang dan membuat orang – orang yang ada di tempat tersebut memusatkan perhatian padanya.
“Tidak sopan anda berbicara tanpa memohon izin terlebih dahulu.” Ucap ustadz Hanafi.
“Maaf ustadz atas kelancangan saya. Tapi barusan saya menemukan ini di belakang asrama putri.” ucap Safinah sembari menyodorkan sebuah dompet milik Zahra.
Ustadz Hanafi pun langsung mengamati dompet tersebut dan menanyakan kebenaran kepemilikan dompet yang dibawa oleh Safinah kepada Zahra.
“Benar ustadz, itu dompet milik saya.” jawab Zahra berusaha meyakinkan semua yang hadir di ruang sidang.
“Lalu Faridh, untuk apa kamu mengembalikan dompet ini tengah malam ?” tanya Ustadz.
“Di dalam dompet tersebut terdapat secarik surat milik Zahra yang akan dia kirim kepada orang tuanya.  Bahwa dia baru saja  mengambil uang di atm sebanyak duapuluh juta yang akan disumbangkan kepada Safinah besok pagi untuk operasi yang akan dijalani oleh orang tua Safinah. Oleh karena itu saya secepat mungkin harus mengembalikan dompet ini. Dan kebetulan sekali ketika saya datang ke asrama perempuan, saya bertemu Zahra. ” jelas Faridh.
Dan akhirnya jelas sudah duduk permasalahan yang sebenarnya. Hukuman yang hendak dijatuhkan kepada mereka berdua dicabut kembali. Ustadz Hanafi menyarankan agar lain kali jika ada yang menemukan benda milik orang lain agar memberitahu Ustadz terlebih dahulu dan jangan bertindak gegabah. Akibatnya akan fatal dan dapat menimbulkan hal – hal yang tidak diinginkan. Ustadz Hanafi berharap agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.
“Safinah, terima kasih ya.” ucap Zahra sambil memeluk Safinah.
“Harusnya saya yang berterima kasih. Sungguh mulia perempuan sepertimu. Rela berkorban untuk saya, orang yang tidak begitu kamu kenal. Bahkan kamu rela berurusan dengan seluruh isi pondok pesantren hanya karena ingin menolong saya.” Ujar Safinah.
“Semua ini saya lakukan karena Allah dan berkat pertolongan Allah. patutlah Berterima kasih kepada Allah.” jawab Zahra.
Seketika itu air mata menetes  di antara keduanya. Kini Safinah menyadari akan pentingnya seorang teman dan pentingnya berbagi dengan seorang teman baik dalam keadaan suka maupun duka.
Semua yang hadir di ruang sidang beristighfar. Memohon ampun kepada Allah. Bahawa sesungguhnya ber-suudzon itu lebih capek dibandingkan dengan ber-husnudzan.
Kejadian malam ini menyadarkan semuanya akan arti sebuah persahabatan, keikhlasan, dan pentingnya berprasangka baik.

Serang, 17 Maret 2012