Minggu, 18 September 2016

Pendidikan Tanggung jawab Bersama

Indonesia adalah negeri dengan jumlah penduduk terbesar serta tersebar di berbagai pulau yang kaya akan potensi alamnya. Namun pendidikannya masih belum mampu menciptakan generasi-generasi unggul secara maksimal. Adakah yang salah dengan bangsa ini ?.
Hari pendidikan nasional telah usai. Setiap kali jatuh pada tanggal 2 mei, banyak yang sibuk melaksanakan upacara peringatan hari besar nasional. Dengan harapan, muncul semangat baru untuk memperbaiki pendidikan di negeri ini. Namun potret pendidikan bangsa ini tak kunjung ubahnya. Lihatlah potret bangsa kita saat ini. Miris. Menyayat hati. Pendidikan di negeri ini masih belum bisa mencetak generasi-generasi yang unggul. Narkoba, pornografi, serta bentuk kejahatan lainnya merebak di kalangan para tunas-tunas bangsa.
Sejatinya, hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Pendidikan bukan ajang eksploitasi otak seseorang. Tujuan pendidikan nasional jelas tertera pada pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Atas dalih inilah bangsa ini seharusnya bisa berkaca. Tujuan pendidikan bukan hanya untuk mencerdaskan otak. Tujuan pendidikan juga untuk mencerdaskan tingkah laku manusia. Di sinilah akan terjadi proses pembentukan karakter seseorang.
Erie Sudewo mengatakan seharusnya bukan pendidikan berbasis kompetensi yang diterapkan di negeri ini. Tetapi pendidikan  kompetensi berbasis karakter. Dengan ini, pendidikan tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga mencerdaskan karakter seseorang.
Sungguh miris ketika melihat generasi-generasi penerus bangsa yang kehilangan karakter. Banyak kalangan pelajar yang mengabaikan etika. Nilai luhur bangsa ini kini belum mampu tersampaikan melalui pendidikan di negeri ini. Pendidikan seharusnya berperan sebagai pewarisan nilai budaya luhur bangsa. Bukan hanya sekedar mencerdaskan otak. Lantas tanggung jawab siapa ?
Sejauh ini Indonesia sudah sering bergonta-ganti kurikulum. Hingga saat ini yang sedang digembor-gemborkan yaitu kurikulum 2013. Berbagai tanggapan pro maupun kontra bermunculan seiring hadirnya kurikulum 2013. Namun lagi-lagi bukan berarti dengan berubahnya kurikulum, cepat berubahnya pula pendidikan di negeri ini. Kurikulum adalah “jantungnya” pendidikan. Sedangkan guru adalah “ujung tombak” pendidikan. Sebaik apa pun kurikulum, tetaplah guru yang menjadi ujung tombaknya. Gurulah yang menjadi teladan anak didik.
Mayoritas orang beranggapan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab sekolah. Paradigma seperti inilah yang seharusnya diubah di kalangan masyarakat Indonesia. Sekolah hanyalah satu dari sekian banyak lingkungan belajar anak didik. Justru pada lingkungan keluargalah seseorang pertama kali mendapatkan pendidikan. Pendidikan yang berasal dari keteladanan orang tua di rumah. Orang tua menjadi sorotan utama pendidikan di lingkungan keluarga. Sudah seharusnya sekolah dan orang tua mampu menyeimbangkan perannya dalam proses pendidikan anak bangsa. Sehingga tidak akan ada lagi orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah. Kejadian seperti ini banyak ditemukan pada jenjang pendidikan tingkat dasar.
Pendidikan dasar merupakan hal yang harus diperhatikan karena nantinya akan berdampak pada pendidikan selanjutnya dan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Realita yang ada pada saat ini, pendidikan dasar khususnya yang menjadi sorotan adalah Sekolah Dasar masih memiliki banyak polemik. Bukan hanya masalah keteladanan pendidik dan peran serta keluarga dalam pendidikan. Indonesia dengan penduduknya yang ratusan juta masih belum mampu memberikan kesetaraan pendidikan bagi rakyatnya. Masih banyak anak-anak di daerah tertinggal yang belum mendapatkan pendidikan yang layak. Dari mulai jarak tempuh yang sangat jauh untuk bisa sampai di sekolah hingga tenaga pengajar yang sangat minim berada di tempat ini. Kesetaraan pendidikan harus benar-benar diperhatikan lagi, apakah program-program yang telah digagas dalam dunia pendidikan bangsa ini sudah tepat sasaran atau belum.
Indonesia masih harus berbenah. Pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah maupun pemerintah sebagai pembuat sistem. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat merupakan lingkungan pendidikan yang memiliki keterkaitan yang erat. Oleh karenanya seluruh aspek di dalamnya pun bertanggung jawab atas keberlangsungan pendidikan anak-anak bangsa.
Pada akhirnya seluruh masyarakat di negeri ini pun memiliki peranan penting dalam pendidikan. Masyarakat dengan sekolah dapat bersinergi dalam upaya pelaksanaan kurikulum. Masyarakat dapat memberikan aspirasi, berpartisipasi, serta dapat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pendidikan.
Pemuda merupakan salah satu aset terbesar bangsa. Sebagai seorang pemuda generasi penerus bangsa tentunya harus memiliki inovasi dan gagasan-gasasan terbaik yang dapat memperbaiki pendidikan bangsa. Tahukah bangsa kita masih memiliki ratusan pemuda generasi penerus bangsa. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki pendidikan Indonesia. Saat ini masih banyak pemuda hebat diluar sana yang sedang memperjuangkan pendidikan bangsa ini dengan beribu cara. Saat ini begitu banyak wadah bagi para pengajar muda yang ingin mengabdikan dirinya demi kemajuan pendidikan bangsa Indonesia. Wadah bagi para pengajar yang rela mengabdikan dirinya untuk pendidikan di seluruh pelosok negeri. Hanya tinggal bagaimana cara menumbuhkan jiwa pengabdian dalam diri pemuda bangsa.
Negeri ini masih membutuhkan guru-guru yang rela mendidik anak-anak bangsa. Guru yang mampu menjadi teladan dan memahami anak didiknya. Seorang dosen UPI Kampus Serang, Lily Barlia pernah mengatakan Tahukah ketika kita menatap mereka (anak didik) dengan lubuk hati yang paling dalam , sesungguhnya pancaran mata mereka berbicara "Pak , Bu , Didiklah kami dengan baik, agar kelak kami menjadi orang yang berguna di masa depan."
Sudah cukup. Tak perlu lah berkali-kali untuk membeberkan  potret hitam bangsa ini. Permasalahan tak akan pernah selesai jika hanya bisa menyalahkan sistem yang ada. Tetapi justru harus bisa memberikan solusi melalui tindak nyata. Cukup menjadi cambukan keras bagi kita, pemuda generasi penerus bangsa. Selama niat dan raga masih cinta bumi pertiwi, bangsa ini masih bisa diperbaiki. Bangsa ini membutuhkan pemuda yang rela mengulurkan tangannya, membuka mata hati, bersama menyambungkan harapan-harapan anak bangsa. Sekecil apapun hal itu lakukanlah demi kemajuan pendidikan bangsa Indonesia.
Pendidikan di negeri ini merupakan tanggung jawab bersama. Sinergitas antar semuanya harus dimaksimalkan agar pendidikan di negeri ini dapat mencapai tujuan yang diidamkan. Keseimbangan peran antara pemerintah dengan masyarakat begitupun antara guru dengan orang tua. Dengan adanya kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama diharapkan pendidikan bangsa ini dapat berbenah  dan seluruh orang-orang yang ada di dalamnya dapat bersinergi sehingga pendidikan di negeri ini dapat menciptakan manusia-manusia unggul yang berkarakter.

Untuk seluruh guru di Indonesia, juga untuk seluruh pengajar muda di negeri ini,

Selamat mendidik ! Mendidiklah dengan hati ikhlas serta penuh cinta dan kasih sayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar