Indonesia
adalah negeri dengan jumlah penduduk terbesar serta tersebar di berbagai pulau
yang kaya akan potensi alamnya. Namun pendidikannya masih belum mampu menciptakan
generasi-generasi unggul secara maksimal. Adakah yang salah dengan bangsa ini
?.
Hari
pendidikan nasional telah usai. Setiap kali jatuh pada tanggal 2 mei, banyak
yang sibuk melaksanakan upacara peringatan hari besar nasional. Dengan harapan,
muncul semangat baru untuk memperbaiki pendidikan di negeri ini. Namun potret
pendidikan bangsa ini tak kunjung ubahnya. Lihatlah potret bangsa kita saat
ini. Miris. Menyayat hati. Pendidikan di negeri ini masih belum bisa mencetak
generasi-generasi yang unggul. Narkoba, pornografi, serta bentuk kejahatan lainnya
merebak di kalangan para tunas-tunas bangsa.
Sejatinya,
hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Pendidikan bukan ajang
eksploitasi otak seseorang. Tujuan pendidikan nasional jelas tertera pada
pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yaitu mencerdaskan
kehidupan bangsa. Atas dalih inilah bangsa ini seharusnya bisa berkaca. Tujuan
pendidikan bukan hanya untuk mencerdaskan otak. Tujuan pendidikan juga untuk
mencerdaskan tingkah laku manusia. Di sinilah akan terjadi proses pembentukan
karakter seseorang.
Erie
Sudewo mengatakan seharusnya bukan pendidikan berbasis kompetensi yang
diterapkan di negeri ini. Tetapi pendidikan
kompetensi berbasis karakter. Dengan ini, pendidikan tidak hanya
mencerdaskan otak, tetapi juga mencerdaskan karakter seseorang.
Sungguh
miris ketika melihat generasi-generasi penerus bangsa yang kehilangan karakter.
Banyak kalangan pelajar yang mengabaikan etika. Nilai luhur bangsa ini kini
belum mampu tersampaikan melalui pendidikan di negeri ini. Pendidikan seharusnya
berperan sebagai pewarisan nilai budaya luhur bangsa. Bukan hanya sekedar
mencerdaskan otak. Lantas tanggung jawab siapa ?
Sejauh
ini Indonesia sudah sering bergonta-ganti kurikulum. Hingga saat ini yang
sedang digembor-gemborkan yaitu kurikulum 2013. Berbagai tanggapan pro maupun
kontra bermunculan seiring hadirnya kurikulum 2013. Namun lagi-lagi bukan
berarti dengan berubahnya kurikulum, cepat berubahnya pula pendidikan di negeri
ini. Kurikulum adalah “jantungnya” pendidikan. Sedangkan guru adalah “ujung
tombak” pendidikan. Sebaik apa pun kurikulum, tetaplah guru yang menjadi ujung
tombaknya. Gurulah yang menjadi teladan anak didik.
Mayoritas
orang beranggapan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab sekolah. Paradigma
seperti inilah yang seharusnya diubah di kalangan masyarakat Indonesia. Sekolah
hanyalah satu dari sekian banyak lingkungan belajar anak didik. Justru pada
lingkungan keluargalah seseorang pertama kali mendapatkan pendidikan.
Pendidikan yang berasal dari keteladanan orang tua di rumah. Orang tua menjadi
sorotan utama pendidikan di lingkungan keluarga. Sudah seharusnya sekolah dan
orang tua mampu menyeimbangkan perannya dalam proses pendidikan anak bangsa.
Sehingga tidak akan ada lagi orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan
anak kepada sekolah. Kejadian seperti ini banyak ditemukan pada jenjang
pendidikan tingkat dasar.
Pendidikan
dasar merupakan hal yang harus diperhatikan karena nantinya akan berdampak pada
pendidikan selanjutnya dan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Realita yang
ada pada saat ini, pendidikan dasar khususnya yang menjadi sorotan adalah
Sekolah Dasar masih memiliki banyak polemik. Bukan hanya masalah keteladanan
pendidik dan peran serta keluarga dalam pendidikan. Indonesia dengan penduduknya
yang ratusan juta masih belum mampu memberikan kesetaraan pendidikan bagi
rakyatnya. Masih banyak anak-anak di daerah tertinggal yang belum mendapatkan
pendidikan yang layak. Dari mulai jarak tempuh yang sangat jauh untuk bisa
sampai di sekolah hingga tenaga pengajar yang sangat minim berada di tempat ini.
Kesetaraan pendidikan harus benar-benar diperhatikan lagi, apakah
program-program yang telah digagas dalam dunia pendidikan bangsa ini sudah
tepat sasaran atau belum.
Indonesia
masih harus berbenah. Pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab guru di
sekolah maupun pemerintah sebagai pembuat sistem. Pendidikan adalah tanggung
jawab bersama. Lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat merupakan
lingkungan pendidikan yang memiliki keterkaitan yang erat. Oleh karenanya
seluruh aspek di dalamnya pun bertanggung jawab atas keberlangsungan pendidikan
anak-anak bangsa.
Pada
akhirnya seluruh masyarakat di negeri ini pun memiliki peranan penting dalam
pendidikan. Masyarakat dengan sekolah dapat bersinergi dalam upaya pelaksanaan
kurikulum. Masyarakat dapat memberikan aspirasi, berpartisipasi, serta dapat
melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pendidikan.
Pemuda
merupakan salah satu aset terbesar bangsa. Sebagai seorang pemuda generasi
penerus bangsa tentunya harus memiliki inovasi dan gagasan-gasasan terbaik yang
dapat memperbaiki pendidikan bangsa. Tahukah bangsa kita masih memiliki ratusan
pemuda generasi penerus bangsa. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk
memperbaiki pendidikan Indonesia. Saat ini masih banyak pemuda hebat diluar
sana yang sedang memperjuangkan pendidikan bangsa ini dengan beribu cara. Saat
ini begitu banyak wadah bagi para pengajar muda yang ingin mengabdikan dirinya
demi kemajuan pendidikan bangsa Indonesia. Wadah bagi para pengajar yang rela
mengabdikan dirinya untuk pendidikan di seluruh pelosok negeri. Hanya tinggal
bagaimana cara menumbuhkan jiwa pengabdian dalam diri pemuda bangsa.
Negeri
ini masih membutuhkan guru-guru yang rela mendidik anak-anak bangsa. Guru yang
mampu menjadi teladan dan memahami anak didiknya. Seorang dosen UPI Kampus
Serang, Lily Barlia pernah mengatakan Tahukah ketika kita menatap mereka (anak
didik) dengan lubuk hati yang paling dalam , sesungguhnya pancaran mata mereka
berbicara "Pak , Bu , Didiklah kami dengan baik, agar kelak kami menjadi
orang yang berguna di masa depan."
Sudah
cukup. Tak perlu lah berkali-kali untuk membeberkan potret hitam bangsa ini. Permasalahan tak
akan pernah selesai jika hanya bisa menyalahkan sistem yang ada. Tetapi justru
harus bisa memberikan solusi melalui tindak nyata. Cukup menjadi cambukan keras
bagi kita, pemuda generasi penerus bangsa. Selama niat dan raga masih cinta
bumi pertiwi, bangsa ini masih bisa diperbaiki. Bangsa ini membutuhkan pemuda
yang rela mengulurkan tangannya, membuka mata hati, bersama menyambungkan
harapan-harapan anak bangsa. Sekecil apapun hal itu lakukanlah demi kemajuan
pendidikan bangsa Indonesia.
Pendidikan
di negeri ini merupakan tanggung jawab bersama. Sinergitas antar semuanya harus
dimaksimalkan agar pendidikan di negeri ini dapat mencapai tujuan yang
diidamkan. Keseimbangan peran antara pemerintah dengan masyarakat begitupun
antara guru dengan orang tua. Dengan adanya kesadaran bahwa pendidikan adalah
tanggung jawab bersama diharapkan pendidikan bangsa ini dapat berbenah dan seluruh orang-orang yang ada di dalamnya
dapat bersinergi sehingga pendidikan di negeri ini dapat menciptakan
manusia-manusia unggul yang berkarakter.
Untuk seluruh guru di Indonesia, juga untuk seluruh pengajar muda di negeri ini,
Selamat mendidik ! Mendidiklah dengan
hati ikhlas serta penuh cinta dan kasih sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar