Minggu, 18 September 2016

SIMULASI

Jam dinding tepat menunjukkan pukul sebelas malam. Malam kian menampakkan kesunyiannya. Kini sudah tidak terdengar lagi suara gaduh para penghuni rumah kontrakan. Detak – detak jarum jam semakin jelas terdengar di telingaku menerobos keheningan malam itu. Aku memencet tombol di handphone-ku mengakhiri perbincangan di telepon malam itu.
Telingaku sudah cukup panas setelah  dua jam mengobrol dengan kawan lamaku. Ingin rasanya aku merebahkan tubuhku di atas kasur yang sudah sedari tadi melambai – lambai ke arahku. Selang beberapa detik setelah merebahkan tubuh di atas kasur, handphone kembali berbunyi menandakan ada pesan baru bertuliskan “besok jangan lupa tugas makalah pedagogik harus sudah selesai”. Dan tampaknya aku harus mengurungkan niat untuk memejamkan mata saat itu juga.
Namun kesunyian malam yang senyap dan rasa lelah tak mampu menahan rasa kantukku. Sayup – sayup mataku pun mulai terpejam meninggalkan malam dan suara detak jarum jam yang sedari tadi terdengar di telingaku.
***
Aku terbangun pukul tiga dini hari. Entah apa yang membuatku terbangun. Rasanya seolah tiba – tiba ada yang menepuk pundakku. Tanganku meraba – raba ke sekeliling kasur mencari – cari handphone milikku. Aku terperanjat seketika setelah tersadar bahwa handphone-ku tidak ada.
“Hilang !” satu kata yang ada dalam pikiranku saat itu.
“Kemalingan ???? ah mana mungkin.” Pikirku.
Tanganku pun langsung menggoyang-goyangkan tubuh Winda yang masih terlelap dalam tidurnya. Winda mulai merasakan ada yang menggetar- getarkan tubuhnya. Aku pun langsung menceritakan perihal handphone-ku yang menghilang entah kemana. Winda menekan beberapa tombol handphone-nya berusaha untuk menghubungi nomor handphone-ku.
“tuuuuuuuuuuutttttt…..” terdengar suara seperti itu. Aku menggeledah semua sudut kamar. Tapi tak juga kudengar selain bunyi kegaduhan kami berdua. Namun, selang beberapa detik kemudian telepon terputus dan tidak terdengar lagi suara seperti itu.
Untuk kedua kalinya Winda berusaha menghubungi nomor handphone-ku. Tetapi yang terdengar hanyalah “Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi.”
Itu artinya handphone-ku dinon-aktifkan. Segala macam bentuk dugaan berkecamuk di pikiranku saat itu. Aku kembali berusaha mengingat–ingat kejadian semalam sesaat sebelum aku terlelap tidur. Aku kembali memutar memori otakku. Yang ku ingat hanyalah semalam sesaat sebelum mataku terpejam, aku meletakkan handphone-ku di atas sebuah koper milik Winda yang tepat berada di bawah jendela kamar.
Jendela. Satu kata kunci yang ada di otakku saat itu. Tanpa pikir panjang tanganku langsung meraih ujung hordeng yang terpasang di jendela kamar.
“Sreeet..” bunyi besi pengait hordeng yang saling bergesekan di jendela.
“Astaga !” mataku langsung terbelalak melihat jendela yang terbuka lebar tanpa sepengetahuan aku dan Winda. Tubuhku lemas terkulai di lantai. Winda berusaha menenangkanku. Kamarku benar-benar kemalingan.
Aku ingat betul sorenya aku menutup hordeng karena  berniat untuk berganti pakaian setelah selesai mandi. Dan aku lupa membuka hordengnya lagi. Kesimpulannya malam itu aku dan Winda tidak sadar kalau jendela kamar kami masih terbuka.
Mungkin maling yang tak berprikemanusiaan itu kebetulan lewat kontrakanku dan melihat jendela kamarku yang masih terbuka kemudian dia melihat sebuah handphone yang dengan mudah dapat disentuh dengan jari – jari tangannya. Atau mungkin saja dia sengaja melancarkan aksinya pada malam itu dan rumah kontrakan inilah yang akan dijadikan sasaranya malam ini. Ah, tak tahu lah. Beberapa pikiran negatif sempat singgah di otakku.
Winda buru - buru mengetuk kamar pemilik rumah kontrakan. Kebetulan malam itu pemiliknya menginap di rumah ini. Kami langsung mengadukan kejadian ini kepada pemilik kontrakan. Kegaduhanku dan Winda membuat para penghuni kontrakan yang lainnya ikut terbangun dan turut prihatin atas musibah yang baru saja kualami. Tapi apalah artinya sebuah penyesalan. Aku sadar ini akibat dari kelalaianku sendiri yang lupa untuk membuka hordeng kembali sehingga hordeng dalam keadaan tertutup dan tidak tembus pandang yang mengakibatkan kami berdua tidak saling mengetahui kalau jendela kamar masih dalam posisi terbuka.
Aku tertunduk lesu. Seketika itu bayanganku melayang pada sebuah peristiwa yang terjadi tepat pada perayaan hari ulang tahunku, 10 November 2007. Satu bulan yang lalu usiaku genap delapan belas tahun. Sebuah tradisi yang tidak pernah terlewatkan oleh semua orang yang tinggal di kontrakan kami adalah memberikan kejutan kepada salah satu dari kami yang sedang merayakan hari ulang tahunnya. Namun, kejutan ini bukanlah kejutan yang membahagian akan tetapi mengerikan di mata mereka.
 Hari itu tepatnya hari selasa. Hatiku cemas dan gelisah. Ingin rasanya cepat melewati hari ini. Aku takut kalau aku lah yang akan dijadikan sasaran mereka di hari ini. Sepulang kuliah, sengaja aku langsung mengunci pintu kamar dan mengurung diri di dalam kamar. Aku takut akan bernasib sama dengan teman–temanku yang sudah pernah dijadikan korban mereka.
Biasanya mereka mengikat korbannya di tiang jemuran yang ada di halaman belakang rumah. Kemudian dengan sadisnya mereka menyiramkan air yang sudah dicampur dengan pewarna dan beraneka ragam bahan lainnya. Kemudian mereka juga melempari kepala dan rambut korban dengan telur ayam kampung. Kemudian menaburi kepalanya dengan tepung terigu. Korban layaknya sudah seperti adonan kueh yang siap untuk dimasak. Mereka tertawa  terpingkal-pingkal merasa puas karena telah memberikan kejutan yang luar biasa menurut mereka.
Aku terhenyak tak kuat membayangkan jika aku yang harus mengalaminya. Aku hanya sesekali keluar kamar untuk mengambil nasi dan pergi ke kamar mandi. Jika di tanya aku hanya menjawab kalau aku sedang tidak enak badan. Mereka yang bertanya hanya mengangguk ringan berusaha mengiyakan alasanku.
Malam harinya aku terpaksa keluar kamar dan meminta izin keluar rumah untuk mencari makanan. Perutku yang lapar rasanya sudah tak bisa dikompromi lagi. Di tengah jalan aku baru ingat kalau handphone-ku tertinggal di kamar. Sepulang ke rumah aku langsung menuju kamarku. Namun yang kulihat kamarku terkunci. Aku bertanya kepada Winda. Namun Winda hanya menggeleng.
Lama aku dan Winda menunggu akhirnya pemilik rumah kontrakan kami pun datang. Aku segera mengadukan kejadian ini pada beliau. Pak Sumardi mengaku kalu dia memiliki kunci cadangan semua kamar yang ada di rumah ini untuk mengantisipasi kalau – kalau ada kejadian seperti ini. Baru saja gagang kunci menyentuh lubang yang ada di pintu, terdengar suara teriakan dari salah satu temanku.
“Tunggu !” Adel datang menghampiri kami. Terlihat tangannya menggenggam sebuah kunci dengan gantungan kunci yang rasanya aku kenal.
“kenapa Adel ?” tanyaku
“Apa – apaan sih kamu ? pake ngadu sama Pak Sumardi segala !” Pekiknya sambil menyodorkan kunci padaku.
Ternyata Adel sengaja iseng mengunci kamarku ketika melihat kunci kamarku masih menggantung di gagang pintu.
Setelah kamar terbuka aku langsung menggeledah setiap sisi kamar. Namun tak kutemukan juga handphone milikku. Aku ternganga ketika melihat jendela kamar yang terbuka lebar. Tidak mungkin kalau kamarku kemalingan. Kecurigaanku muncul ketika aku melihat handphone Winda yang masih utuh sedangkan handphone milikku sudah tidak ada. Padahal jelas aku meletakkan handphone-ku persis di dekat handphone milik Winda. Mana mungkin  ada maling yang pilih-pilih. Aku yakin ini Cuma akal – akalan mereka saja untuk mengelabuiku karena memang hari ini adalah hari ulang tahunku.
Kecemasanku bertambah parah ketika Pak Sumardi mengetahui hal ini. Beliau memintaku untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Kemudian Pak Sumardi bergegas keluar untuk mengecek jendela kamarku dari luar. Tiba – tiba beliau menunjukkan sesuatu kepada kami.
“Bapak menemukan ini di dekat jendela kamu.” Sambil menyodorkan sebatang kayu di seberang jendela.
Pikiranku semakin kacau.
“kemungkinan pencurinya menggunakan kayu ini untuk mengambil handphone.” Jelas Pak Sumardi.
Aku benar – benar bingung, antara percaya dan tidak. Tangis pun pecah seketika. Beberapa dari mereka mencoba menenangkanku. Aku hanya terdiam. Sesekali masih sesenggukan sambil mengeluarkan air mata.
Selang beberapa menit setelah tangisku mereda. Tiba – tiba listrik di kontrakkan kami padam. Aku pikir malam ini kontrakkan kami mendapat giliran pemadaman listrik. Tapi ternyata tidak. Sayup-sayup kulihat nyala cahaya lilin dari bola mataku yang semakin membengkak. Dan lantunan lagu ucapan selamat ulang tahun.
Aku tertipu. Masih saja aku bisa tertipu oleh ulah mereka. Aku masih terus menangis. Entah karena kesal atau terharu.
Namun yang kurasa sekarang bukanlah sebuah kejutan yang diberikan oleh teman – temanku satu bulan yang lalu. Ini benar – benar nyata. Mungkin satu bulan yang lalu adalah simulasi dari kejadian di pagi ini. Tuhan sudah mengingatkanku. Hanya aku yang tidak peka dengan peristiwa satu bulan yang lalu itu.
Handphone Samsung Champ keluaran beberapa tahun yang lalu ini kini telah raib. Handphone yang kubeli dengan susah payah kini telah berpindah tangan. Tubuhku terkulai lemas ditemani suara detak jarum yang semakin berpacu dengan waktu.

Serang, 3 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar