Jam dinding tepat menunjukkan
pukul sebelas malam. Malam kian menampakkan kesunyiannya. Kini sudah tidak
terdengar lagi suara gaduh para penghuni rumah kontrakan. Detak – detak jarum
jam semakin jelas terdengar di telingaku menerobos keheningan malam itu. Aku
memencet tombol di handphone-ku
mengakhiri perbincangan di telepon malam itu.
Telingaku sudah cukup panas
setelah dua jam mengobrol dengan kawan
lamaku. Ingin rasanya aku merebahkan tubuhku di atas kasur yang sudah sedari
tadi melambai – lambai ke arahku. Selang beberapa detik setelah merebahkan
tubuh di atas kasur, handphone
kembali berbunyi menandakan ada pesan baru bertuliskan “besok jangan lupa tugas
makalah pedagogik harus sudah selesai”. Dan tampaknya aku harus mengurungkan
niat untuk memejamkan mata saat itu juga.
Namun kesunyian malam yang
senyap dan rasa lelah tak mampu menahan rasa kantukku. Sayup – sayup mataku pun
mulai terpejam meninggalkan malam dan suara detak jarum jam yang sedari tadi
terdengar di telingaku.
***
Aku terbangun pukul tiga dini
hari. Entah apa yang membuatku terbangun. Rasanya seolah tiba – tiba ada yang
menepuk pundakku. Tanganku meraba – raba ke sekeliling kasur mencari – cari handphone milikku. Aku terperanjat
seketika setelah tersadar bahwa handphone-ku
tidak ada.
“Hilang !” satu kata yang ada
dalam pikiranku saat itu.
“Kemalingan ???? ah mana
mungkin.” Pikirku.
Tanganku pun langsung
menggoyang-goyangkan tubuh Winda yang masih terlelap dalam tidurnya. Winda
mulai merasakan ada yang menggetar- getarkan tubuhnya. Aku pun langsung
menceritakan perihal handphone-ku
yang menghilang entah kemana. Winda menekan beberapa tombol handphone-nya berusaha untuk menghubungi
nomor handphone-ku.
“tuuuuuuuuuuutttttt…..”
terdengar suara seperti itu. Aku menggeledah semua sudut kamar. Tapi tak juga
kudengar selain bunyi kegaduhan kami berdua. Namun, selang beberapa detik
kemudian telepon terputus dan tidak terdengar lagi suara seperti itu.
Untuk kedua kalinya Winda
berusaha menghubungi nomor handphone-ku.
Tetapi yang terdengar hanyalah “Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah
beberapa saat lagi.”
Itu artinya handphone-ku dinon-aktifkan. Segala
macam bentuk dugaan berkecamuk di pikiranku saat itu. Aku kembali berusaha
mengingat–ingat kejadian semalam sesaat sebelum aku terlelap tidur. Aku kembali
memutar memori otakku. Yang ku ingat hanyalah semalam sesaat sebelum mataku
terpejam, aku meletakkan handphone-ku
di atas sebuah koper milik Winda yang tepat berada di bawah jendela kamar.
Jendela. Satu kata kunci yang
ada di otakku saat itu. Tanpa pikir panjang tanganku langsung meraih ujung
hordeng yang terpasang di jendela kamar.
“Sreeet..” bunyi besi pengait
hordeng yang saling bergesekan di jendela.
“Astaga !” mataku langsung
terbelalak melihat jendela yang terbuka lebar tanpa sepengetahuan aku dan
Winda. Tubuhku lemas terkulai di lantai. Winda berusaha menenangkanku. Kamarku
benar-benar kemalingan.
Aku ingat betul sorenya aku
menutup hordeng karena berniat untuk
berganti pakaian setelah selesai mandi. Dan aku lupa membuka hordengnya lagi.
Kesimpulannya malam itu aku dan Winda tidak sadar kalau jendela kamar kami
masih terbuka.
Mungkin maling yang tak
berprikemanusiaan itu kebetulan lewat kontrakanku dan melihat jendela kamarku
yang masih terbuka kemudian dia melihat sebuah handphone yang dengan mudah dapat disentuh dengan jari – jari
tangannya. Atau mungkin saja dia sengaja melancarkan aksinya pada malam itu dan
rumah kontrakan inilah yang akan dijadikan sasaranya malam ini. Ah, tak tahu
lah. Beberapa pikiran negatif sempat singgah di otakku.
Winda buru - buru mengetuk kamar
pemilik rumah kontrakan. Kebetulan malam itu pemiliknya menginap di rumah ini.
Kami langsung mengadukan kejadian ini kepada pemilik kontrakan. Kegaduhanku dan
Winda membuat para penghuni kontrakan yang lainnya ikut terbangun dan turut
prihatin atas musibah yang baru saja kualami. Tapi apalah artinya sebuah
penyesalan. Aku sadar ini akibat dari kelalaianku sendiri yang lupa untuk
membuka hordeng kembali sehingga hordeng dalam keadaan tertutup dan tidak
tembus pandang yang mengakibatkan kami berdua tidak saling mengetahui kalau
jendela kamar masih dalam posisi terbuka.
Aku tertunduk lesu. Seketika
itu bayanganku melayang pada sebuah peristiwa yang terjadi tepat pada perayaan
hari ulang tahunku, 10 November 2007. Satu bulan yang lalu usiaku genap delapan
belas tahun. Sebuah tradisi yang tidak pernah terlewatkan oleh semua orang yang
tinggal di kontrakan kami adalah memberikan kejutan kepada salah satu dari kami
yang sedang merayakan hari ulang tahunnya. Namun, kejutan ini bukanlah kejutan
yang membahagian akan tetapi mengerikan di mata mereka.
Hari itu tepatnya hari selasa. Hatiku cemas
dan gelisah. Ingin rasanya cepat melewati hari ini. Aku takut kalau aku lah
yang akan dijadikan sasaran mereka di hari ini. Sepulang kuliah, sengaja aku
langsung mengunci pintu kamar dan mengurung diri di dalam kamar. Aku takut akan
bernasib sama dengan teman–temanku yang sudah pernah dijadikan korban mereka.
Biasanya mereka mengikat
korbannya di tiang jemuran yang ada di halaman belakang rumah. Kemudian dengan
sadisnya mereka menyiramkan air yang sudah dicampur dengan pewarna dan beraneka
ragam bahan lainnya. Kemudian mereka juga melempari kepala dan rambut korban dengan
telur ayam kampung. Kemudian menaburi kepalanya dengan tepung terigu. Korban
layaknya sudah seperti adonan kueh yang siap untuk dimasak. Mereka tertawa terpingkal-pingkal merasa puas karena telah
memberikan kejutan yang luar biasa menurut mereka.
Aku terhenyak tak kuat
membayangkan jika aku yang harus mengalaminya. Aku hanya sesekali keluar kamar
untuk mengambil nasi dan pergi ke kamar mandi. Jika di tanya aku hanya menjawab
kalau aku sedang tidak enak badan. Mereka yang bertanya hanya mengangguk ringan
berusaha mengiyakan alasanku.
Malam harinya aku terpaksa
keluar kamar dan meminta izin keluar rumah untuk mencari makanan. Perutku yang
lapar rasanya sudah tak bisa dikompromi lagi. Di tengah jalan aku baru ingat
kalau handphone-ku tertinggal di
kamar. Sepulang ke rumah aku langsung menuju kamarku. Namun yang kulihat kamarku
terkunci. Aku bertanya kepada Winda. Namun Winda hanya menggeleng.
Lama aku dan Winda menunggu
akhirnya pemilik rumah kontrakan kami pun datang. Aku segera mengadukan
kejadian ini pada beliau. Pak Sumardi mengaku kalu dia memiliki kunci cadangan
semua kamar yang ada di rumah ini untuk mengantisipasi kalau – kalau ada
kejadian seperti ini. Baru saja gagang kunci menyentuh lubang yang ada di
pintu, terdengar suara teriakan dari salah satu temanku.
“Tunggu !” Adel datang
menghampiri kami. Terlihat tangannya menggenggam sebuah kunci dengan gantungan
kunci yang rasanya aku kenal.
“kenapa Adel ?” tanyaku
“Apa – apaan sih kamu ? pake
ngadu sama Pak Sumardi segala !” Pekiknya sambil menyodorkan kunci padaku.
Ternyata Adel sengaja iseng
mengunci kamarku ketika melihat kunci kamarku masih menggantung di gagang
pintu.
Setelah kamar terbuka aku
langsung menggeledah setiap sisi kamar. Namun tak kutemukan juga handphone
milikku. Aku ternganga ketika melihat jendela kamar yang terbuka lebar. Tidak
mungkin kalau kamarku kemalingan. Kecurigaanku muncul ketika aku melihat handphone Winda yang masih utuh
sedangkan handphone milikku sudah
tidak ada. Padahal jelas aku meletakkan handphone-ku
persis di dekat handphone milik Winda.
Mana mungkin ada maling yang
pilih-pilih. Aku yakin ini Cuma akal – akalan mereka saja untuk mengelabuiku
karena memang hari ini adalah hari ulang tahunku.
Kecemasanku bertambah parah
ketika Pak Sumardi mengetahui hal ini. Beliau memintaku untuk menjelaskan duduk
perkara yang sebenarnya. Kemudian Pak Sumardi bergegas keluar untuk mengecek
jendela kamarku dari luar. Tiba – tiba beliau menunjukkan sesuatu kepada kami.
“Bapak menemukan ini di dekat
jendela kamu.” Sambil menyodorkan sebatang kayu di seberang jendela.
Pikiranku semakin kacau.
“kemungkinan pencurinya
menggunakan kayu ini untuk mengambil handphone.”
Jelas Pak Sumardi.
Aku benar – benar bingung,
antara percaya dan tidak. Tangis pun pecah seketika. Beberapa dari mereka
mencoba menenangkanku. Aku hanya terdiam. Sesekali masih sesenggukan sambil
mengeluarkan air mata.
Selang beberapa menit setelah
tangisku mereda. Tiba – tiba listrik di kontrakkan kami padam. Aku pikir malam
ini kontrakkan kami mendapat giliran pemadaman listrik. Tapi ternyata tidak.
Sayup-sayup kulihat nyala cahaya lilin dari bola mataku yang semakin
membengkak. Dan lantunan lagu ucapan selamat ulang tahun.
Aku tertipu. Masih saja aku
bisa tertipu oleh ulah mereka. Aku masih terus menangis. Entah karena kesal
atau terharu.
Namun yang kurasa sekarang
bukanlah sebuah kejutan yang diberikan oleh teman – temanku satu bulan yang
lalu. Ini benar – benar nyata. Mungkin satu bulan yang lalu adalah simulasi
dari kejadian di pagi ini. Tuhan sudah mengingatkanku. Hanya aku yang tidak
peka dengan peristiwa satu bulan yang lalu itu.
Handphone Samsung
Champ keluaran beberapa tahun yang lalu ini kini telah raib. Handphone yang kubeli dengan susah payah
kini telah berpindah tangan. Tubuhku terkulai lemas ditemani suara detak jarum
yang semakin berpacu dengan waktu.
Serang, 3 Maret 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar