“breeeeemmmmm…” suara deruman mobil metromini
melintas di depanku.
Bentuk tubuhnya yang kian lama semakin usang tak
membuatnya semakin ditinggalkan orang. Ekor knalpotnya yang selalu mengeluarkan
kepulan asap hampir tak pernah menghiraukan setiap kritikan yang keluar dari
mulut para pelintas jalanan. Dia tetap melaju dan terus melaju di bawah kemudi
sang supir.
Sudah hampir dua tahun lamanya aku memakai jasanya.
Perkenalan pertamaku dengannya terjadi ketika aku harus masuk ke sekolah
menengah atas milik pemerintah yang jauh dari tempat tinggalku. Dua puluh
kilometer setiap harinya harus aku tempuh dengannya. Empat puluh lima menit
harus ku habiskan waktuku bersamanya di setiap pagi menjelang. Rasanya aku
sudah begitu akrab dengannya.
Berbagai jenis lapisan masyarakat berjejal di dalam
angkutan ini. Terkadang sesekali aku harus mengalah memberikan tempat dudukku
kepada sosok – sosok yang tua renta. Aku tak tega jika harus melihat sosok –
sosok ini terkatung – katung berdiri
berdesakkan dengan para penumpang lainnya. Lebih tak tega lagi jika sama sekali
tak ada yang peduli dengan sosok – sosok ini. Pernah suatu ketika aku tidak
berhasil mendapatkan tempat duduk. Kemudian aku melihat seorang nenek paruh
baya melangkahkan kakinya ke dalam metromini yang ku naiki. Dengan tergopoh –
gopoh ia mengangsurkan barang – barang dagangannya ke dalam metromini. Aku
memapah barang – barang dagangannya, mencoba untuk membantu kerepotan yang
sedang di alaminya.
“Terima kasih, Nak.” Ucapnya kepadaku.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Dia kembali
memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari – cari barangkali masih ada
tempat duduk yang tersisa untuknya. Namun ternyata hari itu di setiap bangku
metromini sudah di penuhi oleh banyak kepala.
Ada yang terkantuk – kantuk, ada yang dengan khusyu membaca buku, dan
ada juga yang asyik mengobrol dengan orang yang duduk disebelahnya tanpa ada
rasa prihatin sedikitpun pada sosok yang sudah renta ini. Sungguh ironi. Tak
ada yang menyodorkannya tempat duduk. Bahkan untuk meliriknya saja enggan. Ah !
kemana jiwa saling tolong menolong pemuda pemudi di negeri kita. Mungkin hanya tinggal
sekelumit saja yang masih memilikinya.
***
Aku memasang posisi tangan kananku dan
mengulurkannya ke depan kemudian menggerakkannya seolah melambai – lambai ke
arah benda merah mengkilat yang tampak dari kajauhan semakin mendekatiku. Sebuah
metromini tepat berhenti di depan tubuhku yang masih berdiri tegak melawan
teriknya matahari siang ini. Secepat mungkin kulangkahkan kakiku ke pintu masuk
angkutan ini. Aku pun langsung mencari tempat duduk yang menurutku paling
nyaman. Siang ini aku beruntung masih berkesempatan memilih tempat duduk.
Lima menit sudah perjalananku. Kulihat Pak supir
metromini kembali merapatkan angkutan ini ke pinggir jalan perempatan Tegal
Wangi. Tampak dari jendela kulihat kernet metromini mondar – mandir di jalan
perempatan sambil berteriak menawarkan jasa metromininya. Belakangan ini teman
– temanku sering memanggilnya Bang Edo. Aku lumayan hafal dengan wajah supir dan
kernet metromininya karena jumlahnya
yang tidak banyak dan setiap hari pula aku naik metromini.
“Ciruas Bu ? Ciwaru ? Ayo Bu langsung jalan.” Ajak
Bang Edo yang berumur sekitar tiga puluhan sembari menunjuk – nunjuk ke arah
metromininya.
Obrolan singkatpun terjadi antara Bang Edo dengan
ibu – ibu yang berjejer di sepanjang jalan perempatan Tegal Wangi. Namun yang
kulihat, setiap orang yang ditemuinya hanya menggeleng – gelengkan kepala.
Sementara, di dalam metromini suara riuh penumpang mulai terdengar. Beberapa
kata bernadakan amarah keluar dari mulut mereka. Mungkin terik matahari inilah
yang membuat mereka enggan berlama – lama di dalam metromini. Begitu juga
dengan bau keringat basah dan aroma – aroma lainnya bercampur aduk di dalam
metromini yang membuat sang supir untuk segera menjalankan mesin metromininya
dan kembali melaju meninggalkan perempatan Tegal Wangi.
Selang beberapa menit setelah meninggalkan
perempatan Tegal Wangi, dua orang pemuda berumur sekitar seperlima abad dan
seorang anak kecil seumuran anak SD masuk ke dalam metromini. Salah satu di
antaranya menenteng sebuah gitar kecil. Bermodalkan suara dan alat musik yang
seadanya mereka bernyanyi seolah bermaksud menghibur kami. Yang kulihat di
sekelilingku adalah sikap acuh dan tak sedikit yang mencibir mereka. Gaya
berpakaian pemuda – pemuda ini mungkin yang menimbulkan kesan negatif di mata
mereka. Kudengar celetukan orang yang duduk dibelakangku.
“Masih muda kok ngamen ?” Sambil memasang wajah
cemberut dan senyum kecut.
Selepas menyanyikan dua buah lagu, pemuda – pemuda
itu menyuruh anak kecil yang berkaus lengan pendek itu untuk menyodorkan sebuah
bekas bungkus permen kepada para penumpang meminta upah atas hiburan mereka.
Tak banyak orang yang mau memberikan uang recehnya kepada pemuda – pemuda ini.
Kebanyakan dari mereka bersikap acuh tak acuh atau berpura –pura tidur agar
tidak disodorkan bekas bungkus permen juga oleh para pengamen itu.
Aku cukup iba kepada mereka yang hidupnya terlunta –
lunta dijalan tanpa tujuan yang pasti akan bagaimana hidup mereka selanjutnya. Umurnya
yang masih muda seharusnya masih memungkinkan mereka untuk bekerja ketimbang
mengamen. Mungkin faktor kurangnya lapangan kerja inilah yang membuat mereka
mengambil jalan pintas sebagai seorang pengamen. Aku lebih iba lagi dengan
sosok anak kecil yang mereka suruh untuk meminta – minta uang pada penumpang.
Di usianya yang masih kecil seharusnya dia berhak menikmati dunianya. Bermain
dengan teman sebaya atau melakukan aktifitas apa pun yang membuatnya merasakan
kebebasan. Tidak seperti saat ini yang harus berkeliling dari satu angkutan ke
angkutan lainnya. Dua lembar ribuan kumasukkan kedalam kantong bekas bungkus
permen yang ia sodorkan.
Dua puluh menit lagi perjalananku selesai. Dua
perempatan lagi yang harus kulewati agar bisa sampai di rumah. Di perempatan
yang pertama, metromini kembali menepi untuk menurunkan penumpang. Tak lama
setelah metromini menepi tiba – tiba salah satu dari penumpang yang akan turun
diperempatan itu berteriak. Sontak seluruh mata tertuju padanya. Dia mengadukan
ternyata handphone miliknya hilang
dan menemukan resleting tasnya dalam keadaan terbuka. Ternyata telah terjadi tindak
kriminal di metromini ini.
Pikiranku sesaat melayang membayangkan apa yang
telah kulihat dan kudengar di sini. Sebuah metromini mampu memutar sebuah
tayangan kehidupan yang sebenarnya. Melihat sebuah fakta dan realitas yang
terjadi di masyarakat saat ini. Bagiku metromini ini di dalamnya ada banyak potret
kehidupan dimana aku bisa belajar menghargai sesama manusia dan bersyukur atas
nikmat kehidupan yang kumiliki saat ini.
***
“Ciwaru, Ciwaru, Ciwaru…..” teriak Bang Edo.
Akupun terkejut. “Lho Bang, kok Ciwaru ? Perempatan
Ciruas sudah kelewat ?”
“Lha, sudah dari tadi, Neng.”
Ternyata tadi aku sempat ketiduran. Cepat saja aku
langsung menuju pintu keluar metromini.
“Kiri, kiri, kiri, kiri,…..” sambil mengetuk –
ngetuk pintu metromini berharap pak supir mendengar teriakanku.
Tanpa sadar aku menginjak tali sepatuku yang
terlepas dari ikatannya. Aku pun turun dalam keadaan terjatuh dan menanggung
malu. Orang – orang yang melihatku terjatuh ada yang berteriak dan tak sedikit
juga yang tertawa terbahak – bahak. Aku hanya menunduk. Tak berani memandang
mereka.
Metromini kembali melaju meninggalkan aku dan rasa
maluku di pinggir jalan perempatan Ciwaru. Akhirnya aku harus memutar balik.
Dan aku harus menunggu metromini berikutnya dari arah yang berlawanan dengan
posisiku sekarang.
Serang, 15 April
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar