Minggu, 18 September 2016

METROMINI

“breeeeemmmmm…” suara deruman mobil metromini melintas di depanku.
Bentuk tubuhnya yang kian lama semakin usang tak membuatnya semakin ditinggalkan orang. Ekor knalpotnya yang selalu mengeluarkan kepulan asap hampir tak pernah menghiraukan setiap kritikan yang keluar dari mulut para pelintas jalanan. Dia tetap melaju dan terus melaju di bawah kemudi sang supir.
Sudah hampir dua tahun lamanya aku memakai jasanya. Perkenalan pertamaku dengannya terjadi ketika aku harus masuk ke sekolah menengah atas milik pemerintah yang jauh dari tempat tinggalku. Dua puluh kilometer setiap harinya harus aku tempuh dengannya. Empat puluh lima menit harus ku habiskan waktuku bersamanya di setiap pagi menjelang. Rasanya aku sudah begitu akrab dengannya.
Berbagai jenis lapisan masyarakat berjejal di dalam angkutan ini. Terkadang sesekali aku harus mengalah memberikan tempat dudukku kepada sosok – sosok yang tua renta. Aku tak tega jika harus melihat sosok – sosok  ini terkatung – katung berdiri berdesakkan dengan para penumpang lainnya. Lebih tak tega lagi jika sama sekali tak ada yang peduli dengan sosok – sosok ini. Pernah suatu ketika aku tidak berhasil mendapatkan tempat duduk. Kemudian aku melihat seorang nenek paruh baya melangkahkan kakinya ke dalam metromini yang ku naiki. Dengan tergopoh – gopoh ia mengangsurkan barang – barang dagangannya ke dalam metromini. Aku memapah barang – barang dagangannya, mencoba untuk membantu kerepotan yang sedang di alaminya.
“Terima kasih, Nak.” Ucapnya kepadaku.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
 Dia kembali memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari – cari barangkali masih ada tempat duduk yang tersisa untuknya. Namun ternyata hari itu di setiap bangku metromini sudah di penuhi oleh banyak kepala.  Ada yang terkantuk – kantuk, ada yang dengan khusyu membaca buku, dan ada juga yang asyik mengobrol dengan orang yang duduk disebelahnya tanpa ada rasa prihatin sedikitpun pada sosok yang sudah renta ini. Sungguh ironi. Tak ada yang menyodorkannya tempat duduk. Bahkan untuk meliriknya saja enggan. Ah ! kemana jiwa saling tolong menolong pemuda pemudi di negeri kita. Mungkin hanya tinggal sekelumit saja yang masih memilikinya.
***
Aku memasang posisi tangan kananku dan mengulurkannya ke depan kemudian menggerakkannya seolah melambai – lambai ke arah benda merah mengkilat yang tampak dari kajauhan semakin mendekatiku. Sebuah metromini tepat berhenti di depan tubuhku yang masih berdiri tegak melawan teriknya matahari siang ini. Secepat mungkin kulangkahkan kakiku ke pintu masuk angkutan ini. Aku pun langsung mencari tempat duduk yang menurutku paling nyaman. Siang ini aku beruntung masih berkesempatan memilih tempat duduk.
Lima menit sudah perjalananku. Kulihat Pak supir metromini kembali merapatkan angkutan ini ke pinggir jalan perempatan Tegal Wangi. Tampak dari jendela kulihat kernet metromini mondar – mandir di jalan perempatan sambil berteriak menawarkan jasa metromininya. Belakangan ini teman – temanku sering memanggilnya Bang Edo. Aku lumayan hafal dengan wajah supir dan kernet metromininya karena  jumlahnya yang tidak banyak dan setiap hari pula aku naik metromini.
“Ciruas Bu ? Ciwaru ? Ayo Bu langsung jalan.” Ajak Bang Edo yang berumur sekitar tiga puluhan sembari menunjuk – nunjuk ke arah metromininya.
Obrolan singkatpun terjadi antara Bang Edo dengan ibu – ibu yang berjejer di sepanjang jalan perempatan Tegal Wangi. Namun yang kulihat, setiap orang yang ditemuinya hanya menggeleng – gelengkan kepala. Sementara, di dalam metromini suara riuh penumpang mulai terdengar. Beberapa kata bernadakan amarah keluar dari mulut mereka. Mungkin terik matahari inilah yang membuat mereka enggan berlama – lama di dalam metromini. Begitu juga dengan bau keringat basah dan aroma – aroma lainnya bercampur aduk di dalam metromini yang membuat sang supir untuk segera menjalankan mesin metromininya dan kembali melaju meninggalkan perempatan Tegal Wangi.
Selang beberapa menit setelah meninggalkan perempatan Tegal Wangi, dua orang pemuda berumur sekitar seperlima abad dan seorang anak kecil seumuran anak SD masuk ke dalam metromini. Salah satu di antaranya menenteng sebuah gitar kecil. Bermodalkan suara dan alat musik yang seadanya mereka bernyanyi seolah bermaksud menghibur kami. Yang kulihat di sekelilingku adalah sikap acuh dan tak sedikit yang mencibir mereka. Gaya berpakaian pemuda – pemuda ini mungkin yang menimbulkan kesan negatif di mata mereka. Kudengar celetukan orang yang duduk dibelakangku.
“Masih muda kok ngamen ?” Sambil memasang wajah cemberut dan senyum kecut.
Selepas menyanyikan dua buah lagu, pemuda – pemuda itu menyuruh anak kecil yang berkaus lengan pendek itu untuk menyodorkan sebuah bekas bungkus permen kepada para penumpang meminta upah atas hiburan mereka. Tak banyak orang yang mau memberikan uang recehnya kepada pemuda – pemuda ini. Kebanyakan dari mereka bersikap acuh tak acuh atau berpura –pura tidur agar tidak disodorkan bekas bungkus permen juga oleh para pengamen itu.
Aku cukup iba kepada mereka yang hidupnya terlunta – lunta dijalan tanpa tujuan yang pasti akan bagaimana hidup mereka selanjutnya. Umurnya yang masih muda seharusnya masih memungkinkan mereka untuk bekerja ketimbang mengamen. Mungkin faktor kurangnya lapangan kerja inilah yang membuat mereka mengambil jalan pintas sebagai seorang pengamen. Aku lebih iba lagi dengan sosok anak kecil yang mereka suruh untuk meminta – minta uang pada penumpang. Di usianya yang masih kecil seharusnya dia berhak menikmati dunianya. Bermain dengan teman sebaya atau melakukan aktifitas apa pun yang membuatnya merasakan kebebasan. Tidak seperti saat ini yang harus berkeliling dari satu angkutan ke angkutan lainnya. Dua lembar ribuan kumasukkan kedalam kantong bekas bungkus permen yang ia sodorkan.
Dua puluh menit lagi perjalananku selesai. Dua perempatan lagi yang harus kulewati agar bisa sampai di rumah. Di perempatan yang pertama, metromini kembali menepi untuk menurunkan penumpang. Tak lama setelah metromini menepi tiba – tiba salah satu dari penumpang yang akan turun diperempatan itu berteriak. Sontak seluruh mata tertuju padanya. Dia mengadukan ternyata handphone miliknya hilang dan menemukan resleting tasnya dalam keadaan terbuka. Ternyata telah terjadi tindak kriminal di metromini ini.
Pikiranku sesaat melayang membayangkan apa yang telah kulihat dan kudengar di sini. Sebuah metromini mampu memutar sebuah tayangan kehidupan yang sebenarnya. Melihat sebuah fakta dan realitas yang terjadi di masyarakat saat ini. Bagiku metromini ini di dalamnya ada banyak potret kehidupan dimana aku bisa belajar menghargai sesama manusia dan bersyukur atas nikmat kehidupan yang kumiliki saat ini.
***
“Ciwaru, Ciwaru, Ciwaru…..” teriak Bang Edo.
Akupun terkejut. “Lho Bang, kok Ciwaru ? Perempatan Ciruas sudah kelewat ?”
“Lha, sudah dari tadi, Neng.”
Ternyata tadi aku sempat ketiduran. Cepat saja aku langsung menuju pintu keluar metromini.
“Kiri, kiri, kiri, kiri,…..” sambil mengetuk – ngetuk pintu metromini berharap pak supir mendengar teriakanku.
Tanpa sadar aku menginjak tali sepatuku yang terlepas dari ikatannya. Aku pun turun dalam keadaan terjatuh dan menanggung malu. Orang – orang yang melihatku terjatuh ada yang berteriak dan tak sedikit juga yang tertawa terbahak – bahak. Aku hanya menunduk. Tak berani memandang mereka.
Metromini kembali melaju meninggalkan aku dan rasa maluku di pinggir jalan perempatan Ciwaru. Akhirnya aku harus memutar balik. Dan aku harus menunggu metromini berikutnya dari arah yang berlawanan dengan posisiku sekarang.

Serang, 15 April 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar