Minggu, 18 September 2016

Siang ini di kota Metropolitan

Tepat pukul jam satu siang pesawat mendarat di Bandara soekarto Hatta. Suara gaduh dari para penjemput di pintu kedatangan semakin memperkeruh suasana di bandara. Diska hanya sendiri termenung di depan pintu gerbang bandara. Dia berharap ada sanak saudaranya yang rela untuk menjemputnya di bandara.
Satu jam berlalu sudah, tak ada tanda – tanda bahwa akan ada yang datang menjemputnya di bandara. Diska pasrah dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah sendirian. Dia sadar kalau kesibukan kedua orang tuanya lah yang membuat mereka tidak bisa menjemput kedatangannya di bandara.
Tanpa pikir panjang Diska menghentikan sebuah taksi yang tengah lewat di depannya.
“Mau kemana mba ?” tanya supir taksi.
“Ke daerah Pondok Gede ya Pak.” jawab Diska.
Di dalam taksi, ada sesuatu yang menyita perhatiannya. Sebuah foto yang dipajang oleh pemilik taksi. Tanpa canggung Diska pun memutuskan untuk mengajak ngobrol pak supir.
“Yang ada di dalam foto itu anak bapak ya ?” tanya Diska sambil menunjukkan tangannya ke arah foto.
“iya Mbak.”
“Anak bapak berumur berapa tahun ?”
Tanpa diduga pertaanyaan kedua yang dilontarkan oleh Diska membuat pak supir meneteskan air mata. Diska bingung dan bertanya – tanya mengapa pak supir menangis. Belum sepat bapak itu menjawab, Diska langsung berbicara lagi.
“Mohon maaf pak kalau pertanyaan saya barusan menyinggung perasaan bapak.” ucap Diska.
“Ah tidak apa – apa mba. Saya hanya teringat dengan anak saya yang sekarang sedang dirawat di rumah sakit.” jawab pak supir .
“Lho anak bapak sedang sakit ? Sakit apa ?”
“Iya, anak saya sedang sakit mba. Sudah hampir seminggu dirawat di rumah sakit. Dia harus menggunakan tabung oksigen untuk bernapas. Sementara, tabung yang kecil saja harganya sangat mahal.” jelas pak supir.
“Saya turut prihatin pak dengan nasib yang menimpa anak bapak. Ini pak, saya ada uang, mungkin jumlahnya tidak banyak tetapi saya yakin Allah pasti masih berbaik hati kepada bapak dan keluarga bapak.” tutur Diska dengan berusaha menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
“Jangan mbak. Mbak tidak mengenal saya tetapi mbak tiba – tiba mau menolong saya.” tolak pak supir.
“Sudahlah pak. Anggap saja ini rezeki dari Allah.” jawab Diska berusaha meyakinkan pak supir agar mau menerima uangnya.
“Terima kasih banyak mbak. Semoga Allah senantiasa memberikan nikmat kepada orang berhati baik seperti mbak.”
Diska hanya membalasnya dengan senyuman. Dia tak mampu membayangkan kesedihan sang bapak. Dia tak mampu membayangkan jika yang dialami oleh anaknya terjadi pada dirinya.
Lima belas menit sudah diska di dalam taksi. Dia memutuskan untuk turun di depan toko kue. Dia ingin membeli kue di tempat langganan sewaktu dia masih tinggal di Indonesia. Diska memang sangat menyukai aneka kue. Sehingga tak jarang sesekali jika dia pulang ke Indonesia dia menyempatkan diri untuk membeli kue di toko itu.
Setelah berlama – lama di toko kue, Diska kebingungan mencari taksi untuk pulang. Karena daerah sekitar toko jarang sekali taksi yang  lewat. Biasanya dia pergi ke toko kue dengan kendaraan pribadi. Keadaan seperti ini memaksa Diska untuk berjalan kaki menyusuri pinggiran jalan di kota metropolitan yang  belum banyak berubah sepeninggalnya dia ke Jerman.
Kota ini masih penuh dengan kemacetan. Suasana kota di siang hari yang sangat panas membuat para pengguna jalan enggan untuk berlama-lama melewati setiap lekukan jalan raya di kota metropolitan ini. Begitupun dengan Diska. Debu-debu yang menggulung mengiri setiap hembusan angin yang terbawa oleh asap kendaraan yang mengepul menghiasi setiap sudut jalan raya nampaknya tidak mampu membuat Diska untuk berlama – lama untuk berada di pinggiran jalan.
Sejenak dia mencari tempat untuk beristirahat. Akhirnya Diska menemukan sebuah gerobak kecil milik pedagan minuman. Diska duduk dibangku yang sengaja disediakan oleh sang pedagang. Tak lama kemudian, di sampingnya duduk sesosok lelaki yang berperawakan seperti preman. Tato di sekujur tubuhnya mebuat Diska berpikiran negative dengan laki- laki itu. Tanpa basa basi laki – laki itu menyodorkan sebuah minuman kepada Diska. Namun Diska dengan lembut menolaknya.
“Kenapa mba ? Mba takut ya kalau minumannya saya beri racun?” tanya lelaki tersebut kepada Diska sambil tertawa.
“Emm engga pak. Saya gak haus Pak.” Jawab Diska gugup.
“Ya beginilah nasib saya. Berpenampilan seperti preman yang kerjaannya keluar masuk buih. Tapi sekarang saya capek mbak. Saya kangen anak – anak saya di rumah. Saya sudah capek menghirup pengapnya udara di penjara. Saya ingin seperti orang lain. Hidup normal menghirup udara bebas.”
Ucap lelaki itu.
“Sekarang bapak ambil hikmahnya saja. Bapak harus yakin kalau memang bapak benar – benar ingin berubah. Saya doakan semoga bapak bisa berkumpul kembali dengan keluarga bapak.” Ucap Diska mencoba menanggapi perkataan lelaki itu.
Akhirnya ada satu taksi yang lewat dan tepat berhenti di depan Diska. Langsung saja Diska masuk ke dalam taksi. Di dalam taksi dia masih memikirkan  kejadian – kejadian yang baru saja dialaminya.Tentang  Pak supir yang harus berjuang untuk membeli tabung oksigen untuk anaknya. Tentang narapidana yang ingin merasakan menghirup udara bebas. Tentang polusi di kota ini yang semakin tidak terkendali dari tahun ke tahun. Satu kata yang ada di benaknya yaitu udara. Setiap jiwa yang hidup pasti membutuhkan udara. Tanpa udara manusia tidak akan mampu menikmati indahnya kehidupan. Namun satu hal yang terkadang manusai melupakannya yaitu rasa bersyukur kepada sang maha pencipta dan rasa cinta akan udara. Sehingga terkadang membuat mereka lupa untuk menjaganya.
Pikirannya sekilas melayang membayangkan keadaan rumah sekarang. Rasa rindunya pada keluarga sudah tak tertahankan lagi. Dalam bayangannya tampak jelas raut muka kedua orang tuanya. Rasanya Diska ingin cepat – cepat sampai di rumah.
Serang, 18 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar