Tepat pukul jam satu siang pesawat mendarat di
Bandara soekarto Hatta. Suara gaduh dari para penjemput di pintu kedatangan
semakin memperkeruh suasana di bandara. Diska hanya sendiri termenung di depan pintu
gerbang bandara. Dia berharap ada sanak saudaranya yang rela untuk menjemputnya
di bandara.
Satu jam berlalu sudah, tak ada tanda – tanda bahwa akan
ada yang datang menjemputnya di bandara. Diska pasrah dan akhirnya memutuskan
untuk pulang ke rumah sendirian. Dia sadar kalau kesibukan kedua orang tuanya
lah yang membuat mereka tidak bisa menjemput kedatangannya di bandara.
Tanpa pikir panjang Diska menghentikan sebuah taksi
yang tengah lewat di depannya.
“Mau kemana mba ?” tanya supir taksi.
“Ke daerah Pondok Gede ya Pak.” jawab Diska.
Di dalam taksi, ada sesuatu yang menyita
perhatiannya. Sebuah foto yang dipajang oleh pemilik taksi. Tanpa canggung
Diska pun memutuskan untuk mengajak ngobrol pak supir.
“Yang ada di dalam foto itu anak bapak ya ?” tanya
Diska sambil menunjukkan tangannya ke arah foto.
“iya Mbak.”
“Anak bapak berumur berapa tahun ?”
Tanpa diduga pertaanyaan kedua yang dilontarkan oleh
Diska membuat pak supir meneteskan air mata. Diska bingung dan bertanya – tanya
mengapa pak supir menangis. Belum sepat bapak itu menjawab, Diska langsung
berbicara lagi.
“Mohon maaf pak kalau pertanyaan saya barusan
menyinggung perasaan bapak.” ucap Diska.
“Ah tidak apa – apa mba. Saya hanya teringat dengan
anak saya yang sekarang sedang dirawat di rumah sakit.” jawab pak supir .
“Lho anak bapak sedang sakit ? Sakit apa ?”
“Iya, anak saya sedang sakit mba. Sudah hampir
seminggu dirawat di rumah sakit. Dia harus menggunakan tabung oksigen untuk
bernapas. Sementara, tabung yang kecil saja harganya sangat mahal.” jelas pak
supir.
“Saya turut prihatin pak dengan nasib yang menimpa
anak bapak. Ini pak, saya ada uang, mungkin jumlahnya tidak banyak tetapi saya
yakin Allah pasti masih berbaik hati kepada bapak dan keluarga bapak.” tutur
Diska dengan berusaha menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
“Jangan mbak. Mbak tidak mengenal saya tetapi mbak
tiba – tiba mau menolong saya.” tolak pak supir.
“Sudahlah pak. Anggap saja ini rezeki dari Allah.” jawab
Diska berusaha meyakinkan pak supir agar mau menerima uangnya.
“Terima kasih banyak mbak. Semoga Allah senantiasa
memberikan nikmat kepada orang berhati baik seperti mbak.”
Diska hanya membalasnya dengan senyuman. Dia tak
mampu membayangkan kesedihan sang bapak. Dia tak mampu membayangkan jika yang
dialami oleh anaknya terjadi pada dirinya.
Lima belas menit sudah diska di dalam taksi. Dia
memutuskan untuk turun di depan toko kue. Dia ingin membeli kue di tempat
langganan sewaktu dia masih tinggal di Indonesia. Diska memang sangat menyukai
aneka kue. Sehingga tak jarang sesekali jika dia pulang ke Indonesia dia
menyempatkan diri untuk membeli kue di toko itu.
Setelah berlama – lama di toko kue, Diska
kebingungan mencari taksi untuk pulang. Karena daerah sekitar toko jarang
sekali taksi yang lewat. Biasanya dia
pergi ke toko kue dengan kendaraan pribadi. Keadaan seperti ini memaksa Diska
untuk berjalan kaki menyusuri pinggiran jalan di kota metropolitan yang belum banyak berubah sepeninggalnya dia ke
Jerman.
Kota ini masih penuh dengan kemacetan. Suasana kota
di siang hari yang sangat panas membuat para pengguna jalan enggan untuk
berlama-lama melewati setiap lekukan jalan raya di kota metropolitan ini.
Begitupun dengan Diska. Debu-debu yang menggulung mengiri setiap hembusan angin
yang terbawa oleh asap kendaraan yang mengepul menghiasi setiap sudut jalan
raya nampaknya tidak mampu membuat Diska untuk berlama – lama untuk berada di
pinggiran jalan.
Sejenak dia mencari tempat untuk beristirahat.
Akhirnya Diska menemukan sebuah gerobak kecil milik pedagan minuman. Diska
duduk dibangku yang sengaja disediakan oleh sang pedagang. Tak lama kemudian,
di sampingnya duduk sesosok lelaki yang berperawakan seperti preman. Tato di
sekujur tubuhnya mebuat Diska berpikiran negative dengan laki- laki itu. Tanpa
basa basi laki – laki itu menyodorkan sebuah minuman kepada Diska. Namun Diska
dengan lembut menolaknya.
“Kenapa mba ? Mba takut ya kalau minumannya saya
beri racun?” tanya lelaki tersebut kepada Diska sambil tertawa.
“Emm engga pak. Saya gak haus Pak.” Jawab Diska
gugup.
“Ya beginilah nasib saya. Berpenampilan seperti
preman yang kerjaannya keluar masuk buih. Tapi sekarang saya capek mbak. Saya
kangen anak – anak saya di rumah. Saya sudah capek menghirup pengapnya udara di
penjara. Saya ingin seperti orang lain. Hidup normal menghirup udara bebas.”
Ucap lelaki itu.
“Sekarang bapak ambil hikmahnya saja. Bapak harus
yakin kalau memang bapak benar – benar ingin berubah. Saya doakan semoga bapak
bisa berkumpul kembali dengan keluarga bapak.” Ucap Diska mencoba menanggapi
perkataan lelaki itu.
Akhirnya ada satu taksi yang lewat dan tepat
berhenti di depan Diska. Langsung saja Diska masuk ke dalam taksi. Di dalam
taksi dia masih memikirkan kejadian –
kejadian yang baru saja dialaminya.Tentang Pak supir yang harus berjuang untuk membeli
tabung oksigen untuk anaknya. Tentang narapidana yang ingin merasakan menghirup
udara bebas. Tentang polusi di kota ini yang semakin tidak terkendali dari
tahun ke tahun. Satu kata yang ada di benaknya yaitu udara. Setiap jiwa yang
hidup pasti membutuhkan udara. Tanpa udara manusia tidak akan mampu menikmati
indahnya kehidupan. Namun satu hal yang terkadang manusai melupakannya yaitu
rasa bersyukur kepada sang maha pencipta dan rasa cinta akan udara. Sehingga
terkadang membuat mereka lupa untuk menjaganya.
Pikirannya sekilas melayang membayangkan keadaan
rumah sekarang. Rasa rindunya pada keluarga sudah tak tertahankan lagi. Dalam
bayangannya tampak jelas raut muka kedua orang tuanya. Rasanya Diska ingin
cepat – cepat sampai di rumah.
Serang,
18 Maret 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar