Minggu, 18 September 2016

UNTUKMU KAWAN

Semilir angin berhembus pelan membelai jilbab para santri perempuan yang tengah mengaji kitab di pendopo pesantren Al-Huda. Terlihat beberapa santri tengah khusyu mendengarkan sang ustadzah yang sedang memberikan penjelasan dari isi kitab tersebut. Kebiasaan di pesantren Al-Huda yaitu ba’da Ashar biasanya santriwati mengaji kitab.
Zahra adalah seorang santri yang sudah bertahun-tahun menjadi santri di pesantren tersebut. Zahra adalah perempuan yang ceria dan sangat dikagumi oleh teman-temannya. Sosoknya yang lembut dan penuh semangat banyak mengunspirasi teman-temannya. Dia adalah salah satu perempuan yang sangat beruntung karena memiliki keluarga yang sangat menyayanginya. Keluarganya berasal dari kalangan yang berada. Mayoritas santri-santri di pondok pesantren Al-Huda mengetahui orang tua Zahra. Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses di daerahnya. Sehingga tak jarang jika ada pembangunan di pondok pesantren Al-Huda, ayah Zahra lah yang menjadi donaturnya.
Tak terasa satu jam berlalu. Para santri pun satu per satu mulai bangun dari tempat duduknya  meninggalkan pendopo. Kemudian mereka pergi menuju asrama mereka masing-masing. Terkecuali dengan Zahra,  perhatiannya tertuju kepada salah satu santri yang tidak begitu ia kenal namun tampaknya dia melihat raut kesedihan di wajah temannya tersebut. Tak lama, Zahra pun mendekatinya. Belakangan dia tahu nama santriwati tersebut. Dia bernama Safinah. Dia terkenal sebagai anak yang pendiam dan jarang sekali bersosialisasi dengan santri-santri perempuan yang lainnya.
“Assalamu’alaikum.” sapa Zahra dengan penuh keberanian mendekati Safinah yang terkenal pendiam.
Namun Safinah menanggapinya dengan dingin “Wa’alaikumsalam.”
“Safinah kamu kenapa ? Lagi ada masalah ya ?” tebak Zahra dengan sejuta Tanya dibenaknya
“Ah, gak apa apa kok.” jawab Safinah gugup.
“Yang benar ? Ayolah cerita kalau memang kamu sedang ada masalah.” tawar Zahra kepada Safinah. Raut wajah Safinah yang semakin murung tidak mampu menutupi rasa penasaran Zahrah.
Namun berkali-kali dibujuk tetap saja Safinah tidak mau berbagi cerita kepada Zahrah. Safinah lalu beranjak dari tempat duduknya dan pamit meninggalkan Zahrah yang masih memendam sejuta tanya kepada temannya tersebut.
“Udah sore Ra, saya pergi ke asrama duluan ya.” jawab Safinah.
***
Adzan maghrib pun berkumandang, menyerukan kepada seluruh jiwa yang hidup untuk bersegera mengambil wudhu dan memasuki masjid. Para santri dan santriwati pun segera memenuhi masjid dan merapihkan barisan sholat mereka masing-masing. Seperti hari-hari biasa, sholat maghrib berjamaah kali ini dipimpin oleh K.H. Agus Salim. Pemilik dan pengasuh pondok pesantren Al-Huda.
Dalam keheningan dan kekhusyuan mereka larut dalam ibadah sholat maghrib.
“Assalamu’alaikum Warahmatullah…” ucap sang imam sambil menolehkan kepala ke kanan.
Dan diikuti oleh para jamaah, “Assalamu’alaikum Warahmatullah…”
Kemudian dilanjutkan dengan dzikir kepada Allah SWT.
Ibadah sholat maghrib pun selesai, para santri langsung mengambil Al-Qur’an yang mereka bawa dan membacanya. Kegiatan tilawah Al-Qur’an ini berlangsung hingga waktu sholat Isya tiba. Kini terdengar  lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dari mulut Zahrah dan para santri yang lain.
***
Jam menunjukkan tepat pukul 11 malam. Mengakhiri semua aktivitas di pondok pesantren Al-Huda. Zahra dan teman-temannya kini sudah berada di asrama.
Zahrah satu kamar dengan Latifah. Latifah adalah teman baik Zahrah di pondok pesantren Al-Huda. Sudah bertahun - tahun mereka bersama. Maklum saja, karena mereka juga satu angkatan. Saat ini, mereka berdua duduk di bangku kelas 2 SMA. Begitupun dengan Safinah. Dia juga duduk di bangku kelas 2 SMA. Namun sayangnya Zahrah tidak satu kelas dengan Safinah. Melainkan Latifah yang satu kelas dengan Safinah. Jadi wajar saja jika Zahrah tidak begitu mengenal Safinah.
Zahra membaringkan tubuhnya di atas kasur dan mulai membuka pembicaraan dengan Latifah.
“Fah, kamu kenal kan dengan Safinah ? Dia itu pendiam sekali ya..” ucap Zahrah.
“iya kenal. Kan kita satu kelas di SMA. Ada apa Ra dengan Safinah ? sepertinya kamu penasaran sekali dengannnya.” sahut Latifah yang tengah membaringkan tubuhnya juga di samping Zahrah.
“Hmm.. iya. Saya hanya penasaran dengannya. Tadi sore saya melihat raut kesedihan di wajahnya.”
“Ah kamu ini sok tau. Dia kan dari dulu juga selalu seperti itu, pendiam. Jadi terkesan seperti orang yang sedang bersedih.” jawab Latifah.
“tapi yang tadi sore saya lihat itu berbeda Fah. Ya meskipun dia pendiam, tapi setidaknya kita bisa membedakan raut  muka orang yang sedang bersedih dan bukan. Iya kan ?? timpal Zahra.
Sontak Latifah pun ingat akan kejadian di kelas beberapa hari yang lalu. Ya, tepatnya hari selasa. Selepas mata pelajaran Bu Tika, nama Safinah disebut oleh Bu Tika. Safinah pun langsung maju ke depan meja guru menghampiri Bu Tika yang hendak menyampaikan suatu berita kepada Safinah.
Latifah yang duduk di bangku depan tepat berhadapan dengan meja guru tak sengaja mendengar pembicaraan mereka berdua.
“Safinah, sebelumnya ibu mohon maaf, ibu mengatakan hal ini karena ibu merasa ini tanggungjawab ibu selaku wali kelas. Dalam daftar keuangan, Safinah belum melunasi uang SPP selama 3 bulan. Kalau dalam jangka waktu dekat tidak dilunasi, maka terancam tidak akan bisa mengikuti ujian kenaikan kelas.” Bu Tika menjelaskan dengan penuh hati-hati agar Safinah tidak merasa tersinggung.
“baik bu, InsyaAllah akan saya usahakan. Terima kasih bu untuk pemberitahuannya.” Safinah menjawabnya dengan mata berkaca-kaca.
Setelah mengingat kejadian  tersebut, Latifah pun langsung menceritakannya kepada Zahra. Tidak hanya itu, Latifah juga memberitahu Zahra bahwa kemarin dia mendengar kabar dari teman satu kamar Safinah. Safinah seringkali menangis. Namun ketika ditanya dia tidak pernah mau berbagi cerita dengan teman-temannya. Hari itu, secara tidak sengaja teman satu kamar Safinah melihat sebuah buku catatan yang tergeletak di atas kasur dalam posisi terbuka. Lalu kemudian membacanya. Temannya sangat kaget. Ternyata ibu Safinah sedang berada di rumah sakit dan tepat 2  hari lagi harus segera dioperasi sehingga membutuhkan biaya yang besar.
***
Udara di pagi hari terasa menyegarkan sehingga membuat Zahra pun tak ingin melewatkan kenikmatan Sang Maha Pencipta ini. Seperti biasa, aktifitas para santri setelah kuliah subuh adalah menyegerakan untuk mandi dan mengadakan kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan asrama sesuai jadwal piketnya masing-masing.
Pagi itu, Zahra bersama Latifah baru pulang dari masjid setelah mengikuti kuliah subuh.. Di tengah perjalanan menuju asrama, Zahra dan Latifah berpapasan dengan beberapa orang. Nampaknya mereka adalah satu keluarga yang hendak memasukkan anaknya ke pondok pesantren Al-Huda. Salah satu di antaranya kemudian menyapa Zahra dan hendak menanyakan sesuatu hal kepada Zahra.
“Assalamu’alaikum, de.” sapa seseorang bapak-bapak yang berumur sekitar limapuluh tahun.
“Wa’alaikumsalam.” jawab Zahra dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
“mohon maaf de, bapak ingin bertanya, tempat sekretariat penerimaan santri baru dimana ?” tanya bapak tersebut.
“oohhh.. di situ pak.” ucap Zahra sambil menunjuk ke arah gedung yang ada di sebelah kiri tempat mereka berdiri.
“terima kasih ya de.” balas bapak tersebut dengan senyum yang penuh kebahagiaan karena telah berhasil menemukan tempat dimana ia harus mendaftarkan anaknya sebagai santri baru di pondok pesantren Al-Huda.
Kini perhatian Zahra tertuju pada sesosok laki-laki yang berada di samping bapak-bapak yang tadi. Dia merasakan ada getaran yang berbeda di hatinya. Sontak Zahra pun langsung beristighfar memohon ampun kepada Allah karena tak mampu menjaga pandangannya.
Latifah juga langsung menyadarkan Zahra dari lamunannya. Seketika Zahra kaget ketika merasakan ada yang menepuk pundaknya.
“Zahraaa….”
 Suara itu terdengar mengagetkan Zahra.
“Astagfirullah..” ucap Zahra.
“kamu ini kenapa ? Kok tiba-tiba bengong ?” tanya Latifah yang semakin tidak mengerti melihat sahabatnya seperti itu.
“Ah, tidak  apa apa.” sahut Zahra.
“jangan-jangan kamu terpesona sama pemuda yang barusan lewat itu ya ?” sindir Latifah dengan tersenyum meledek Zahra.
“Hush, kamu ini ngomong ngawur bisanya. Jaga pandangan.” sangkal Zahra yang kemudian beranjak meninggalkan Latifah.
“hmm.. sepertinya dia santri baru ya ?” tanya Latifah sambil mengejar Zahra yang lebih dulu meninggalkannya.
“Ah, sudahlah tak usah kau pikirkan masalah itu. Bukan urusan kita juga kan ?” jawab Zahra dengan nada yang agak tinggi.
Latifah hanya mengangguk berusaha mengiyakan setiap perkataan sahabatnya itu. Sedangkan Zahra tetap mencoba untuk melupakan kejadian yang barusan.
Sesampainya di asrama mereka langsung bersiap untuk pergi ke sekolah. Pelajaran demi pelajaran mereka ikuti dengan baik hingga tak terasa bel pun berbunyi sebagai tanda berakhirnya aktifitas pembelajaran di hari itu.
***
Malam ini setelah sholat isya, kegiatan di pondok pesantren Al-Huda adalah pengajian akbar yang di ikuti oleh seluruh santri pondok pesantren Al-Huda. Pada acara ini juga sempat dikenalkan kepada para santri bahwa hari ini ada seorang santri baru di pondok pesantren Al-Huda.
Zahra pun teringat akan pemuda yang dia dan Latifah jumpai tadi pagi. Ternyata benar, pemuda tersebut bernama Faridh. Seorang pindahan dari pesantren yang ada di tempat kelahirannya. Dia terpaksa pindah karena mengikuti Ayahnya yang harus bekerja di luar kota.
Malam itu, Farid mengendap-ngendap memasuki sekitar area asrama santri putri. Hal ini tentu akan menimbulkan akibat yang fatal jika diketahui oleh para ustadz dan ustadzah atau pun oleh para santri yang lain. Selain dapat menimbulkan fitnah, Faridh juga akan mendapatkan hukuman dari komisi disiplin yang ada di pondok pesantren Al-Huda. Derap langkah Faridh yang mencurigakan membuat Zahra yang sedang berada di dapur menjadi curiga dan mencari sumber suara. Zahra sangat kaget ketika melihat ke arah jendela yang ada di sampingnya. Hampir saja dia berteriak. Namun teriakannya seketika tertahan setelah dia mengetahui bahwa yang meengendap-endap adalah Faridh. Zahra kaget dan tak pernah menyangka mengapa Faridh berani memasuki area asrama putri di malam hari.
“Faridh ?” tanya Zahra dengan suara pelan agar tidak dicurigai oleh para santri yang lain.
“Ssssttt.. jangan berisik.” ucap Faridh berusaha menenangkan kekagetan Zahra.
“Kamu sedang apa berada di lingkungan asrama putri ? Sangat berbahaya jika ada orang lain yang mengetahui.”
“kamu jangan salah paham dulu. Saya sengaja datang kesini karena ada yang ingin saya bicarakan.” jawab Faridh.
Faridh pun menjelaskan maksud kedatangannya tersebut.  Namun, di tengah perbincangan mereka tiba-tiba ada salah seorang santri yang melihat Zahra dan Faridh tengah berduaan di belakang asrama putri. Santri yang mengetahui langsung melaporkan kejadian tersebut kepada komisi disiplin pondok pesantren. Dan tanpa basa basi mereka berdua diadili di sebuah ruangan tempat santri-santri yang pernah melakukan pelanggaran selama berada di pondok pesantren.
Malam itu menjadi malam bencana bagi Zahra dan Faridh. Zahra yang terkenal tidak pernah melakukan pelanggaran di pesantren kini telah tercoreng namanya. Berbagai berita tentang dirinya dan Faridh menyebar cepat memecah kesunyian di malam itu.
Malam itu juga mereka diadili. Berbagai sorak sorai para santri yang tidak setuju atas ulah mereka seakan menggemparkan ruang sidang. Fitnah bertebaran dimana-mana.
Zahra tertekan dan merasa syok atas kejadian tersebut. Dia tidak mengerti mengapa dirinya dapat jatuh ke dalam kesalahan yang sedemikian rupa. Dia bahkan tidak mengerti mengapa orang-orang langsung memvonis dirinya bersalah padahal dirinya tidak melakukan apa-apa. Fitnah bagaikan api yang menjalar.
Di tengah – tengah gentingnya suasana, akhirnya pak ustadz dan beberapa kyai hadir di tempat itu.
“Saudara Faridh, apakah anda mengetahui bahwa memasuki lingkungan asrama putri secara diam-diam dan tengah malam adalah sebuah kesalahan ?” tanya pak ustadz Hanafi membuka pembicaraan.
“Saya tau pak ustadz. Tetapi saya tidak ada tujuan yang negatif.” jawab Faridh berusaha meyakinkan pak ustadz Hanafi.
“Bohong..bohong..!” teriak para santri yang hadir di tempat siding.
“Semuanya diam !” teriak pak kyai yang mencoba menenangkan suasana yang semakin memanas.
“Lantas apa maksud anda tengah malam datang ke lingkungan asrama putri dan menemui Zahra ? Apa anda tidak tahu kalau berduaan itu identik dengan pacaran ?” tanya Ustadz Hanafi dengan nada tinggi.
“Saya tahu pak ustadz . Tetapi saya datang ke asrama putri karena saya ingin mengembalikan dompet atas nama Zahra yang terjatuh di jalan.” jawab Faridh.
“Apa buktinya ? Sekarang dompetnya mana ? Tidak ada kan ? Kamu jangan mengarang cerita Faridh !” ucap ustadz Hanafi.
“Saya bisa memberikan hukuman yang lebih berat kalau kamu berbohong” ancam ustadz Hanafi.
“Kamu juga Zahra, mengapa kamu mau menemuinya di tengah malam seperti itu ?” timpal para ustadz yang lain.
“Kami tidak pernah ada niat untuk berduaan di malam hari pak, tapi…” jawab Zahra mencoba menjelaskan. Namun pembicaraannya terus dan terus dipotong oleh pertanyaan yang bertubi-tubi.
Akhirnya Ustadz Hanafi selaku pimpinan komisi disiplin memutuskan untuk memberikan hukuman kepada mereka berdua.
“Ya sudah, keputusannya kalian tetap divonis bersalah dan akan diberikan hukuman yang berat atas kesalahan kalian.”
“Tunggu pak.” Sahut seseorang yang tiba-tiba datang dan membuat orang – orang yang ada di tempat tersebut memusatkan perhatian padanya.
“Tidak sopan anda berbicara tanpa memohon izin terlebih dahulu.” Ucap ustadz Hanafi.
“Maaf ustadz atas kelancangan saya. Tapi barusan saya menemukan ini di belakang asrama putri.” ucap Safinah sembari menyodorkan sebuah dompet milik Zahra.
Ustadz Hanafi pun langsung mengamati dompet tersebut dan menanyakan kebenaran kepemilikan dompet yang dibawa oleh Safinah kepada Zahra.
“Benar ustadz, itu dompet milik saya.” jawab Zahra berusaha meyakinkan semua yang hadir di ruang sidang.
“Lalu Faridh, untuk apa kamu mengembalikan dompet ini tengah malam ?” tanya Ustadz.
“Di dalam dompet tersebut terdapat secarik surat milik Zahra yang akan dia kirim kepada orang tuanya.  Bahwa dia baru saja  mengambil uang di atm sebanyak duapuluh juta yang akan disumbangkan kepada Safinah besok pagi untuk operasi yang akan dijalani oleh orang tua Safinah. Oleh karena itu saya secepat mungkin harus mengembalikan dompet ini. Dan kebetulan sekali ketika saya datang ke asrama perempuan, saya bertemu Zahra. ” jelas Faridh.
Dan akhirnya jelas sudah duduk permasalahan yang sebenarnya. Hukuman yang hendak dijatuhkan kepada mereka berdua dicabut kembali. Ustadz Hanafi menyarankan agar lain kali jika ada yang menemukan benda milik orang lain agar memberitahu Ustadz terlebih dahulu dan jangan bertindak gegabah. Akibatnya akan fatal dan dapat menimbulkan hal – hal yang tidak diinginkan. Ustadz Hanafi berharap agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.
“Safinah, terima kasih ya.” ucap Zahra sambil memeluk Safinah.
“Harusnya saya yang berterima kasih. Sungguh mulia perempuan sepertimu. Rela berkorban untuk saya, orang yang tidak begitu kamu kenal. Bahkan kamu rela berurusan dengan seluruh isi pondok pesantren hanya karena ingin menolong saya.” Ujar Safinah.
“Semua ini saya lakukan karena Allah dan berkat pertolongan Allah. patutlah Berterima kasih kepada Allah.” jawab Zahra.
Seketika itu air mata menetes  di antara keduanya. Kini Safinah menyadari akan pentingnya seorang teman dan pentingnya berbagi dengan seorang teman baik dalam keadaan suka maupun duka.
Semua yang hadir di ruang sidang beristighfar. Memohon ampun kepada Allah. Bahawa sesungguhnya ber-suudzon itu lebih capek dibandingkan dengan ber-husnudzan.
Kejadian malam ini menyadarkan semuanya akan arti sebuah persahabatan, keikhlasan, dan pentingnya berprasangka baik.

Serang, 17 Maret 2012

1 komentar: