Terlahir
di sebuah sudut kabupaten bernama Cirebon, di ujung perbatasan di sebuah desa
yang telah banyak memberikan arti kehidupan, saya hidup ditengah keluarga yang
sangat menjunjung tinggi makna pendidikan. Laely Farokhah, nama lengkap yang
diberikan oleh almarhum Bapak, nama yang selalu mengingatkan saya akan sebuah
makna Laely yang memiliki arti “malam”. Malam yang selalu menawarkan mimpi bagi
siapapun makhluk di dunia ini. Malam yang selalu menjadikan saya berani untuk
menulis setiap mimpi dan asa yang terbersit di dalam diri. Malam yang seketika
membawa ingatan kembali ke masa 5 tahun silam.
Kala
itu, saya masih menikmati senda gurau masa putih abu-abu. Benar kata orang jika
masa putih abu-abu adalah masa yang paling indah. Masa-masa menyemai mimpi. Dulu
saya tak pernah peduli dengan apa itu artinya mimpi. Sampai pada suatu ketika saya
bertanya kepada diri saya sendiri, “mau kemana setelah lulus sekolah?”. Jelas
masih teringat masa di tahun 2011, ketika mendapatkan pertanyaan itu masih
mengenakan seragam putih abu-abu. Duduk dibangku kelas tiga sekolah berstatus
negeri di kabupaten Cirebon. Saya masih ingat betul bagaimana perasaan saat
itu. Bingung ??!. Ya, Bingung menentukan hendak kemana setelah lulus nanti.
Kuliah ??! Jelas itu menjadi dambaan mayoritas orang.
Tak
pernah terbayangkan sedikit pun bisa menikmati duduk di bangku perkuliahan,
merasakan menjadi mahasiswa, dan mengenal sosok dosen. Tiga tahun menikmati
dunia putih abu-abu bagi saya sudah cukup membahagiakan. Pasalnya tidak semua
anak-anak di kampung bisa bersekolah di jenjang pendidikan menengah atas. Dunia
perkuliahan benar-benar sebuah mimpi besar bagi saya, bagaimana tidak saya
hanyalah anak seorang pemilik warung yang sehari-harinya menggantungkan hidup
dari penghasilan berjualan di warung.
Perjuangan
pun baru akan dimulai, tahun 2011 adalah tahun perjuangan seorang anak lulusan
SMA yang belum tau kemana akan dibawa masa depannya. Berawal dari seorang guru
BK yang sangat bermurah hati untuk membagikan informasi seputar beasiswa. Saya
pun direkomendasikan oleh pihak sekolah sebagai pelamar beasiswa Bidikmisi. Ya,
di tahun ini beasiswa Bidikmisi jelas masih terdengar sangat asing di telinga.
Begitupun dengan guru di sekolah. Keterbatasan inilah yang akhirnya membuat
saya untuk berjuang sendiri.
Berbekal
tawakal dan ikhtiar, segala upaya dan proses terlewati. Saya teringat sebuah
ayat dalam Al-Qur’an yang memiliki arti “Sesungguhnya
Allah bersama orang-orang yang sabar”. Sungguh jelas terbukti. Pencarian
kini berujung manis ketika membaca sebuah tulisan “Selamat Anda diterima di
PGSD UPI Kampus Serang”, kurang lebih seperti itu tulisan yang terbaca pada
saat pengumuman. Ya, senang bukan main perasaan saya saat itu. Terlebih selang
setelah beberapa minggu setelah pengumuman SNMPTN, saya melihat sebuah nama
yang tak asing jelas berada di deretan daftar penerima beasiswa Bidik Misi UPI.
Sungguh usaha yang besar akan dibalas dengan hasil yang besar.
September
2011, pertama kalinya saya menghirup udara di sebuah kampus bernama Universitas
Pedidikan Indonesia. Ya, Kampus UPI tetapi bukan di Bandung. Sebuah kampus nun
jauh di provinsi yang terkenal dengan Badak Bercula Satu. Universitas
Pendidikan Indonesia Kampus Serang, nama yang terdengar asing bagi sebagian
orang yang hanya sebatas mengenal kalau UPI itu ya di Bandung. Sebuah kampus
daerah yang hanya memiliki dua jurusan, pendidikan guru sekolah dasar dan pendidikan
guru PAUD. Ah, tak peduli kalau tempatku berpijak saat ini adalah kampus
daerah. Saya bersyukur bisa kuliah. Itu saja.
Seperti
kata mereka, mahasiswa baru selalu mencari jati diri, hasratnya untuk
mencoba-coba segala sesuatu hal yang baginya belum pernah ia temukan membawanya
menjajaki setiap dunia baru. Masa-masa awal perkuliahan saya selalu berpikir
bahwa menjadi mahasiswa Bidikmisi cukup dengan fokus kuliah dan mendapatkan
nilai IPK yang besar. Dengan begitu, status Bidikmisi saya masuk dalam kategori
aman dan sudah memenuhi kewajiban sebagai seorang mahasiswa Bidikmisi.
Ternyata
semuanya salah besar, pemikiran itu seketika berubah ketika saya bertemu dengan
17 orang penerima beasiswa Bidikmisi di UPI Kampus Serang. Saat itu kami
tersadar jika beasiswa ini adalah uang rakyat. Uang yang pada akhirnya harus
dipertanggungjawabkan suatu hari nanti. Kesadaran inilah yang membuat 17 orang
tersebut bertekad membuat sebuah forum bernama Lingkar Bidikmisi UPI Kampus
Serang, mengikuti jejak Lingkar Bidik Misi di kampus pusat. Forum yang kemudian
menjadi wadah bagi kami untuk mencicil hutang kepada rakyat Indonesia.
Berawal
dari sebuah forum kecil yang berjumlah belasan, terus bertambah hingga kini
berjumlah ratusan. Forum ini yang akhirnya mendorong kami untuk mengabdi kepada
kampus dan masyarakat. Berbagai kegiatan dan ide muncul dari tempat ini. Mulai
dari kegiatan belajar bersama demi menunjang nilai akademik hingga bakti sosial
kepada mereka yang membutuhkan.
Sebagai
penerima beasiswa Bidikmisi, saya selalu berusaha dan termotivasi agar dapat
memberikan hasil belajar yang terbaik. Hingga saya mendapat undangan dari Dikti
untuk mengikuti kegiatan Forum Bidikmisi Nasional (Forbiminas) di Jakarta.
Sebuah apresiasi besar yang diberikan oleh Bapak Menteri Pendidikan kepada 500
penerima Bidikmisi sebagai mahasiswa Bidikmisi berprestasi. Saya sangat
bersyukur bisa menjadi bagian dari acara ini. Acara yang memberikan banyak
manfaat. Saya merasa sangat berbahagia dapat bertemu dengan menteri pendidikan
Bapak M. Nuh, Direktur Dikti Bapak Djoko Santoso, Direktur bagian kemahasiswaan
Ibu Ila Sailah, Enterpreneur luar biasa Bapak Chairul Tanjung, para pemateri
pada Forbiminas dan sosok-sosok hebat lainnya yang hadir pada acara tersebut.
Mereka merupakan orang-orang hebat yang sangat menginspirasi bagi diri saya.
Fase
demi fase terlewati selama menjadi mahasiswa. Tahun 2013 adalah awal memasuki
babak kehidupan organisasi kemahasiswaan di kampus dengan bergabung di
kepengurusan BEM dan UKM. Hingga pada akhirnya di tahun 2014 saya diberikan
amanah sebagai wakil presiden mahasiswa BEM REMA UPI Kampus Serang. Sebuah
amanah yang telah mengajarkan banyak pelajaran hidup. Sebuah amanah yang telah
mengajarkan bagaimana menjadi “sebaik-baiknya manusia”. Amanah sebagai wakil
presiden mahasiswa yang setiap harinya mengabdikan diri untuk masyarakat kampus
bukanlah hal yang mudah. Modal niat dan semangat untuk membantu orang lain lah
yang menjadi semangat besar bagi saya. Tidak banyak orang yang memiliki
anggapan positif terhadap aktifis kampus. Terkadang banyak yang beranggapan
bahwa menjadi aktifis kampus hanya membuang-buang waktu dan mengambaikan
kegiatan akademik.
Sebagai
penerima Bidikmisi, ada tanggungjawab besar dipundak yang harus ditunaikan
selain kewajiban akademik. Berlatar belakang jurusan kependidikan, Melalui
wadah organisasi, digagaslah kegiatan-kegiatan pengabdian pendidikan di wilayah
pelosok Banten. Beberapa program pengabdian masyarakat tersebut pernah
dilaksanakan di kecamatan pamarayan, Serang dan di sebuah pulau di ujung Serang
yaitu pulau panjang. Pengabdian ini tentunya belum seberapa dengan pengabdian
orang lain yang lebih luar biasa di luar sana.
Demi mendapatkan dana lebih untuk
memenuhi kebutuhan hidup di tanah rantau, saya bekerja sebagai pengajar les
untuk anak sekolah dasar. Hampir 2 tahun saya menjalani aktifitas ini.
Malam-malam yang seharusnya saya lewati untuk beristirahat atau sejenak melepas
penat bersama kawan di kos pun saya korbankan demi tidak lagi membebani kedua
orang tua.
Masa-masa menjadi mahasiswa tidak selamanya berjalan sesuai
keinginan. Tahun 2014 menjadi masa-masa sulit dimana saya harus menyeimbangkan
kegiatan akademik dan organisasi. Kesibukan dalam mengemban amanah sebagai
wakil presiden mahasiswa tentunya membagi fokus saya di kampus. Waktu luang di
sela-sela kegiatan perkuliahan kini penuh dengan jadwal rapat dan kegiatan
program kerja BEM.
Meskipun disibukkan dengan aktifitas organisasi dan mengajar,
semangat untuk berprestasi harus tetap ada. Sebuah kesempatan yang tidak
terduga bisa mewakili UPI Kampus Serang dalam ajang seleksi mahasiswa
berprestasi dan meraih peringkat XI tingkat universitas. Sebuah pencapaian yang
manis saat saya menyadari bahwa nilai akademik tetap terjaga meskipun dengan
sederet aktifitas di organisasi, bahkan sebuah kejutan lain muncul, saya
kembali diberikan kesempatan untuk bisa mengikuti Silaturahmi Akbar Mahasiswa
Bidik Misi bersama Presiden SBY di Jakarta. Sebuah kehormatan bagi mahasiswa
Bidik Misi yang bisa ikut serta berpartisipasi dalam acara tersebut.
Akhirnya
usaha yang telah dilakukan membuahkan hasil. Hari itu, seorang anak pedagang
warung mampu menyelesaikan studi dengan baik dengan IPK 3,84, meraih predikat
cumlaude peringkat ke-3 se-UPI Kampus Serang. Sebuah prestasi yang membuktikan
bahwa mahasiswa Bidikmisi bisa berprestasi. Mahasiswa
Bidikmisi yang tidak hanya unggul di IPK tetapi juga memiliki prestasi dan
pengalaman organisasi.
10
September 2015, saya resmi menghadiri prosesi wisuda sarjana pendidikan di
gedung Gymnasium UPI. Hari itu pula saya seperti mendapat rezeki durian runtuh.
Saya lolos seleksi sebagai penerima beasiswa LPDP Afirmasi Batch 2 Tahun 2015 program
Magister Dalam Negeri. Sebuah perjalanan dan perjuangan yang besar untuk bisa
sampai di fase ini. Kini saya resmi bergelar sarjana pendidikan, menggapai
cita-cita menjadi seorang pendidik. Selama 4 bulan saya mengabdikan diri
menjadi guru dan operator sekolah di sebuah SD negeri di ujung Kabupaten
Cirebon. Hingga saat ini Allah kembali memberikan amanah untuk melanjutkan
perjuangan menuntut ilmu di jenjang magister. Melalui beasiswa Bidikmisi, saya
berhasil menghidupkan mimpi yang dulu hanya sebatas coretan di atas kertas.
Saya
percaya bahwa Bidikmisi adalah pengubah segala ketidakmungkinan. Mimpi yang
sempat terputus lalu kemudian tersambung. Bidikmisi seperti jembatan hidup bagi
kami, menghidupkan harapan-harapan kami, orang-orang yang memiliki keterbatasan
ekonomi. Melalui Bidikmisi saya bisa
berjuang untuk menggapai cita-cita. Saya bisa merasakan indahnya duduk di
bangku kuliah universitas negeri yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Bisa
menjadi seorang penerima beasiswa Bidikmisi tentunya bukan pula suatu kesombongan.
Tetapi ini justru ini menjadi amanah besar di pundak setiap penerima Beasiswa
Bidikmisi. Tepat pada saat menulis kisah ini, kini saya telah mengemban amanah
baru. Tugas baru untuk menuntaskan kuliah program Magister pendidikan dasar di
Universitas Pendidikan Indonesia. Semoga saya bisa mengemban amanah ini
layaknya mengemban amanah Bidikmisi. Rasa syukur saya ucapkan kepada Allah SWT
dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Kemendikbud yang telah
mencetuskan dan mengupayakan program beasiswa Bidikmisi.
Terima kasih
Bidikmisi !
Cirebon, 29 Juli 2016
Alhamdulillah, sebuah
rasa syukur karena tulisan ini terpilih untuk dibukukan dengan judul “Para
Pembidik Mimpi : 99 Kisah Penerima Bidikmisi Berprestasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar