Minggu, 18 September 2016

TAK SEKADAR MIMPI DI MALAM HARI

Terlahir di sebuah sudut kabupaten bernama Cirebon, di ujung perbatasan di sebuah desa yang telah banyak memberikan arti kehidupan, saya hidup ditengah keluarga yang sangat menjunjung tinggi makna pendidikan. Laely Farokhah, nama lengkap yang diberikan oleh almarhum Bapak, nama yang selalu mengingatkan saya akan sebuah makna Laely yang memiliki arti “malam”. Malam yang selalu menawarkan mimpi bagi siapapun makhluk di dunia ini. Malam yang selalu menjadikan saya berani untuk menulis setiap mimpi dan asa yang terbersit di dalam diri. Malam yang seketika membawa ingatan kembali ke masa 5 tahun silam.
Kala itu, saya masih menikmati senda gurau masa putih abu-abu. Benar kata orang jika masa putih abu-abu adalah masa yang paling indah. Masa-masa menyemai mimpi. Dulu saya tak pernah peduli dengan apa itu artinya mimpi. Sampai pada suatu ketika saya bertanya kepada diri saya sendiri, “mau kemana setelah lulus sekolah?”. Jelas masih teringat masa di tahun 2011, ketika mendapatkan pertanyaan itu masih mengenakan seragam putih abu-abu. Duduk dibangku kelas tiga sekolah berstatus negeri di kabupaten Cirebon. Saya masih ingat betul bagaimana perasaan saat itu. Bingung ??!. Ya, Bingung menentukan hendak kemana setelah lulus nanti. Kuliah ??! Jelas itu menjadi dambaan mayoritas orang.
Tak pernah terbayangkan sedikit pun bisa menikmati duduk di bangku perkuliahan, merasakan menjadi mahasiswa, dan mengenal sosok dosen. Tiga tahun menikmati dunia putih abu-abu bagi saya sudah cukup membahagiakan. Pasalnya tidak semua anak-anak di kampung bisa bersekolah di jenjang pendidikan menengah atas. Dunia perkuliahan benar-benar sebuah mimpi besar bagi saya, bagaimana tidak saya hanyalah anak seorang pemilik warung yang sehari-harinya menggantungkan hidup dari penghasilan berjualan di warung.
Perjuangan pun baru akan dimulai, tahun 2011 adalah tahun perjuangan seorang anak lulusan SMA yang belum tau kemana akan dibawa masa depannya. Berawal dari seorang guru BK yang sangat bermurah hati untuk membagikan informasi seputar beasiswa. Saya pun direkomendasikan oleh pihak sekolah sebagai pelamar beasiswa Bidikmisi. Ya, di tahun ini beasiswa Bidikmisi jelas masih terdengar sangat asing di telinga. Begitupun dengan guru di sekolah. Keterbatasan inilah yang akhirnya membuat saya untuk berjuang sendiri.  
Berbekal tawakal dan ikhtiar, segala upaya dan proses terlewati. Saya teringat sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang memiliki arti “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. Sungguh jelas terbukti. Pencarian kini berujung manis ketika membaca sebuah tulisan “Selamat Anda diterima di PGSD UPI Kampus Serang”, kurang lebih seperti itu tulisan yang terbaca pada saat pengumuman. Ya, senang bukan main perasaan saya saat itu. Terlebih selang setelah beberapa minggu setelah pengumuman SNMPTN, saya melihat sebuah nama yang tak asing jelas berada di deretan daftar penerima beasiswa Bidik Misi UPI. Sungguh usaha yang besar akan dibalas dengan hasil yang besar.
September 2011, pertama kalinya saya menghirup udara di sebuah kampus bernama Universitas Pedidikan Indonesia. Ya, Kampus UPI tetapi bukan di Bandung. Sebuah kampus nun jauh di provinsi yang terkenal dengan Badak Bercula Satu. Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Serang, nama yang terdengar asing bagi sebagian orang yang hanya sebatas mengenal kalau UPI itu ya di Bandung. Sebuah kampus daerah yang hanya memiliki dua jurusan, pendidikan guru sekolah dasar dan pendidikan guru PAUD. Ah, tak peduli kalau tempatku berpijak saat ini adalah kampus daerah. Saya bersyukur bisa kuliah. Itu saja.
Seperti kata mereka, mahasiswa baru selalu mencari jati diri, hasratnya untuk mencoba-coba segala sesuatu hal yang baginya belum pernah ia temukan membawanya menjajaki setiap dunia baru. Masa-masa awal perkuliahan saya selalu berpikir bahwa menjadi mahasiswa Bidikmisi cukup dengan fokus kuliah dan mendapatkan nilai IPK yang besar. Dengan begitu, status Bidikmisi saya masuk dalam kategori aman dan sudah memenuhi kewajiban sebagai seorang mahasiswa Bidikmisi.
Ternyata semuanya salah besar, pemikiran itu seketika berubah ketika saya bertemu dengan 17 orang penerima beasiswa Bidikmisi di UPI Kampus Serang. Saat itu kami tersadar jika beasiswa ini adalah uang rakyat. Uang yang pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan suatu hari nanti. Kesadaran inilah yang membuat 17 orang tersebut bertekad membuat sebuah forum bernama Lingkar Bidikmisi UPI Kampus Serang, mengikuti jejak Lingkar Bidik Misi di kampus pusat. Forum yang kemudian menjadi wadah bagi kami untuk mencicil hutang kepada rakyat Indonesia.
Berawal dari sebuah forum kecil yang berjumlah belasan, terus bertambah hingga kini berjumlah ratusan. Forum ini yang akhirnya mendorong kami untuk mengabdi kepada kampus dan masyarakat. Berbagai kegiatan dan ide muncul dari tempat ini. Mulai dari kegiatan belajar bersama demi menunjang nilai akademik hingga bakti sosial kepada mereka yang membutuhkan.
Sebagai penerima beasiswa Bidikmisi, saya selalu berusaha dan termotivasi agar dapat memberikan hasil belajar yang terbaik. Hingga saya mendapat undangan dari Dikti untuk mengikuti kegiatan Forum Bidikmisi Nasional (Forbiminas) di Jakarta. Sebuah apresiasi besar yang diberikan oleh Bapak Menteri Pendidikan kepada 500 penerima Bidikmisi sebagai mahasiswa Bidikmisi berprestasi. Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari acara ini. Acara yang memberikan banyak manfaat. Saya merasa sangat berbahagia dapat bertemu dengan menteri pendidikan Bapak M. Nuh, Direktur Dikti Bapak Djoko Santoso, Direktur bagian kemahasiswaan Ibu Ila Sailah, Enterpreneur luar biasa Bapak Chairul Tanjung, para pemateri pada Forbiminas dan sosok-sosok hebat lainnya yang hadir pada acara tersebut. Mereka merupakan orang-orang hebat yang sangat menginspirasi bagi diri saya.
Fase demi fase terlewati selama menjadi mahasiswa. Tahun 2013 adalah awal memasuki babak kehidupan organisasi kemahasiswaan di kampus dengan bergabung di kepengurusan BEM dan UKM. Hingga pada akhirnya di tahun 2014 saya diberikan amanah sebagai wakil presiden mahasiswa BEM REMA UPI Kampus Serang. Sebuah amanah yang telah mengajarkan banyak pelajaran hidup. Sebuah amanah yang telah mengajarkan bagaimana menjadi “sebaik-baiknya manusia”. Amanah sebagai wakil presiden mahasiswa yang setiap harinya mengabdikan diri untuk masyarakat kampus bukanlah hal yang mudah. Modal niat dan semangat untuk membantu orang lain lah yang menjadi semangat besar bagi saya. Tidak banyak orang yang memiliki anggapan positif terhadap aktifis kampus. Terkadang banyak yang beranggapan bahwa menjadi aktifis kampus hanya membuang-buang waktu dan mengambaikan kegiatan akademik.
Sebagai penerima Bidikmisi, ada tanggungjawab besar dipundak yang harus ditunaikan selain kewajiban akademik. Berlatar belakang jurusan kependidikan, Melalui wadah organisasi, digagaslah kegiatan-kegiatan pengabdian pendidikan di wilayah pelosok Banten. Beberapa program pengabdian masyarakat tersebut pernah dilaksanakan di kecamatan pamarayan, Serang dan di sebuah pulau di ujung Serang yaitu pulau panjang. Pengabdian ini tentunya belum seberapa dengan pengabdian orang lain yang lebih luar biasa di luar sana.
Demi mendapatkan dana lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup di tanah rantau, saya bekerja sebagai pengajar les untuk anak sekolah dasar. Hampir 2 tahun saya menjalani aktifitas ini. Malam-malam yang seharusnya saya lewati untuk beristirahat atau sejenak melepas penat bersama kawan di kos pun saya korbankan demi tidak lagi membebani kedua orang tua.
Masa-masa menjadi mahasiswa tidak selamanya berjalan sesuai keinginan. Tahun 2014 menjadi masa-masa sulit dimana saya harus menyeimbangkan kegiatan akademik dan organisasi. Kesibukan dalam mengemban amanah sebagai wakil presiden mahasiswa tentunya membagi fokus saya di kampus. Waktu luang di sela-sela kegiatan perkuliahan kini penuh dengan jadwal rapat dan kegiatan program kerja BEM.
Meskipun disibukkan dengan aktifitas organisasi dan mengajar, semangat untuk berprestasi harus tetap ada. Sebuah kesempatan yang tidak terduga bisa mewakili UPI Kampus Serang dalam ajang seleksi mahasiswa berprestasi dan meraih peringkat XI tingkat universitas. Sebuah pencapaian yang manis saat saya menyadari bahwa nilai akademik tetap terjaga meskipun dengan sederet aktifitas di organisasi, bahkan sebuah kejutan lain muncul, saya kembali diberikan kesempatan untuk bisa mengikuti Silaturahmi Akbar Mahasiswa Bidik Misi bersama Presiden SBY di Jakarta. Sebuah kehormatan bagi mahasiswa Bidik Misi yang bisa ikut serta berpartisipasi dalam acara tersebut.
Akhirnya usaha yang telah dilakukan membuahkan hasil. Hari itu, seorang anak pedagang warung mampu menyelesaikan studi dengan baik dengan IPK 3,84, meraih predikat cumlaude peringkat ke-3 se-UPI Kampus Serang. Sebuah prestasi yang membuktikan bahwa mahasiswa Bidikmisi bisa berprestasi. Mahasiswa Bidikmisi yang tidak hanya unggul di IPK tetapi juga memiliki prestasi dan pengalaman organisasi.
10 September 2015, saya resmi menghadiri prosesi wisuda sarjana pendidikan di gedung Gymnasium UPI. Hari itu pula saya seperti mendapat rezeki durian runtuh. Saya lolos seleksi sebagai penerima beasiswa LPDP Afirmasi Batch 2 Tahun 2015 program Magister Dalam Negeri. Sebuah perjalanan dan perjuangan yang besar untuk bisa sampai di fase ini. Kini saya resmi bergelar sarjana pendidikan, menggapai cita-cita menjadi seorang pendidik. Selama 4 bulan saya mengabdikan diri menjadi guru dan operator sekolah di sebuah SD negeri di ujung Kabupaten Cirebon. Hingga saat ini Allah kembali memberikan amanah untuk melanjutkan perjuangan menuntut ilmu di jenjang magister. Melalui beasiswa Bidikmisi, saya berhasil menghidupkan mimpi yang dulu hanya sebatas coretan di atas kertas.
Saya percaya bahwa Bidikmisi adalah pengubah segala ketidakmungkinan. Mimpi yang sempat terputus lalu kemudian tersambung. Bidikmisi seperti jembatan hidup bagi kami, menghidupkan harapan-harapan kami, orang-orang yang memiliki keterbatasan ekonomi.  Melalui Bidikmisi saya bisa berjuang untuk menggapai cita-cita. Saya bisa merasakan indahnya duduk di bangku kuliah universitas negeri yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Bisa menjadi seorang penerima beasiswa Bidikmisi tentunya bukan pula suatu kesombongan. Tetapi ini justru ini menjadi amanah besar di pundak setiap penerima Beasiswa Bidikmisi. Tepat pada saat menulis kisah ini, kini saya telah mengemban amanah baru. Tugas baru untuk menuntaskan kuliah program Magister pendidikan dasar di Universitas Pendidikan Indonesia. Semoga saya bisa mengemban amanah ini layaknya mengemban amanah Bidikmisi. Rasa syukur saya ucapkan kepada Allah SWT dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Kemendikbud yang telah mencetuskan dan mengupayakan program beasiswa Bidikmisi.
Terima kasih Bidikmisi !
Cirebon, 29 Juli 2016

Alhamdulillah, sebuah rasa syukur karena tulisan ini terpilih untuk dibukukan dengan judul “Para Pembidik Mimpi : 99 Kisah Penerima Bidikmisi Berprestasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar