PERJALANAN
MIMPI SANG PEMBELAJAR
Oleh
Laely
Farokhah
LPDP, empat huruf yang
telah mengubah asa menjadi sebuah kenyataan. Mimpi yang pernah terbersit dalam
doa dan harapan. Mimpi seorang pembelajar, sang freshgraduate yang berharap bisa menyambung pendidikan ke jenjang
yang lebih tinggi. Mimpi yang bagi sebagian orang dianggap sulit untuk dicapai.
Mimpi yang hari ini Allah wujudkan dengan kuasa-Nya. Man Jadda Wa Jadda. Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka
dialah yang akan berhasil.
Dua puluh enam Februari
2014, untuk pertama kalinya saya menerima sebuah brosur. Brosur berwarna kuning
keemasan dengan tampak ekspresi seseorang yang tersenyum dengan bertuliskan “Beasiswa
Magister Doktor”. Masih teringat jelas, tepat di acara Silaturahmi Mahasiswa Bidikmisi
Nasional yang diadakan di sebuah hotel di Jakarta, saat itu untuk pertama
kalinya saya mendengar “LPDP”. Saat itu pula mimpi melanjutkan pendidikan ke
jenjang S2 barulah sebatas keinginan. Seketika saya tersentak dan tersadar, rasanya
bisa melanjutkan kuliah ke jenjang S1 melalui beasiswa Bidikmisi dan menyelesaikan
kuliah dengan baik saja sudah menjadi sebuah nikmat yang luar biasa bagi
seorang anak pedagang warung.
Setahun berlalu, tiba
di awal tahun 2015, saat itu saya resmi menyandang status sebagai mahasiswa
tingkat akhir, di hari itu saya kembali menuliskan mimpi “Kuliah S2 Beasiswa”. Sejak
itu, saya mulai rajin memasukkan keyword
“Beasiswa S2” ke dalam google. Tanpa
sengaja kembali dipertemukan dengan empat huruf bertuliskan LPDP. Bersama teman
sevisi, impian itu kembali diperjuangkan.
Tak ada perjuangan
tanpa pengorbanan. Tujuh dan delapan adalah angka semester terberat bagi saya.
Bagaimana tidak, saat itu saya masih mengemban amanah sebagai pelayan
masyarakat kampus di BEM REMA UPI Kampus Serang. Bahkan tak banyak orang yang
memiliki anggapan positif terhadap aktifis kampus. Terkadang banyak yang beranggapan
bahwa menjadi aktifis kampus hanya membuang-buang waktu dan mengabaikan
kegiatan akademik. Akan tetapi, saya percaya, saat kita sibuk membantu
menyelesaikan urusan orang banyak, maka biarkan Allah yang akan langsung
mengurus urusan kita.
Di tengah hiruk-pikuknya
aktifitas kuliah dan organisasi, saya masih harus rela membagi waktu istirahat
untuk mengajar les di malam hari demi memenuhi biaya hidup di tempat rantau.
Perjuangan terbesar pun dimulai saat saya menyadari bahwa kemampuan bahasa
inggris seperti memiliki magnet yang kuat dengan setiap persyaratan beasiswa
S2, termasuk LPDP. Lebih tepatnya dengan istilah “TOEFL”. Akhirnya saya
memutuskan untuk mengumpulkan tabungan hasil mengajar les dan menyisihkan
sedikit uang beasiswa Bidikmisi untuk mendaftar les TOEFL. Malam-malam pun
dilalui dengan melewati setiap soal TOEFL dengan sebuah harapan dan doa yang
terus mengalir.
Tak terasa, semester 8
pun berakhir. 29 Juni 2015, Saya resmi menyelesaikan tugas akhir dan menyandang
gelar sarjana pendidikan pada sidang yudisium. Saya memutuskan untuk pulang ke
Cirebon dan mengabdi sebagai guru dan operator sekolah di sebuah Sekolah Dasar
Negeri di Desa. Namun, Saat itu saya masih bertekad ingin mendaftar beasiswa
LPDP. Meskipun tak jarang ada banyak perkataan yang terkadang mematahkan semangat
dan harapan. Masih teringat jelas perkataan yang seolah menjadi cambukan “Mahasiswa freshgraduate jangan harap mudah
untuk mendapatkan beasiswa S2, masih banyak orang di luar sana yang
persiapannya jauh lebih matang”. Bagi saya, ini adalah sebuah kesempatan,
siapapun boleh bermimpi dan memperjuangkan mimpinya. Akhirnya saya memberanikan
diri untuk mendaftar beasiswa LPDP sebelum wisuda dan bermodalkan SKL (Surat
Keterangan Lulus) dengan memilih jalur beasiswa afirmasi Bidikmisi batch II
2015.
Perjuangan tak semudah
membalikkan telapak tangan. Waktu yang terhitung menuju batas pendaftaran akhir
tanggal 24 Juli 2015 hanyalah tersisa 24 hari. Saya harus berjuang
menyelesaikan seluruh persyaratan administrasi. Pengorbanan terbesar adalah
saat harus menuntaskan TOEFL. Sebuah pilihan yang sulit saat seluruh
penyelenggara tes TOEFL menolak permohonan saya dengan alasan kuota yang sudah
penuh. Hingga di ujung keputusasaan, terdengar suara di ujung sana mengatakan
“masih tersisa 1 kursi di LPPM UNY dan jika berminat silahkan melakukan
pembayaran hari ini”. Bak sebuah angin segar yang juga sebuah kabar buruk. Saat
itu saya tidak memiliki uang untuk membayar tes TOEFL yang nominalnya hampir
70% dari uang beasiswa bulanan yang saya dapatkan. Qadarullah, Allah memberikan jalan melalui seseorang teman yang
berbaik hati meminjamkan uang untuk bisa mendaftar tes TOEFL. Saya percaya,
pertolongan Allah selalu ada bagi hamba-Nya yang mau berusaha.
Delapan Juli 2015, saya
memutuskan untuk berangkat sendiri ke Jogja tepat seminggu sebelum lebaran.
Bisa dibayangkan betapa mahalnya ongkos bis Cirebon-Jogja. Berbekal uang yang
seadanya akhirnya saya memutuskan untuk naik turun bus dua kali dengan
mengambil jalur Cirebon-Purwokerto lalu naik bus Purwokerto-Jogja demi
menghemat uang meskipun dengan berbagai resiko. Serangkaian proses menggapai
TOEFL bukanlah hal yang mudah, akhirnya setelah penantian panjang, tepat di 23
Juli sertifikat TOEFL saya baru keluar dengan skor yang memenuhi syarat beasiswa
afirmasi. Tepat di hari itu pula adalah H-1 pendaftaran beasiswa. Pukul 03.00
WIB dini hari di hari terakhir pendaftaran akun saya resmi terdaftar mengukuti
seleksi administrasi.
Berkat doa restu orang
tua, saya lolos seleksi administrasi dan berkesempatan mengikuti seleksi
substansi di Bandung. Sebuah perjuangan panjang pula perjalanan Cirebon menuju
Bandung yang pada akhirnya membawa saya bisa melewati setiap tahapan proses
seleksi. Bismillah, Lillahi ta’ala.
Sepulang dari Bandung adalah pelajaran ikhlas dan tawakkal. Segala ikhtiar
telah dilakukan saatnya bertawakkal mengharapkan yang terbaik. Hingga tak
terasa mulai berganti bulan, sempat terlupa apa kabar hasil tes LPDP?
10 September 2015
adalah hari bersejarah, salah satu kado terindah yang pernah Allah berikan.
Pada hari itu saya resmi menyandang gelar S.Pd, resmi menyelesaikan sebuah
kewajiban besar orang tua dan negara sebagai seorang penerima beasiswa
Bidikmisi. Bak mendapat rezeki durian runtuh. Tepat di tengah perjalanan pulang
setelah menghadiri prosesi wisuda, Allah kembali memberikan kejutan. Sebuah
pesan singkat bertuliskan pengirim “LPDP”. Serangkai kalimat tertulis di akun
pendaftaran “Selamat Anda LULUS seleksi wawancara”. Fabiayyi aala irobbikuma tukadzibaan. Maka nikmat Tuhan manakah
yang kamu dustakan?
Alhamdulillah, saat ini
saya sedang menempuh program Magister Pendidikan Dasar di UPI. Sebuah
perjalanan panjang seorang freshgraduate
yang mencoba untuk menaklukan rasa takut untuk mengambil kesempatan. Pepatah
bijak mengatakan bahwa keberuntungan adalah pertemuan antara kesempatan dan
kesiapan. Boleh jadi apa yang kita dapatkan di hari ini adalah hasil kebaikan
yang kita tanam di masa lalu. Bagi saya, LPDP adalah sebuah jalan yang membuka
kesempatan bagi mereka, para pemimpi yang bertekad untuk terus menjadi sang
pembelajar yang siap kembali untuk mengabdi bagi nusa dan bangsa. Terima kasih
LPDP ! Aku pasti Mengabdi !
Alhamdulillah, essay ini terpilih
sebagai juara 3 dalam lomba penulisan kisah awardee yang diselenggarakan oleh
kelurahan LPDP UPI :)